Sidang Majelis Sinode GMIT Ke-42 Usung Tema Spiritualitas Ugahari

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Minggu, 4-8/2-2018 Majelis Sinode (MS) Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) menggelar sidang tahunan.  Kebaktian pembukaan berlangsung di jemaat Betel Oesapa, klasis Kupang Tengah, dipimpin Pdt. Dr. Fredrik Doeka, dosen Fakultas Teologi, Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW)-Kupang.

Dalam khotbah yang didasarkan pada bacaan Injil Matius 6:11 dan dan I Kor. 8:13, Pdt. Doeka melontarkan otokritik terhadap sikap hidup sebagian pendeta saat ini yang menurutnya bertentangan dengan teladan Yesus Kristus.

“Bersyukur kalau para calon pendeta yang sudah menjadi pendeta hari ini menjadi orang yang kaya iman, kaya ilmu, dan kaya pengabdian. Tetapi menjadi persoalan manakala yang kita temukan adalah para pendeta kayak artis dan kayak borjuis, yang dicirikan oleh kepemilikan modal dan kelakuan yang terkait dengan kepemilikan tersebut,” kata Pdt. Doeka.

Menurutnya, sikap hidup yang materialistis itu mengakibatkan orientasi pendeta bukan lagi pada memberi diri untuk melayani jemaat melainkan menuntut fasilitas dari gereja untuk memenuhi rumah pastori dengan aneka keinginan pribadi seperti, mobil, TV, kulkas, AC, dan sebagainya. Demikian pula dengan diberlakukannya sistem sentaralisasi gaji pokok yang memastikan penghasilan pendeta setiap bulan membuat pendeta kadang mengabaikan aspek spiritualitas.

“Dahulu spiritualitas Yesus Kristus adalah: Tuhan PASTI, sementara gaji TIDAK PASTI; sekarang gaji PASTI, tetapi spiritualitas Yesus Kristus adalah Tuhan TIDAK PASTI. Ini persoalan serius dan menjadi tantangan kita bersama akhir-akhir ini,” ungkapnya.

Di lain pihak, ia mengapresiasi langkah-langkah konkrit yang telah dilakukan MS GMIT terkait pembenahan sekolah-sekolah GMIT dan kampanye tanam air sebagai bentuk tanggung jawab  GMIT melayani di dunia ini dan memelihara keseimbangan lingkungan hidup.

“Sebuah solusi untuk mengatasi persoalan dana telah dilakukan oleh MS GMIT melalui setoran 2% pendidikan. Kita dukung dan harapkan mekanisme penyaluran dana yang terkumpul ini sungguh-sungguh mengalir hingga ke kebanyakan sekolah milik GMIT yang hidup enggan, mati tak mau,” harapnya.

Terkait sub tema pelayanan 2018 yang menekankan sikap hidup ugahari dan pelestarian alam, Ketua MS GMIT dalam suara gembalanya menyinggung sejumlah persoalan sosial, ekonomi yang menjadi masalah serius di NTT antara lain: kemiskinan, rendahnya kualitas pendidikan, kesehatan dan kerusakan ekologis.

“Salah satu isu besar yang sedang dihadapi masyarakat dan pemerintah Nusa Tenggara Timur adalah isu ‘stunting’ atau kekerdilan, yaitu tinggi badan kebanyakan anak NTT yang saat lahir dan dalam pertumbuhan berada di bawah rata-rata. Hal ini karena banyak anak NTT mengalami gizi buruk sejak dalam kandungan ibunya. Keadaan ini kemudian berpengaruh pada kecerdasan dan kesehatan selama hidupnya. Dampak ikutan lain adalah sulit diputuskannya lingkaran kemiskinan, penyakit, pengrusakan lingkungan hidup, dan keterbelakangan lainnya. Dalam konteks yang demikian, GMIT berupaya agar pelayanannya memberi dampak pada penguatan daya spiritual yang berkorelasi dengan perbaikan kualitas hidup manusia dan alam yang dilayaninya,” ujar Pdt. Mery.

Sehubungan dengan persoalan-persoalan tersebut maka memasuki tahun politik 2018 ini, ia menegaskan pentingnya gereja memberi pendidikan politik kepada warga gereja agar sungguh-sungguh mempertimbangkan pemimpin yang akan dipilih, yaitu, pemimpin yang memberi perhatian pada pemberdayaan masyarakat dan kelestarian alam.

“Gereja perlu mendorong pertimbangan pemilihan kepala daerah yang berpihak kepada penguatan dan pemberdayaan masyarakat secara partisipatif dan yang berpihak pula pada kelestarian lingkungan hidup.  Hal-hal itu perlu menjadi perhatian kita selama persidangan ini, agar gereja menentukan sikap teologis yang jelas dan memberi tuntunan pastoral kepada umatnya,” jelas Pdt. Mery.

Usai kebaktian pembukaan, dilanjutkan dengan pembahasan sub tema sidang yang menghadirkan 4 pemateri, yakni: Pdt. Dr. Eben Nuban Timo, Drs. Johozua Yolwutu, Dirjen Pengembangan Kawasan Perdesaan pada Kementrian Desa PDT dan Transmigrasi, Dr. Diani Dethan-Ledo, Kabag HI Setda Prov. NTT, dan Torry Kuswardono, aktivis lingkungan dari LSM Pikul.

Persidangan selanjutnya berlangsung pada hari Senin, di kantor MS GMIT dengan agenda-agenda: Laporan pelaksanaan program dan anggaran MS, evaluasi dan tanggapan terhadap laporan, informasi Badan Pembantu Pelayanan berbadan hukum dan mitra, sidang komisi dan pleno komisi.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *