Mendiang Pdt. Emr. Yesaya Sabuna, Sekretaris Terbaik GMIT dimakamkan

Kupang, www.sinodegmit.or.id, “Pdt. Yes Sabuna adalah salah satu sekretaris terbaik yang pernah dimiliki GMIT. Sepanjang pelayanannya hamba Tuhan ini telah menorehkan tinta sejarah dalam kehidupan bergereja kita. Dari tangannya lahirlah  dokumen-dokumen gereja yang penting yang hingga kini menjadi rujukan hidup bergereja kita.”

Demikian pernyataan Ketua Majelis Sinode (MS) GMIT, Pdt. Mery Kolimon saat menyampaikan suara gembala pada kebaktian pemakaman mendiang Pdt. Yesaya Sabuna, Jumat, (16/3). Mengenang pengalaman bersama di Panitia Tetap Tata GMIT (PTTG) periode 2007-2011 yang lalu, Ketua MS GMIT mengisahkan beberapa teladan hidup mendiang yang patut diwariskan bagi keluarga dan para pelayan di GMIT.

“Kesederhaaannya, penghargaannya terhadap yang lebih muda keteguhannya pada prinsip-prinsip bergereja, kedisiplinan dalam bekerja, caranya mengelola konflik dan keindahan orasinya yang sederhana namun selalu padat dan jelas mengungkapkan sikap teologisnya.”

Pdt. Emr. Mes Beeh, yang memimpin kebaktian pemakaman dalam khotbahnya juga menyinggung kenangan persahabatannya yang akrab bersama mendiang baik selama study maupun di kantor sinode GMIT.

Menurutnya, sosok sungguh-sungguh meneladani Tuhan Yesus melalui sikap hidupnya yang ramah, rendah hati dan pandai bersahabat. Sikap itu bahkan berdampak positif dalam aneka konflik yang ditanganinya.

“Sosok Bu Yes yang pandai bersahabat bukan hanya meredam banyak konflik tapi juga menjadi metode menyelesaikan konflik. Pendekatan sahabat tidak mencari ini salah atau itu benar, ini dihukum itu dibebaskan, melainkan mampu menyelesaikan konflik secara internal tanpa perlu dibesar-besarkan,” tutur Pdt. Mes.

Penghargaan yang tinggi juga disampaikan lurah Nefonaek, Titus Ratuarat. Mengutip pernyataan mantan presiden Amerika Serikat, Bill Clinton, ia mengatakan, “Orang yang sudah mati dan bagi orang masih hidup tidak mengingat-ingatnya lagi berarti dia benar-benar mati.” Ini berarti apabila seluruh jemaat GMIT di Sumbawa, Kota Kupang, di Sinode GMIT dan lain-lain sudah melupakan beliau maka beliau telah benar-benar mati. Namun apabila kita masih mengingat karya almarhum maka sesungguhnya beliau tidak mati, ia hanya bepergian sebentar.”

Usai kebaktian pemakaman di jemaat Talitakumi Pasir Panjang-Kupang, jenasah dibawa ke kantor MS GMIT untuk disemayamkan sementara sebelum dimakamkan di pekuburan umum Fatukoa. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *