Jemaat Teriak Lapar, Gereja Beli Semen

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, “Orang belum lapar dan belum jam makan tetapi Tuhan Yesus sudah tanya murid-murid, di mana kita bisa beli roti. Ini berbanding terbalik dengan sikap Gereja. Orang sudah teriak lapar, kita masih beli semen dan besi beton.”

Demikian kritik Pdt. Yahya Millu, saat menyampaikan khotbah pada kegiatan Monitoring dan Evaluasi Vikaris GMIT, Selasa (6/3) di aula kantor Majelis Sinode GMIT.  Menurutnya, pola pelayanan gereja yang didominasi pembangunan fisik membuat gereja saat ini seolah-olah tuli terhadap teriakan orang-orang miskin.

Kritik Pdt. Yahya mengacu pada kisah Yesus memberi makan 5000 orang menurut Injil Yohanes 6. Kisah ini mengatakan bahwa sebelum waktu makan tiba, Yesus sudah terlebih dahulu bertanya kepada Filipus, di mana mereka bisa membeli roti untuk orang banyak. Namun Filipus menjawab mereka tidak punya cukup uang. Sementara Andreas, mengatakan ada 5 roti dan 2 ikan, namun apa artinya makanan sedikit itu bagi ribuan orang?

Menurut Pdt. Yahya, jawaban Filipus dan Andreas mewakili jawaban gereja masa kini terhadap aneka persoalan sosial dan ekonomi yang tengah dihadapi masyarakat.

“Kalau kita belajar dari cerita ini maka kita mesti bilang kepada Tuhan, kelangkaan uang dan sumber daya lainnya tidak boleh membatasi para murid untuk mengembangkan pelayaan-pelayanan terbaik bagi jemaat. Sumber daya boleh terbatas tapi kalau kita percaya pada Allah yang tidak terbatas maka dia mampu melakukan hal-hal terbaik untuk gereja-Nya. Fokus pada masalah membuat masalah terlihat besar dan Allah terlihat kecil, tetapi kalau fokus pada Allah, maka Allah terlihat besar dan masalah terlihat kecil.”

Monitoring dan Evaluasi Vikaris GMIT angkatan 2017 berlangsung selama 2 hari melibatkan 170 orang yang melayani di 45 klasis. Sebagian besar dari jumlah tersebut ditempatkan di 116  jemaat yang tanpa pendeta.

Ketiadaan pendeta di ratusan jemaat tersebut kata Wakil Sekretaris MS GMIT, Pdt. Marselintje Ay-Touselak menjadi tantangan bagi GMIT. Terutama kecenderungan perpindahan warga ke denominasi-denominasi kristen yang saat ini berjumlah 46 denominasi di NTT. Apalagi dengan munculnya Saksi Yehovah di mana-mana.

Ia mengharapkan para vikaris memanfaatkan waktu vikariat 1,5 tahun ini dengan belajar sungguh-sungguh di jemaat.

Berdasarkan monitoring dan evaluasi bersama para vikaris, Pdt. Dina Dethan-Penpada, Ketua UPP Pengembangan Personil mengatakan terdapat 4 tantangan yang paling mengemuka yakni: medan yang sulit, bahasa, resistensi tokoh-tokoh jemaat dan relasi vikaris dengan mentor.

“Ada vikaris yang tinggal serumah tapi saling blokir di media sosial. Ada juga yang tempat tinggalnya  jauh dari mentor sehingga komunikasi tidak lancar,” ungkap Pdt. Dina.

Mengatasi persoalan tersebut ia mengharapkan para mentor agar mengacu pada kurikulum dan panduan serta tahapan-tahapan evaluasi yang disepakati.  Juga senantiasa terbuka dalam menjalin relasi dengan vikaris. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *