PERHADAPAN PENGURUS KAUM BAPAK SINODE GMIT PERIODE 2015-2019

KUPANG,www.sinodegmit.or.id,  Kendati telah hadir di lingkup jemaat dan klasis puluhan tahun sebelumnya, pengurus kategorial kaum bapak pada lingkup sinode GMIT, baru saja terbentuk dan memilih pengurus di tahun 2017 ini.

Melalui Musyawarah Pelayanan (Muspel) yang berlangsung pada awal bulan November di jemaat GMIT Paulus Kupang, kategorial ini memilih pengurus perdananya yang diketuai Roddialek Pollo, sekretaris Haris Oematan dan bendahara Albert Neno. Struktur pengurus terdiri dari 40 penasihat, 7 pengurus harian dan 80 pengurus bidang.

“Memang ini struktur gemuk, yang secara organisasi tidak efisien dan efektif tapi prinsip kami adalah bisa merangkul sebanyak mungkin orang, karena ini yang pertama. Kami yakin secara alamiah organisasi ini akan menjadi yang paling baik suatu saat. Sekarang banyak tapi suatu saat mungkin sisa 11 atau 13 orang. Jadi, diawal seperti ini biarlah kita sama-sama, 40 penasihat, 7 pengurus harian dan 80 pengurus bidang,” ungkap Rodiallek Pollo dalam sambutannya pada kebaktian perhadapan pengurus kaum bapak lingkup sinode GMIT periode 2015-2019 yang berlangsung di jemaat Kampung Baru-Penfui, Klasis Kupang Tengah, Minggu, 26/11-2017.

Ia juga menjelaskan bahwa masa kerja mereka yang relatif singkat hanya dua tahun akan segera dikebut dengan salah satu tugas utama yakni menyiapkan modul pendidikan politik warga GMIT. Karena itu ia mengharapkan partisipasi seluruh pengurus untuk menyukseskan program ini secepat mungkin guna menjawab kebutuhan pendidikan politik warga jelang perhelatan politik lokal maupun nasional.

“Banyak tugas diberikan kepada kami. Kita punya 2 tahun politik yang sangat panas. Karena itu kami ditugaskan untuk membantu satgas (satuan tugas) pendidikan politik warga. Januari kami akan mengadakan semiloka pendidikan politik yang hasilnya nanti kita akan punya modul-modul untuk pendidikan politik warga. Itu pekerjaan rumah kita yang pertama, jadi jangan makan puji berdiri hebat-hebat di sini tapi abis itu kita nol,” tandas Roddialek Pollo.

Menyambung kesediaan Pengurus Kaum Bapak, menyiapkan modul-modul pendidikan politik warga tersebut, Ketua Majelis Sinode GMIT Pdt. Dr. Mery Kolimon dalam suara gembalanya juga menegaskan pentingnya gereja mempersiapkan warganya berpartisipasi dalam politik dengan mengedepankan nilai-nilai Kristiani.

“Sampai sekarang kita tidak punya modul pendidikan politik bagi warga GMIT. Memang ada warga GMIT yang menjadi legiaslativ, birokrat, menjadi pemimpin-pemimpin daerah, tapi di mana ada ruang pendidikan nilai-nilai politik, di mana ada ruang bagi pendidikan teologi politik? Karena itu, kami titip ini menjadi agenda kaum bapak, kaum ibu dan pemuda GMIT bersama tim pastoral GMIT, supaya dua tahun ini kita pakai untuk menghasilkan bahan-bahan yang bisa menjadi acuan dalam rangka pendidikan politik warga. Sehingga kami tidak akan katakan kami utus orang ke sana (ranah politik, red.) tapi ketika orang hadir di sana sebagai warga GMIT ia membawa nilai-nilai gereja ke tempat itu,” kata Pdt. Mery.

Lantaran sejumlah pengurus kaum bapak pada periode ini diisi oleh politisi dan pejabat dari birokrasi dalam pemerintah baik kabupaten Kupang maupun Kota Kupang, maka pada kesempatan ini Ketua MS GMIT juga mengingatkan mereka  untuk tidak memanfaatkan gereja sebagai kendaraan politik.

“Tahun politik 2018 dan 2019 ada di depan kita. Kami berharap unit-unit pelayanan gereja tidak boleh menjadi kendaraan politik. Pendidikan politik, iya, tapi menjadi kendaraan politik, tidak. Mengapa begitu? Karena mereka yang menjadi calon, baik legislatif, ekskutif dan lain-lain adalah warga terbaik GMIT juga. Apabila kami melakukan keberpihakan pada figur dan paket tertentu itu bisa membawa perpecahan dalam gereja. Gereja harus merangkul semua. Gereja mesti melintasi semua partai dan paket-paket yang ada.  Perjuangan gereja adalah perjuangan nilai bukan figur apalagi partai,” tegas Pdt. Mery.

Selain itu ia juga menyinggung beberapa isu yang patut diberi perhatian oleh gereja diantaranya, isu kerusakan lingkungan, merosotnya pendidikan/sekolah-sekolah GMIT, kurang gizi dan gizi buruk yang menyebabkan bayi lahir mengalami stunting(ukuran tubuh kerdil/pendek) dan perpindahan warga GMIT ke denominasi lain.

Berhadapan dengan aneka tantangan yang dihadapi GMIT tersebut, Pdt. Mery meyakinkan para pengurus dan semua jemaat sebagaimana pesan khotbah yang disampaikan Pdt. Yahya Millu, dalam kebaktian tersebut bahwa Allah sedang menumbuhkan tunas-tunas baru. Ia bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi dunia. Karena itu setiap orang apa pun profesinya, dipanggil dan diutus untuk bekerja bersama Allah bagi kebaikan dunia ini.

Hadir juga pada kebaktian perhadapan ini, Walikota Kupang, Dr. Jefri Riwu Kore. Dalam sambutannya ia berharap kaum bapak GMIT dapat berkontribusi bagi gereja dan pembangunan kota, terutama menyukseskan program tanam pohon demi kota Kupang yang hijau dan sejuk.

Kaum Bapak GMIT juga telah menyepakati “Solideo Gloria” sebagai moto penggerak organisasi dengan harapan bahwa karya-karya yang akan mereka capai bukan untuk kemuliaan pribadi melainkan hanya untuk kemuliaan Tuhan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *