Roh Kudus Memberdayakan Untuk Bersaksi Melalui Berbagai Bahasa

Khotbah Pentakosta

Kisah Para Rasul 2:1-13

(Pdt. Jahja A. Millu)

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Sesuai tema di atas, maka renungan ini dibagi menjadi 2 kategori besar. Pertama, tentang Roh Kudus yang memberdayakan dan kedua adalah bersaksi melalui berbagai bahasa.

Roh Kudus Memberdayakan

  • Pertanyaan pokok bagian ini ialah mengapa para murid memerlukan pemberdayaan Roh Kudus? Jawabannya terkait erat dengan latar belakang para murid itu sendiri.
  • Alkitab memberitahu kepada kita dengan gamblang kelemahan karakter para murid. Petrus adalah penyangkal. Tomas amat skeptis. Semua murid melarikan diri saat Yesus menjalani via dolorosa. Dan masih banyak lagi kelemahan mereka saat bersama Yesus. Mereka bukanlah orang yang kompeten dan kredibel untuk menjalankan tugas pemberitaan Injil. Amanat Agung terlalu berharga untuk diletakkan di atas pundak orang-orang dengan komitmen dan integritas seperti ini.
  • Asal usul mereka selaku orang Galilea juga meragukan banyak pihak: “Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea?” (2:7). Kaum Yahudi kosmopolitan Yerusalem menganggap warga Galilea sebagai tidak berpendidikan dan secara budaya terbelakang. Ada prasangka etnis yang membatasi mereka untuk berkarya (bnd. Yoh. 1:46; 7:52).
  • Tapi selaku Pencipta, Yesus tahu bahwa manusia bisa berubah ke arah kebaikan. Hanya setan yang tak bisa berubah, namun manusia bisa. Itu sebabnya Ia tetap mempercayakan Injil kepada mereka yang rapuh ini. Seorang penulis mengatakan: “Melalui murid-murid yang compang camping inilah, Allah mendirikan gereja-Nya yang tidak pernah berhenti bertumbuh selama 21 abad.”
  • Yesus memahami kerapuhan para murid, namun Ia tetap menggunakan mereka untuk menjadi alat Injilnya. Pilihan ini tentu amat beresiko. Kerapuhan para murid bisa menggagalkan pemberitaan Injil. Namun di sini kita belajar tentang anugerah. Roh Kudus diberikan bukan untuk menyingkirkan orang-orang rapuh dari pemberitaan Injil. Justru sebaliknya, untuk memberdayakan mereka.
  • Pencurahan Roh Kudus mematahkan stereotype bahwa orang-orang lemah dan rapuh tak bisa menjadi pembawa Injil Kristus. Yesus berjanji bahwa Roh Kudus akan menjadi “pembela” atau “penolong” dalam pemuridan kita. Itu sebabnya semua orang percaya layak untuk pemberitaan Injil, bila bersandar pada kuasa tranformatif Roh Kudus untuk menjadi saksi. Tidak ada hal besar yang bisa dilakukan Gereja perdana tanpa bimbingan Roh. Gereja mula-mula – juga gereja masa kini – adalah komunitas yang dipandu oleh Roh.
  • Hasil pemberdayaan Roh Kudus ini sungguh luar biasa. Petrus menjalani pelayanannya mulai dari Yerusalem hingga kota Roma yang berjarak 2800 km. Tomas melayani dari Yerusalem hingga India yang berjarak 4500 km. Dan bukan hanya itu. Mereka juga rela menyerahkan nyawa demi pemberitaan Injil. Roh Kudus menolong mereka untuk mengerti bahwa mandat pemberitaan Injil lebih berharga dari nyawa mereka. Roh Kudus melahirkan iman bahwa “Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Mat 10:39).

Keajaiban Polilinguistik

  • Menurut bacaan ini, tanpa diduga dan tiba-tiba, semua murid yang berkumpul bersama dipenuhi dengan Roh Kudus dan mulai berbicara dalam bahasa asing. Semua orang yang berasal dari berbagai penjuru bumi heran dan bertanya-tanya, bagaimana orang-orang Galilea ini dapat berbicara dalam bahasa mereka sendiri?
  • Mereka heran sebab orang-orang Galilea umumnya berbicara dengan bahasa Aram yang kasar (Markus 14:70) dan mungkin bahasa Yunani yang kasar juga. Namun tiba-tiba mereka menunjukkan kekuatan linguistik yang luar biasa.
  • Lukas dengan sengaja menuliskan keragaman bahasa dan bangsa ini untuk menujukkan kesan universalitas peristiwa Pentakosta. Terlepas dari jumlah bahasa yang diucapkan dan banyaknya bangsa yang disebutkan, gagasan yang ingin disampaikan Lukas ialah bahwa Injil akan dikomunikasikan kepada semua bangsa.
  • Pentakosta menggunakan bahasa sebagai titik tolak untuk menjangkau perbedaan bahasa dan etnis. Kisah ingin menggambarkan kekuatan Pentakosta terhadap aspek-aspek utama di balik bahasa yakni kepercayaan, norma-norma, world view, dan jaringan-jaringan sosialnya. Dengan menjembatani aspek-aspek tsb, Pentakosta memberi solusi bagi keragaman

Implikasi

  • Bagi Internal Gereja. Pencurahan Roh Kudus penting bagi gereja untuk menjalani kehidupannya sebagai persekutuan multikultur. Gereja terdiri dari berbagai suku bangsa dan budaya, tapi melalui Roh Kudus semua itu dipandang sebagai keragaman yang saling memperkaya. Roh Kudus tidak bermaksud untuk melenyapkan perbedaan budaya dan membentuk gereja yang monolitik dalam budaya. Justru sebaliknya, Pentakosta merupakan perayaan warisan multikultural dan penebusan multibahasa. Kita melihat keragaman sebagai perwujudan dari ‘pelbagai ragam hikmat Allah’ (Efesus 3:10), dan bukan keragaman yang mengarah ke pemisahan, prasangka dan rasa sakit.
  • Bagi gereja, multikulturalisme bukan lagi sesuatu yang negatif dan memecah belah! Sebaliknya, melalui Roh Allah, multikulturalisme sekarang adalah anugerah bagi gereja, dengan membangun sebuah komunitas di mana tidak ada orang Yahudi, tidak ada Yunani, tidak ada tuan, tidak ada hamba, tidak ada hitam atau putih, tidak ada laki-laki atau perempuan, tidak ada yang kaya, tidak ada yang miskin. Tetapi Kristus adalah semua dan dalam semua (bnd. Kol. 3:11). Dan di mana Roh Allah bertiup, Ia membawa persatuan, perdamaian dan cinta.
  • Bagi Eksternal Gereja. Penghargaan terhadap keragaman yang dimulai sejak Pentakosta terus menjadi isu utama dalam narasi Kisah Para Rasul selanjutnya. Dan di Antiokhia, dalam gereja yang penuh keragaman itulah, untuk pertama kalinya orang percaya disebut Kristen (11:26). Itu artinya sejak awal istilah kristen tidaklah dimaksudkan untuk suatu kelompok budaya tertentu, tapi bersifat universal dan terbuka bagi segala suku bangsa. Istilah Kristen digunakan untuk menggambarkan orang percaya dalam keragaman yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hal ini sesuai dengan Amanat Agung itu sendiri, di mana Yesus Kristus memerintahkan gereja untuk memuridkan semua ethnoi, semua “kelompok orang” di dunia (Matius 28:19). Oleh karena itu, istilah “Kristen” lahir sebagai kesaksian yang kuat untuk rekonsiliasi individu, etnis, budaya dan agama di dalam Kristus.
  • Pentakosta yang mencakup berbagai bangsa bermaksud merobohkan perbedaan status kerohanian yang memisahkan Yahudi dari non Yahudi. Yudaisme memandang dirinya superior sebagai bangsa pilihan dan bangsa lain sebagai kafir. Karenanya yang superior boleh menghina yang inferior. Superior boleh membunuh yang inferior dengan alasan keagamaan. Pentakosta sebagai hari lahir gereja menghendaki adanya persatuan dari berbagai kelompok agama dan bangsa dengan hak dan status sosial yang setara di hadapan Tuhan dan dalam masyarakat. Pentakosta sebagai hari lahir gereja, ingin menghasilkan suatu komunitas dimana Allah membawa semua orang bersama-sama untuk mengubah permusuhan akibat beda kultur, beda agama dll.
  • Perayaan Pentakosta kiranya memberikan sumbangan terhadap masalah kerawanan sosial antar etnis, antar agama. Pentakosta membantu kita melihat orang dari latar belakang budaya dan agama yang beragam sebagai hadiah Allah, bukan duri dalam daging. Dia memberikan wawasan yang sangat berharga dan jalan untuk membantu komunitas Kristen mengidentifikasi diri selaku tubuh Kristus yang multikultur, serta menjadi agen pendamai dalam masyarakat yang beragam. Kisah memberi pelajaran berharga bagi kita bahwa Injil berhasil menembus berbagai sekat kultur dan agama, bukan semata-mata oleh khotbah gereja. Injil tersebar terutama oleh karya para saksi selaku agen damai, yang dengan petolongan Roh Kudus melampui berbagai sekat dalam masyarakat.
  • Narasi Pentakosta menunjukkan kepada kita bahwa konsekuensi langsung dari karunia Roh adalah lahirnya gereja sebagai sebuah komunitas damai, yang melintasi batas-batas agama, sosial-ekonomi dan linguistik. Mengingat disintegrasi kultur dan agama yang menyakitkan di Indonesia akhir-akhir, gereja mesti terus memohon kepada Roh Kudus untuk mengajarkannya lagi bagaimana menerima karunia rekonsiliasi. Hanya dengan cara itu, gereja akan menjadi saksi publik yang kuat dalam masyarakat multikultur. Amin!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *