12 Sekolah GMIT di Rote Terima Bantuan Pendidikan

Ketua BPP Pendidikan Sinode GMIT Pdt. Elisa Maplani menyerahkan bantuan untuk sekolah GMIT di Rote-Ndao yang diterima Ketua Pengurus Yapenkris Sasando, Adi Haning, dan Pembina, Pdt. Beny Zakarias, Senin, (1/10).

BA’A-ROTE, www.sinodegmit.or.id, 12 Sekolah GMIT di Rote, di bawah naungan Yayasan Pendidikan Kristen (Yapenkris) Sasando menerima bantuan dari Majelis Sinode GMIT sebesar Rp. 85.500.000,- (Delapan Puluh Empat Juta Lima Ratus Ribu Rupiah). Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Ketua BPP Pendidikan Sinode GMIT, Pdt. Elisa Maplani, Senin (1/10) pukul 09.00 di SMA Kristen Siloam Ba’a.

12 sekolah tersebut adalah:  SD GMIT Mbueain, SD GMIT Netenaen, SD GMIT Baudale, SD GMIT Hutu, SD GMIT Oetutulu, SD GMIT Maku, SD GMIT Noandale, SD GMIT Oemaulain, SD GMIT Oebela, SD GMIT Oesamboka, SD GMIT Inggufao dan SMA Kristen Siloam Baa.

2 SD GMIT yakni Netenaen dan Mbueain masing-masing mendapat dana 15 juta rupiah untuk rehab ringan gedung, sedangkan sisanya menerima masing-masing 2,5 juta rupiah untuk proses akreditasi. Sementara SMA Kristen Siloam mendapat bantuan 5 juta rupiah. Selain untuk mengurus aktreditasi, BPP Pendidikan juga menyerahkan bantuan berupa 2 unit laptop dan biaya pengurusan seritifikat kepada 3 sekolah masing-masing 5 juta rupiah.

“Kami berharap dana ini bisa digunakan secara baik sesuai format petunjuk teknis dari MS GMIT,” ujar Pdt. Elisa di hadapan pengurus Yapenkris dan para kepala sekolah yang hadir.

Sekretaris pengurus Yapenkris Sasando, Kristian Isak, menyampaikan terima kasih atas perhatian yang diberikan sekaligus meminta MS GMIT untuk memperkuat kemitraan dengan pemerintah daerah guna mendukung sekolah-sekolah swasta melalui penempatan tenaga guru di sekolah yang masih kekurangan.

Foto: Satu dari 3 ruang kelas SD GMIT Netenaen yang rusak berat.

Ucapan senada juga disampaikan kepala sekolah SD GMIT Netenain, Yakobus Sogen. “Terima kasih kepada Sinode GMIT yang telah memberi perhatian kepada kami. Untuk sekolah kami, ada 3 ruang yang rusak sehingga kami pindahkan anak-anak ke ruang yang lain karena takut roboh,” kata Sogen.

Selasa, (2/10) kami menyambangi SD GMIT Netenain untuk melihat langsung kondisi fisik gedung. 1 unit gedung dengan 3 ruang yang disebut Sogen dibangun tahun 1989 dan direnovasi atapnya pada 2008, memang dalam kondisi rusak berat. Fondasi dan tembok gedung retak di beberapa sisi. Guna kelanjutan proses belajar mengajar, para siswa kelas 1 dan 2 dipindahkan ke ruang aula yang disekat menjadi dua. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *