CERITA DARI AFRIKA:

KONFERENSI MISI DAN PENGINJILAN SEDUNIA

DEWAN GEREJA-GEREJA SEDUNIA/WCC TAHUN 2018

Oleh: Mery Kolimon

Konferensi Misi dan Penginjilan Kedua di Benua Afrika

Pada tanggal 8-13 Maret 2018, Dewan Gereja Sedunia (WCC) menyelenggarakan konferensi misi sedunia. Konferensi ini merupakan event tetap untuk melakukan evaluasi dan pengembangan pemikiran terkait pelaksanaan misi dan penginjilan oleh gereja-gereja sedunia. Konferensi di Arusha ini merupakan konferensi ke-15 sejak konferensi pertama dilaksanakan di Edinburg, Skotlandia,Tahun 1910. Di konferensi Arusha ini, berkumpul 1024 peserta dari berbagai gereja anggota WCC dan badan-badan misi dari gereja-gereja anggota itu.

Yang menjadi tuan dan nyonya rumah kegiatan ini adalah Gereja Lutheran Injili di Tanzania (Evangelical Lutheran Church in Tanzania). Kegiatan diselenggarakan di Arusha, salah satu propinsi di negara yang terletak di Afrika Timur itu. Arusha berada di kaki gunung Kilimanjaro, yang merupakan gunung tertinggi di Afrika. Gereja-gereja di benua Afrika sangat bersukacita sebab sejak 1910, inilah kali kedua Afrika menjadi tuan dan nyonya rumah kegiatan. Konferensi pertama di Afrika terjadi pada tahun 1958.

Tema konferensi 2018 ini adalah “Moving in the Spirit: Called to Transforming Discipleship” (Berjalan dalam Roh: Dipanggil kepada Kemuridan yang Berubah dan Mengubah). Dalam konferensi ini, gereja-gereja sedunia memahami bahwa diri mereka adalah komunitas yang dipanggil untuk selalu ada dalam gerakan, berada dalam ziarah. Namun gerakan itu bukan sekedar gerak asal gerak, melainkan bergerak, melangkah, dan berjuang dalam tuntunan Roh Kudus untuk pembaharuan demi keadilan dan perdamaian (pilgrim of justice and peace). Dalam gerakannya itu. gereja menyadari dirinya sebagai persekutuan para murid yang dipanggil untuk menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti Yesus, Tuhan dan Gurunya.

Sepanjang konferensi ini, gereja dan badan-badan misi berusaha memahami bersama tema tersebut dalam konteks sekarang ini, di berbagai situasi dunia. Gereja-gereja yang datang dari berbagai tradisi yang sangat berbeda itu: Reformed, Orthodox, Katolik, Methodist, Anglican, Presbiterian, Injili, dan Karismatik belajar bersama memaknai identitas sebagai persekutuan murid yang dipanggil untuk berjalan bersama dalam Roh untuk berubah dan mengubah.

Empat Karakter

Konferensi di Arusha ini memiliki empat karakter. Pertama, konferensi ini bersifat ekumenes. Seperti konferensi-konferensi sebelumnya para peserta konferensi adalah gereja-gereja anggota WCC dan badan-badan misi mereka yang sangat beragam dalam latar belakang tradisi teologisnya. Pemilihan pembicara dan penanggap dalam konferensi ini sangat mempertimbangkan keragaman tersebut sehingga semua suara dari berbagai latar belakang tradisi, benua, dan kategorial usia, dapat didengar. Ada komitmen yang kuat untuk saling mendengarkan sungguh-sungguh baik saat pleno, diskusi-diskusi kelompok, termasuk dalam diskusi pemahaman Alkitab. Bahasa yang dipakai dalam konferensi ini adalah Bahasa Inggris, Perancis, dan Spanyol. Disediakan penerjemah dan alat yang bisa dipakai untuk mendengarkan terjemahan ketiga bahasa itu.

Seluruh peserta duduk secara berkelompok lima sampai delapan orang mengelilingi sebuah meja bundar. Di setiap meja itu ada fasilitator diskusi. Saya berkesempatan menjadi fasilitator pemahaman Alkitab sepanjang konferensi di Meja 68. Di meja itu ada sejumlah pimpinan gereja Orthodox. Dari diskusi kami di meja itu dan dari presentasi dan tanggapan-tanggapan mereka sepanjang persidangan, saya belajar mengenal lebih baik tradisi gereja itu. Para pemimpin gereja Orthodox itu sangat menekankan kedalaman pemahaman terhadap Alkitab dan prinsip-prinsip teologis yang harus dijaga gereja sepanjang masa. Namun kadang-kadang sulit mengatur mereka saat berbicara. Di diskusi kelompok kami, seringkali saya harus tegas mengatakan: “Maaf bapak, pendapat anda sangat penting tetapi harus diartikulasikan secara lebih ringkas agar kawan lain di meja ini dapat kesempatan berbicara”. Gereja Orthodox sampai hari ini belum menerima perempuan sebagai imam. Namun mereka menghargai kepemimpinan saya di meja itu. Saat kami berpisah, salah satu Metropolitan, yaitu pemimpin tertinggi gereja Orthodox memberikan saya sebuah tanda mata khusus.

Ciri kedua dari konferensi-konferensi ini adalah missioner dan injili. Hal itu terlihat dari materi-materi yang disampaikan, maupun ibadah-ibadah yang dikemas sangat indah. Sepanjang konferensi tema besar konferensi dibedah dalam tema harian. Tema hari pertama adalah “Berjalan Bersama: Merayakan dan Meratapi”. Tema hari Kedua dirumuskan “Mengikuti Yesus: Menjadi Murid”. Tema hari ketiga adalah “Menjadi Murid: Mengubah Dunia”. Tema hari keempat berbunyi “Mengubah Dunia: Memperlengkapi Para Murid”. Tema Hari Kelima dirumuskan “Murid yang Dilengkapi: Memeluk Salib”.

Ibadah-ibadah dalam konferensi berlangsung tiga kali sehari, yaitu pagi saat memulai kegiatan, siang sebelum makan, dan petang sebelum makan malam. Sebagai orang Indonesia, saya berbangga bahwa salah satu orang penting yang menyusun dan mengatur seluruh ibadah dalam konferensi ini adalah Pdt. Ester Widiatsih, dosen STT Jakarta, yang sekarang menjadi staf WCC untuk Bidang Liturgi. Dalam salah satu ibadah pagi, terkait tema keramah-tamahan (hospitalitas), Pdt. Ester meminta saya membawa tempat sirih, sirih pinang, dan selendang untuk memperagakan keramahtamahan dalam menyambut tamu di Timor. Jadi dalam salah satu ibadah pagi, saya dan salah satu kawan muda peserta dari Timor Leste memperagakan penyambutan tamu dalam tradisi kita, termasuk dengan cium hidung kepada dua kawan, masing-masing dari Swiss dan Brazil. Ciri ekuemenes konferensi terlihat juga dalam ibadah-ibadah, di mana warna tradisi berbagai denominasi tercermin dalam ibadah-ibadah itu. Salah satu pengalaman yang menyentuh adalah ketika mendengar pembacaan Alkitab dalam bahasa Arab seperti orang membaca Quran oleh ketua sinode gereja Koptik Mesir. Ya, bahasa Arab adalah juga bahasa pelayanan sejumlah gereja anggota PGI di Timur Tengah.

Ketiga, konferensi ini berciri Afrika. Afrika tidak sekedar menjadi tempat konferensi ini. Namun lebih dari itu Afrika menjadi konteks berteologi dan bermisiologi dalam konferensi ini. Saya belajar bahwa seringkali ketika menjadi tuan dan nyonya rumah sebuah kegiatan ekumenes, konsentrasi kita lebih kepada hal-hal logistik seperti urusan konsumsi dan akomodasi bagi para tamu. Di konferensi ini saya belajar bahwa sebuah konteks penyelenggaraan kegiatan gerejawi, harus juga menjadi konteks berteologi juga. Di konferensi ini, kawan-kawan teolog Afrika, perempuan dan laki-laki, tua dan muda, menampilkan pemikiran-pemikiran teologi mereka yang sangat kuat. Teologi kontekstual itu ditampilkan dalam lagu, tarian, drama-tari, lukisan, khotbah, dan presentasi di pleno, maupun di lokakarya-lokakarya. Afrika dengan segala keindahan dan kekayaannya, maupun kemiskinan dan kompleksitas permasalahannya dituturkan, dirayakan, diratapi, dan didoakan.

Salah satu isu yang menjadi keprihatinan bersama di konferensi ini adalah kekerasan terhadap perempuan. Semua peserta, baik perempuan maupun laki-laki diminta oleh panitia untuk tidak berjalan sendiri ke kota atau kampung di negeri itu. Ancaman kekerasan di jalan sangat nyata. Tiga orang kawan peserta berjalan kaki di Minggu sore untuk melihat-lihat kota Arusha. Salah satu dari mereka ditarik dengan paksa ke mobil orang yang hendak menculiknya. Dia berhasil melawan dan kedua kawannya menolong. Kawan itu memang tidak terluka serius secara fisik, namun mengalami trauma hebat akibat kejadian itu. Dalam ibadah Senin pagi, kami mengingat kawan itu dalam doa, dan semua perempuan lain yang menjadi korban kekerasan, baik di rumahnya maupun di ruang-ruang publik. Gerakan Kamis Hitam menjadi gerakan ekumenes bersama gereja-gereja sedunia melawan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Keempat, konferensi ini memberi ruang kepada kaum muda dan berkomitmen pada regenerasi. Hal ini terwujud misalnya melalui kehadiran para pemandu sidang dari berbagai latar belakang gereja. Di konferensi ini saya melihat bahwa kebanyakan pemandu sidang berasal dari benua Afrika. Dengan menjadi pemandu, orang-orang muda ini membantu melancarkan kegiatan konferensi sekaligus belajar dari diskursus ekumenes yang dibahas. Selain itu ada tradisi tetap untuk menyenggarakan kursus teologi ekumenes yang disebut GETI (Global Ecumenical Theological Institute). Latar belakang peserta GETI lebih beragam. Kali ini peserta GETI lebih dari 100 orang. Dari Indonesia, ada sekitar 5 orang teolog muda yang menjadi peserta GETI dan kemudian menjadi peserta konferensi. Perhatian pada mentoring dan regenerasi juga muncul dalam percakapan-percakapan di pleno. Pdt. Septemmy Lakawa, dari STT Jakarta, sebagai salah satu pembicara di pleno misalnya, berbicara tentang upaya regenerasi dan mentoring yang dilakukan di STT Jakarta untuk mempersiapkan komunitas murid yang berdaya untuk melakukan misi dan penginjilan.

Memeluk Salib (Embracing The Cross)

Konferensi hari terakhir berfokus pada tema “Menjadi Murid yg Dilengkapi: Memeluk Salib”. Pleno yang membedah tema hari terakhir ini menampilkan presentasi dari Patriarch Gereja Orthodox Syria yang berbagi tentang apa artinya memeluk salib dalam konteks mereka di Timur Tengah. Terinsiparasi dari perkataan Yesus, barang siapa yang mau mengikutNya harus menyangkal diri (bertobat), memikul salib, dan mengikut Yesus, maka bagi gereja Ortodoks Syria, hal itu berarti berbelas kasih dengan para korban kekerasan tentara Israel yang membunuh mati orang-orang Kristen dan warga lain di Timur Tengah: membangun tempat penampungan untuk anak-anak korban kekerasan, dan mengupayakan pemulihan bagi mereka. Dia juga menegaskan pentingnya bekerja sama dengan umat Muslim di sana yang berjuang bagi belas kasih dan keadilan.

Dr. Angelique Walker-Smith  dari Jaringan Pemberdayaan Ekumenis Perempuan Afrika Sedunia (PAWEEN) menegaskan bahwa salah satu tugas para murid adalah memeluk salib pengalaman perempuan Afrika, yang menjadi budak kaum kulit putih, dan yang menjadi korban kekerasan dalam keluarga dan masyarakat. Namun Tuhan mendengar suara mereka dan memberdayakn perempuan kulit hitam untuk menjadi agen misi keselamatan Allah.  Pdt. Roberto Swertch dari Brasil menegaskan memeluk salib dalam konteks mereka berarti memeluk salib kemiskinan. Dari latar belakangnya sebagai orang Kristen di Amerika Latin, dia berseru agar gereja tak boleh gagal untuk bertindak menjadi alat belas kasih Allah bagi manusia dalam solidaritas dengan penderitaan manusia. Nona Kathlyn Lohre dari Amerika Serikat berbagi apa artinya menjadi memikul salib dalam konteks prasangka dan kebencian dalam budaya dominan. Dalam konteks menguatnya rasisme dan kebencian terhadap yang agama yang berbeda (terutama Islam) di Amerika Serikat sekarang, tugas gereja, menurutnya, adalah berbagi cinta kasih dan keramahtamahan yang bersumber dari cinta kasih Allah Tritunggal.

Misi dari Pinggiran

Konferensi ini juga memberi tekanan yang kuat pada konsep “misi dari pinggiran” (mission from the margin). Tema itu telah muncul secara sangat kuat dalam dokumen misi dan penginjilan terbaru dari WCC, yaitu “Together Toward Life: Mission and Evangelism in Changing Landscape”. Dokumen itu diluncurkan pada saat persidangan WCC ke-10 di Busan Korea Selatan, tahun 2013. Dalam dokumen itu ditegaskan bahwa gereja-gereja sedunia perlu mengubah perpesktif mereka tentang kaum pinggiran: orang miskin, mereka yang hak-haknya dirampas, mereka yang tertindas dan tereksploitasi. Orang-orang marjinal itulah yang paling tahu tentang hidup dan pengalaman mereka. Merekalah yang harus menjadi agen dari perjuangan untuk menolak diskriminasi dan eksploitasi, pemiskinan dan pembodohan. Kaum miskin dan tertindas janganlah diperlakukan sebagai obyek dalam pelayanan gereja, melainkan melayanilah bersama dengan mereka. Kaum marjinal itu bisa jadi adalah para pekerja anak, kaum penyandang disabilitas, korban kekerasan sosial dan politik, para penyintas perdagangan orang, dan kelompok rentan lainnya.

Dalam konferensi ini, konsep misi dari pinggiran itu dielaborasi dari berbagai pengalaman dan konteks masyarakat pinggiran: masyarakat adat yang terancam di tanahnya sendiri, para pengungsi dan kaum migran, perempuan kulit hitam dan pengalaman kekerasan yang mereka alami, kaum miskin dan tertindas dalam berbagai konteks. Salah satu pleno dalam konferensi ini menegaskan bahwa hidup Yesus membuktikan Allah bergerak dari pinggiran. Karena itu gereja juga mesti berada di sana, terlibat dalam perjuangan kaum pinggiran untuk harkat, hak, dan  martabat mereka yang menderita dan tereksploitasi. Bagi saya gereja-gereja di Indonesia perlu lebih memberi perhatian dan membangun kapasitas untuk terlibat bersama Allah dalam kehidupan kaum pinggiran.

Etos Konsensus

Hal lain yang saya pelajari adalah tentang etos konsensus. Latar belakang peserta WCC yang beragam tradisi gerejanya membuat sebuah etika konsensus menjadi sangat penting. Ketika WCC bersidang dan mengambil keputusan, mekanismenya bukan tentang kalah dan menang, tetapi bersama mencari kehendak Tuhan. Jika semua peserta setuju tentang suatu hal, maka keputusan akan diambil . Namun jika keputusan tidak bisa diambil, ruang diskusi dibuka lebih luas lagi. Juga ruang untuk berdoa dibuka agar seluruh peserta belajar mencari kehendak Tuhan bersama. Jika akhirnya keputusan pun tidak dapat diambil, keputusan akan ditunda dalam persidangan berikut. Dalam sesi-sesi pengambilan keputusan di konferensi ini, terutama tentang naskah rekomendasi konferensi digunakan 2 kartu. Warna oranye akan diangkat peserta jika setuju dengan tawaran rumusan kesepakatan. Warna biru menunjukkan perlu diskusi lanjutan sebab ada hal-hal yang patut dipertimbangkan bersama.

Bagi saya, ini adalah proses pengambilan keputusan yang luar biasa. Ini mestinya menjadi sebuah etika bersidang yang kita usahakan dan rawat bersama di GMIT. Mestinya dalam proses-proses persidangan, identitas sebagai gereja diwujudkan. Semua yang pulang dari satu persidangan tidak harus merasa menang atau kalah, melainkan sebagai murid-murid Kristus yang terus berusaha memahami kehendak Kristus dalam penataan diri sebagai gereja dan dalam menata misi di tengah-tengah dunia.

Jalan Kemuridan

Tema-tema percakapan dan seluruh proses begitu penting untuk disimak. Saya selalu berpendapat bahwa ketika seseorang hadir dalam suatu kegiatan ekuemenis, mestinya kehadiran itu tidak hanya untuk belajar, tetapi juga menyumbang yang terbaik untuk pemahaman bersama. Maka saya selalu berusaha membuat catatan, baik untuk merekam memori percakapan, maupun untuk merumuskan pikiran-pikiranku yang saya sampaikan dalam berbagai kesempatan.

Karena itu dua hari terakhir di konferensi adalah hari yang sangat berat bagiku. Di tengah upaya terlibat dalam seluruh proses konferensi, saya mendapat kabar dari sepupuku, Pak Erik Sabuna, bahwa ayahnya, paman saya, Pdt. Emr. Yesaya Sabuna berada dalam keadaan kritis karena jatuh dan sedang dirawat di rumah sakit. Saya berdoa dan menangis meminta kepada Tuhan agar Om Yes dapat dipulihkan. Saya ingat proses belajar bersama kami selama empat tahun untuk perubahan ke Tata GMIT 2010. Beliau bukan saja sepupu ibuku, tetapi juga guru dan mentor yang turut membentukku hingga ke titik ini. Dengan WA, saya bisa terus mendapatkan kabar perkembangan kabar Pdt. Yes. Di tengah-tengah semua itu, kabar duka yang sangat mengejutkan datang dari Kupang: Pdt. Ari Kalemudji meninggal dunia. Saya berkata pada diriku, dengan Pdt. Yes saya bisa tawar menawar dengan Tuhan, tetapi tentang sahabatku sepelayanan di kampus, tentang Pdt. Ari, keputusanNya mutlak. Dan saya tunduk, diam, pasrah, menerima.

Kedua sahabatku telah memeluk salib itu. Hidup keduanya menjadi tanda dari murid yang dalam segala keterbatasan dan talenta yang dikaruniakan, memberi diri digerakkan Roh untuk tugas pelayanan dalam gereja. Selamat jalan Kaka Ari. Di jalan pelayanan bersama itu kita pernah tertawa bersama, merayakan hal-hal kecil yang membuat kita bahagia. Terima kasih telah gelisah bersama, menangis, dan bersuara bersama ketika kita mengalami ketidakadilan dan mencari kebenaran. Terima kasih menyempatkan diri bertemuku pagi itu sebelum keberangkatanku ke Eropa dan Afrika kali ini. Di konferensi ini, aku bertemu “guru” kita, Stephen Bevans. Kuingat pesanmu kala terpilih sebagai ketua sinode: “Jangan pernah bergeser dari sikap teologi sintesismu. Tetap teguh dengan teologi dialogismu, Ina. Itulah yang akan memampukanmu menjaga keseimbangan dan memetik kekayaan dari suara yang berbeda dalam gereja kita yang sangat majemuk latar belakangnya ini”. Terima kasih kakak, kau mengenalku dengan baik, bahkan posisi teologisku. Hormat diberi, Senior.

Selamat jalan ke keabadian Om Yes, guru dan mentorku. Aku beruntung belajar sebagai sekretaris dari salah satu sekretaris terbaik yang pernah dimiliki GMIT. Pengalaman bekerja sebagai tim PTTG 2007-2011 bersamamu memberiku kesempatan untuk mengenal dan belajar darimu sebagai paman, guru, teolog, dan pemimpin gereja. Kesederhanaanmu, penghargaanmu terhadap yang lebih muda, keteguhanmu terhadap prinsip-prinsip bergereja, keindahan orasimu yang sederhana namun selalu padat dan jelas mengungkapkan sikap teologismu dan prinsip-prinsip bergereja kita, kedisiplinanmu dalam bekerja, caramu mengelola konflik, mengajarkanku banyak sekali hal berharga.

Ziarah iman demi keadilan dan perdamaian masih akan terus berlanjut. Guruh dan debat wacana teologis, gosip dan konflik, intrik dan iritasi, kecewa dan marah, iman dan harapan, kasih dan persahabatan,tari dan tawa, masih akan terus ada di jalan itu. Namun visi dan komitmen sebagai murid yang digerakkan Roh Kudus untuk nilai-nilai Kerajaan Allah harus tetap teguh di jalan kemuridan itu.

Qatar Airways, 15 Maret 2018

(Dalam perjalanan pulang: Doha-Denpasar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *