Bukit Mas, Pasir Tiga Warna dan Pantai Air Panas (bagian I)

Bukit Mas, Pasir Tiga Warna dan Pantai Air Panas (bagian I)

(Cerita Perjalanan Pelayanan 5 hari di Pulau Pantar)

Pantar-Alor, www.sinodegmit.or.id, Pesona pulau-pulau di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur seolah tidak ada habisnya. Sepanjang tahun 2018 sudah empat kali saya kunjungi kabupaten ini, tanpa bosan-bosan.

Sekali diajak oleh Unit Bahasa dan Budaya GMIT dalam rangka peluncuran Alkitab bahasa Wersing dan Klon di kampung Kolana-Alor Timur yang berbatasan laut dengan negara Timor Leste. Kali kedua, saya meliput pentahbisan dan peresmian tiga rumah ibadah jemaat GMIT Gloria Likara Iyagadi di Klasis Alor Timur Laut sekaligus Jemaat GMIT Esa Afengmale dan Jemaat Elim Dadi Bira di Pura, klasis Alor Barat Laut. Kali ketiga, ke Alor Barat Daya dalam rangka distribusi bantuan untuk sekolah-sekolah GMIT. Dan keempat, mengikuti kegiatan Training of Trainers (T0T) bagi para pendeta se klasis Tribuana Alor di Pantar Timur selama lima hari dari Minggu hingga Jumat 21-26 Oktober 2018. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Unit Pembantu Pelayanan (UPP) Teologi Majelis Sinode GMIT.

Pesawat, Perahu Motor dan Mobil Truk

Minggu, (21/10) pukul 11 siang kami berkumpul di Bandara Udara Eltari Kupang. Rombongan kami sebanyak 12 orang. Pendeta (Pdt.) Niko Lumba Kaana penanggungjawab kegiatan menjadi pimpinan rombongan. Sisanya Pdt. John Campbell-Nelson dan Karen Campbell- Nelson, Pdt. Mery Kolimon, Tory Kuswardono, Pdt. Emy Sahertian, John Rihi, Helda Puling-Bolla, Adi Amtaran, Elia Maggang, Elina Otu dan saya.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam, kami tiba di bandara Udara Mali-Alor. Kami singgah makan siang di rumah pastori Pdt. Dorkas Sir yang saat ini bertugas di Jemaat GMIT Pola Kalabahi. Pukul tiga sore rombongan menuju pelabuhan di Alor Kecil. Saat kami tiba, perahu motor yang menjemput kami sudah menunggu. Belasan pendeta dari sejumlah klasis yang menjadi peserta kegiatan ini ikut bergabung dalam rombongan kami.

Matahari perlahan condong di ufuk Barat. Cuaca panas bulan Oktober yang mencapai 35 derajat Celsius turun perlahan. Pemandangan di depan kami terlihat indah. Di bagian Barat yang dekat sekali dengan pelabuhan tempat kami berdiri, terbentang pulau Kepa dengan pantai pasir putihnya. Pulau ini merupakan salah satu destinasi wisata. Hanya dibutuhkan lima sampai sepuluh menit dengan perahu motor untuk tiba. Seorang turis berkebangsaan Perancis menyediakan fasilitas penginapan bagi mereka yang berwisata di sini.

Pulau Kepa dengan latar belakang puncak Pulau Pura, Foto: wanto/infokom

Di belakang Pulau Kepa, menyembul pulau Pura.  Puncaknya menjulang tinggi seolah tak mau dihalangi Pulau Kepa di depannya. Pura sangat terkenal dengan minuman tradisional beralkohol bernama sopi. Sopi terbuat dari penyulingan nira pohon lontar yang banyak tumbuh di pulau kering berbatu ini. Kadar alkoholnya saya kurang tahu. Yang saya tahu dan lihat sendiri, sopi bisa menyala bila dibakar. Jadi, silahkan taksir sendiri kadar alkoholnya. Bulan Juli 2018 ketika pertama kali menginjakkan kaki di pulau ini, saya geleng-geleng kepala menyaksikan betapa kerasnya kondisi alam di sini. Tiba di pelabuhan, hanya tersedia satu pilihan yaitu panjat jalan. Bukan sekadar mendaki tetapi memanjat. Kemiringan jalan menuju perkampungan di punggung bukit antara 70-80 derajat. Kalau sampai hilang keseimbangan dan jatuh, tubuh anda dipastikan baru akan berhenti berguling saat tiba di laut. Dan anda segera diam dengan tenang di rumah Tuhan sepanjang masa.

Air tawar adalah barang paling langka di sini. Lebih mudah menemukan sopi dari pada air untuk mandi dan minum. Tidak heran, penduduk pulau ini bertahan hidup dengan menyimpan air hujan dalam bak-bak. Mereka sangat berhemat air. Bahkan air sisa cuci dan mandi pun tak dibiarkan terbuang. Air bekas itu ditampung lagi untuk menyiram tanaman. Kendati alamnya keras, keramahtamahan penduduk di sini sungguh luar biasa.

Setelah semua penumpang lengkap, kami berangkat. Laut tampak teduh. Airnya jernih berkilauan ditimpa cahaya sunset. Tiga atau empat meter dari atas perahu tampak jelas coral di dasar. Beberapa perahu motor nelayan beraneka warna hilir mudik. Di sebelah Utara tampak pulau Ternate. Di dekatnya lagi ada Pulau Buaya. Sementara sebelah Barat membentang Pulau Pantar yang menjadi tujuan kami.

Perjalanan laut memakan waktu satu jam. Pukul setengah enam sore kami merapat di pelabuhan Munaseli. Seharusnya kami berlabuh di Kabir, namun kata nakhoda perahu, jika meneruskan perjalanan laut, kami akan tiba saat hari sudah gelap dan itu akan menyulitkan. Maka terpaksa kami turun di Munaseli menunggu melanjutkan perjalanan darat. Sekitar setengah jam menunggu, Ketua Klasis Pantar Barat Pdt. Moses Lapiweni tiba. Ia mengatakan masih sedang mengupayakan transportasi karena rencana mereka kami seharusnya turun di pelabuhan Kabir bukan di Munaseli.

Beberapa saat kemudian, moda transportasi yang kami tunggu datang. Sebuah dump truk tua yang tidak jelas warnanya perlahan bergerak mundur ke arah kami. Bokongnya berhenti tepat di depan koper-koper berat yang menumpuk. Untuk membuka pintu belakangnya saja, pengaitnya harus dipukul-pukul dengan sebongkah batu.

Pak Moses, begitu kami menyapanya, dengan logat khas Alor sambil senyum-senyum mengajak, “Ayolah, Bapak dorang, Mama dorang, kita naik ini sajalah.” Kami semua saling berpandangan dan tertawa dengan keadaan yang sungguh kontras ini. Dari Kupang dengan pesawat, lalu naik perahu motor dan kini kami harus naik mobil truk dengan kondisi jalan yang tidak hanya mengguncang tubuh tapi juga iman. “Oh my God!” Seingat saya terakhir kali menumpang truk waktu saya kelas 3 SD. Waktu itu saya adalah murid SD Negeri Hundihuk, kecamatan Rote Barat Laut. Urusan kami dengan truk saat itu gara-gara upacara bendera 17 Agustus di Lapangan Bola, Busalangga.

Demi menghargai kami sebagai tamu kehormatan, Pak Moses memerintah anah buah perahu memindahkan karpet dari perahu motor untuk alas bak truk yang kotor karena baru saja menurunkan material proyek jalan. Sungguh sebuah pengalaman yang tak pernah terlupakan menumpang truk proyek beralas karpet hitam. Tak mengapalah, mungkin di lain waktu kami disambut dengan karpet merah di truk yang berbeda.

Kampung warna-warni di Jemaat GMIT Warabu-Pulau Pura, tampak setiap rumah memiliki fiber warna kuning untuk penampungan air di musim hujan. Foto: wanto/infokom

Tapi syukurlah, dengan menumpang truk, saya bisa melihat kampung-kampung di Pulau Pantar. Dengan kondisi geografis yang berbukit-bukit, infrastruktur jalan di kabupaten Alor umumnya mengitari garis pantai. Sayang sekali karena hari mulai gelap kami hanya bisa melihat dengan samar-samar pemandangan kampung-kampung pesisir pantai dari Munaseli, Lamalu, Bana, Pandai, Waiwagang, Aluanang, Wailawar, Panea, Labuan Bajo hingga Kabir. Di banding wilayah-wilayah pesisir pulau Timor, Rote dan Sabu yang pernah saya kunjungi, daerah pesisir Pulau Pantar lebih subur. Kebun-kebun pisang, kelapa, mangga, kemiri dan sebagainya menghijau sepanjang kurang lebih 10 kilometer. Kawasan pesisir ini umumnya dihuni oleh warga Muslim. Sebaliknya wilayah perbukitan dihuni mayoritas warga Kristen.

Di seluruh Pulau Pantar baik Pantar Timur maupun Barat, kata Pak Moses, tidak ada denominasi Kristen lain selain Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT). Tidak heran, segenap warga Kristen asal Pantar yang merantau kemana pun dan berpindah ke berbagai denominasi gereja, ketika pulang ke Pantar pasti kembali ke rumah kandung GMIT. (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *