Kompastani GMIT Latih 50 Penatua dan Koster

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Usai 3 kali melatih para pendeta menekuni pertanian hortikultura sebagai bagian dari pelayanan gereja, Komunitas Pendeta Suka Tani (Kompastani) GMIT terus melebarkan jaringannya dengan menggandeng para penatua, diaken dan koster untuk dilatih menjadi petani profesional.

Pelatihan Kompastani IV ini dilaksanakan pada Rabu, (5/9) pukul 10.00 wita bertempat di Sekolah Lapangan Nekamese, Kupang Barat melibatkan 50 peserta dari 10 klasis.

Pdt. Dr. John Campbell-Nelson, yang memimpin ibadah pembukaan dalam khotbahnya mengatakan sesuai kesaksian kitab Kejadian, nama manusia mencerminkan dari mana dia datang. Adam datang dari adamah, (manusia datang dari tanah). Ini mencerminkan ikatan yang tidak bisa dipisahkan antara manusia dan tanah. Tugas utama manusia menurut rencana penciptaan Tuhan Allah adalah merawat, dan memelihara bumi. Bukan menjadi semacam hama kutu loncat.

“Kalau ulat atau serangga bikin rusak kita sebut itu hama atau wabah. Bagaimana kalau manusia yang bikin rusak bumi? Jangan sampai manusia sudah menjadi hama di bumi ini. Tapi sebetulnya hama masih baik, ‘kan dia buat apa yang alami bagi dia. Kutu loncat memang kodratnya adalah meloncat dari tanaman ke tanaman, isap makanan dan dia hidup. Dia hanya menjalani kodratnya supaya dia hidup. Tapi kodrat manusia bukan untuk merusak. Manusia diciptakan untuk merawat, memelihara dan mengembangkan bumi, bukan untuk jadi kutu loncat di atas bumi,” tutur Pdt. John.

Ketua Badan Pemberdayaan Aset dan Pemgembangan Ekonomi, Pdt. Yaksih Nubantimo, yang mewakili Majelis Sinode GMIT saat membuka kegiatan ini mengatakan bahwa pelayanan gereja tidak semata-mata di dalam gedung gereja melainkan dimulai dari sumber pertama Tuhan memberi kehidupan yakni tanah atau kebun. Karena itu sangatlah tepat pelatihan ini bertema, “Bertemu Tuhan di Kebun”. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Sekolah Lapangan Nekamese yang beberapa kali menyediakan lokasinya sebagai tempat pelatihan dan juga PT. Panah Merah yang turut berperan dalam pendampingan bagi para petani binaan Kompastani.

Para pemateri pelatihan ini terdiri dari: Pdt. Dr. John Campbell-Nelson, Pdt. Dr. Mery Kolimon, Dr. Diani Ledoh, Benyamin Lola, Ir. Fary Francis, Dirjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR, Robert Fanggidae, Staf PT. Panah Merah dan Tim Kompastani.

Pdt. Markus Leunupun selaku Sekretaris Kompastani berharap dengan semakin meluasnya peserta pelatihan baik pendeta maupun presbiter non pendeta, upaya-upaya pemberdayaan ekonomi di sektor pertanian hortikultura berdampak bagi peningkatan kesejahteraan warga gereja. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *