Ribuan Anggota Persekutuan Doa GMIT Rayakan HUT GKR

SOE-TTS, www.sinodegmit.or.id, Sekitar 7000 orang anggota Persekutuan Doa (PD) GMIT yang berasal dari 724 PD yang tersebar di beberapa Kabupaten di daratan Timor memadati GOR Nekamese Soe merayakan 53 tahun Gerakan Kebangunan Rohani (GKR). Kegiatan akbar ini berlangsung sejak 22-26 September 2018.

GKR adalah peringatan peristiwa Gerakan Roh yang terjadi pada 26 September 1965 atau 4 hari sebelum peristiwa G30S PKI. Peristiwa ini ditandai dengan munculnya tim-tim doa yang mengaku mendapat karunia Roh untuk memberitakan Injil, melakukan mujizat penyembuhan dan memusnakan jimat-jimat. (uraian peristiwa ini bisa dibaca di “Benih Yang Tumbuh 11, hal. 194-218).

Selama 5 hari perayaan ini diisi dengan aneka kegiatan seperti pawai, seminar, wisata rohani dan Kebaktian Penyegaran Iman (KPI) oleh ‘hamba-hamba Tuhan’ dari Surabaya, Semarang, Jakarta, Malaysia, Australia dan Singapura bertempat di di jemaat GMIT Maranatha Soe dan Jemaat GMIT Efata Soe. Sementara kebaktian penutupan berlangsung pada Rabu, (26/9) dipimpin Pdt. Mery Kolimon, Ketua Majelis Sinode GMIT di GOR Nekamese.

Merujuk pada nubuatan nabi Yoel, Pdt. Mery dalam khotbahnya menarik kesejajaran antara konteks sosial, politik, dan ekonomi yang dihadapi Yoel dengan konteks Timor pada tahun 1960-an. Umat Israel pada zaman Yoel, kata Pdt. Mery, menghadapi musibah kekeringan dan kelaparan yang hebat. Pada saat yang sama mereka juga menghadapi ancaman perang dari negara tetangga. Di tengah situasi ketakberdayaan itu, Nabi Yoel menyerukan kepada para pemimpin dan seluruh umat berkumpul seraya menyatakan pertobatan kembali kepada Tuhan. (1:14 ; 2:15-16). Dan waktu itu, Yoel bernubuat tentang pencurahan Roh kepada semua manusia (2:28-29). Penggenapan nubuat itu terjadi pada peristiwa Pentakosta di Yerusalem (Kisah Para Rasul 2). Dan, pencurahan Roh itu tidak berhenti di situ melainkan terjadi juga di Timor pada tahun 1965.

“Hari ini ketika kita merayakan 53 tahun peristiwa Gerakan Roh di Soe, kitab boleh bersyukur dan mengaku bahwa peristiwa nubuatan itu tidak berhenti pada ribuan tahun lalu tetapi juga terjadi di Timor Tengah Selatan. Di saat terjadi kelaparan, kekeringan, kerusakan sosial dan ketakutan karena komunis, Tuhan bekerja dan memberi kekuatan kepada umat-Nya menghadapi semua itu,” ujar Pdt. Mery.

Terkait klaim terhadap karunia-karunia Roh yang dimiliki orang tertentu, Ketua MS GMIT mengingatkan semua anggota PD agar waspada terhadap ‘hamba-hamba Tuhan’ yang mengaku mendapat petunjuk Tuhan padahal klaim itu hanyalah modus perdagangan orang seperti kejadian yang menimpa salah satu korban asal Amanatun.

“Kami tanya korban, kenapa mama pergi meninggalkan suami dan anak-anak? Dan ia jawab, ada orang yang datang ke rumah dan bilang Tuhan kasi petunjuk bahwa ada orang di rumah ini yang mau ke Malaysia. Tuhan memang pakai hamba-hamba Tuhan secara luar biasa tapi hati-hati, teliti semua berita yang Tuhan sampaikan jangan sampai kita pakai nama Tuhan untuk hal-hal yang sia-sia,” pesan Pdt. Mery.

Usai Kebaktian penutupan, panitia juga menyerahkan buku “Pencurahan Roh Kudus & Api Injil di Kota Soe 1965 yang ditulis oleh Prof. Daniel I. S. Talan, Ph.D kepada Ketua MS GMIT. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *