Bukit Mas, Pasir Tiga Warna dan Pantai Air Panas (bagian II)

Bukit Mas, Pasir Tiga Warna dan Pantai Air Panas (bagian II)

(Cerita Perjalanan Pelayanan 5 hari di Pulau Pantar)

Pantai Kabir-Pantar Timur. Foto: wanto/infokom

Pukul 7:30 malam kami tiba di Kabir. Kabir adalah ibu kota kecamatan Pantar Timur. Bunyi deru mesin terdengar dari kejauhan. Rupanya gardu mesin PLN berdekatan dengan Gereja GMIT Imanuel Kabir, tempat kami akan menggelar kegiatan ToT. Beberapa pemuda datang membantu menurunkan barang-barang bawaan kami. Pemuda lainnya bergabung dalam kelompok penyambutan tamu. Kami berlego-lego bersama warga yang sejak sore menunggu kedatangan kami. Lego-lego adalah tarian massal melingkar sambil berpegangan tangan dan menghentakan kaki sesuai irama gong dan tambur.

Selepas menikmati tarian lego-lego kami diajak menuju ruang kebaktian. Masing-masing kami dikalungi selendang tenunan beraneka warna bermotif indah dan unik. Inilah bentuk penghargaan orang Pantar pada tamu. Kebiasaan ini ada di semua suku-suku di NTT.

Makan malam sudah tersedia. Kami makan sepuasnya sebelum menuju tempat penginapan. Saya, Elia, Tory dan Pdt. Niko menginap di rumah Bapak Ari Waang, ketua panitia kegiatan.  Beliau pegawai dinas komunikasi dan informasi kabupaten Alor.  Sebelumnya ia menjabat sebagai camat kecamatan Kabir.

Berteologi Dalam Perencanaan Program Pelayanan

Saya tersadar saat mendengar suara adzan subuh dari sebuah Mesjid yang berjarak 100 meter dari tempat kami menginap. Kata warga, lokasi mesjid dulunya adalah tanah milik gereja, sebaliknya lokasi gereja adalah tanah mesjid. Saling tukar lahan terjadi karena permintaan warga Muslim yang merasa lebih cocok kalau masjid berada dekat pantai.

Saya berharap sinyal internet membaik agar bisa mengirim berita. Ternyata tidak bisa sama sekali. Padahal materi-materi berita yang harus dikirim sudah menumpuk. Elia masih terlelap di sudut tempat tidur. Saya ingin membangunkannya tapi tak tega. Saya pernah membaca kata-kata Martin Luther di sebuah buku yang saya lupa judulnya. Sang reformator Gereja yang masyur itu berkata, “Membangunkan orang yang sedang tidur adalah dosa besar.” Saya takut tergoda oleh dosa besar itu.

Hari pertama kegiatan terpaksa molor. Rencana pukul 8:00 pagi bergeser hingga pukul 10:00 karena sebagian teman-teman pendeta dan pemateri dari pemerintah kabupaten Alor baru tiba dengan perahu. Usai kebaktian yang dipimpin Pdt. Emy Sahertian, kegiatan dibuka oleh Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Dr. Mery Kolimon. Saat menyampaikan suara gembala ia menegaskan pentingnya perencanaan pelayanan yang matang.

“Di Jemaat, Klasis dan Sinode, kita harus benar-benar berpikir tentang bagaimana gereja merencanakan pelayanannya menjadi pelayanan yang berdampak. Perencanaan pelayanan adalah upaya berteologi. Pelatihan ini kita dimaksudkan demikian. Format-format evaluasi HKUP 2015-2019 dan format-format penjaringan HKUP 2020-2023 sudah dikirim ke klasis-klasis. Kami harapkan diisi dan ketika membuat evaluasi terhadap periode HKUP yang berjalan maupun menjaring aspirasi untuk HKUP berikut, Bapak-Ibu tidak bikin sendiri tapi sebagai gereja yang menganut sistem prebiterial sinodal kita duduk bersama merencanakannya. Jangan copy paste. Tahun lalu bikin apa, ini tahun kita bikin ulang, tapi mulailah dengan sungguh-sungguh membaca konteks dimana kita berada. Isu-isu apa yang selalu muncul di jemaat dan bagaimana memahaminya, lalu pelayanan apa yang bisa dilakukan untuk menjadi gereja yang memberi sumbangan agar Kerajaan Allah itu akan semakin nyata di Alor Tribuana, Pantar dan di seluruh wilayah pelayanan GMIT,” kata Pdt. Mery.

Usai acara pembukaan dilanjutkan dengan panel diskusi oleh Pdt. Mery Kolimon (Ketua Majelis Sinode GMIT), Obed Bolang (Kepala Dinas Lingkungan Hidup) dan Aksa Kiri (Kepala PMD). Keduanya mewakili Bupati Alor yang berhalangan hadir. Satu lagi yakni Ida Farida Bala, ia bekerja sebagai konselor Voluntary Counselling and Testing (VCT) di Rumah Sakit Umum Daerah Kalabahi yang mengurusi para korban penyakit HIV/AIDS.

Pemilihan Klasis Pantar Timur sebagai tuan dan nyonya rumah, kata Pdt. Niko Lumba Kaana, selaku penanggung jawab program ToT ini, terutama karena wilayah Kabir termasuk kawasan tambang emas. Hasil eksplorasi tahun 1987 telah membuktikan penemuan ini. Beruntung, saat eksplorasi sedang berlangsung, terjadi gempa dasyat memporak-porandakan wilayah ini.

Penduduk langsung mengasosiasikan bencana gempa tersebut dengan kepercayaan setempat bahwa pengeboran emas itu mengganggu dan mengenai kepala naga sesembahan para leluhur yang tidur di alam bawah. Warga Kabir serempak mengusir para pekerja tambang dari kampung mereka.

Mata air belerang yang keluar dari bekas pengeboran emas di Kabir-Pantar Timur. Foto: wanto/infokom

Puluhan tahun setelah peristiwa itu, pihak-pihak yang ingin mengeruk keuntungan dari tambang emas ini tidak tinggal diam. Berbagai upaya baik lobi regulasi dengan pemerintah maupun propaganda berupa iming-iming kesejahteraan dan kemakmuran kepada warga terus digemborkan supaya tambang bisa beroperasi lagi. Kendati prosesnya lambat namun saat ini kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Alor, rencana penambangan emas ini sedang dalam pengurusan Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL).

Padahal, di saat yang bersamaan, Gubernur NTT Victor Laiskodat yang baru dilantik pada September lalu dalam pidato pelantikannya sudah memberi ultimatum akan melakukan moratorium tambang di seluruh wilayah yang dipimpinnya.

Memasuki sesi tanggapan, ramai-ramai para peserta ToT mengecam pemerintah daerah dan menolak aktivitas penambangan.

Bukan hanya tambang emas, isu lain yang juga mengemuka dalam kegiatan ini adalah tuntutan ganti rugi warga Kabir yang lahannya dipakai pemerintah untuk pembangunan bandara udara Kabir yang letaknya berdekatan dengan lokasi tambang emas.

Menurut Pdt. Mery Kolimon, mengadvokasi warga agar mereka memahami persoalan sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup dan sebagainya adalah tugas gereja. Misi Gereja tidak hanya fokus pada hal-hal liturgis (aktivitas ibadah) melainkan aspek-aspek lain yang bersentuhan langsung dengan kehidupan mereka sehari-hari. Itulah pentingnya para pelaku pelayanan seperti majelis jemaat, klasis dan sinode mendampingi warganya.

Yoksan Ill (42) warga Jemaat GMIT Syalom Bakoluka, Klasis  Pantar Timur mengaku senang dan beruntung terlibat dalam kesempatan ini.

“Saya dapat manfaat dari kegiatan ini baik dari segi gereja maupun masyarakat. Saya semakin memahami tentang panca pelayanan gereja. Ibu Ketua Sinode omong itu betul dan bagus juga. Umpama di gereja kalau tahun ini ada 5 program dan hanya 2 yang dijalankan nanti tahun depan yang sisa itu diprogramkan ulang lagi. Begitu terus. Makanya kita tidak maju,” ujar mantan penatua yang mengaku baru pertama kali mengikuti ToT.

Waspadai HIV/AIDS

Isu HIV/AIDS juga hangat dibicarakan. Khusus kabupaten Alor, korbannya sudah mencapai 214 orang dalam 8 tahun terakhir. 59 orang sudah meninggal dunia, dan korban yang masih hidup menyebar di 72 kampung di Alor. Demikian data yang dilansir tenaga konseling Ida Farida Bala, VCT dari RSUD Kalabahi. Menurutnya rata-rata para korban adalah ibu rumah tangga yang mendapat virus mematikan itu dari suami mereka yang pulang dari perantauan.

“Deteksi dini sangat penting. Mending HIV daripada AIDS. Kalau HIV-nya terdeteksi dini, bisa umur panjang, asal tidak sampai ke AIDS. Tujuan kita sosialisasi itu bukan diskriminasi orang tapi mengajak orang periksa diri sehingga terdeteksi dini dan bisa diobati. Kalau merasa perilaku yang kurang baik segeralah periksa,” pesan Ida.

Analisa Sosial dan Perencanaan Program

Materi analisa sosial yang dibawakan oleh Dr. Karen Campbell Nelson dan Torry Kuswardono sangat menarik. Para peserta diberi pengetahuan dasar tentang pengertian, metode analisis hingga pengorganisasian masyarakat. Selebihnya peserta diajak untuk mengisi apa yang disebut time line atau garis waktu. Peserta dibagi dalam beberapa kelompok sesuai klasis masisng-masing dan diminta untuk menulis peristiwa-peristiwa aktual di jemaat yang masih bisa diingat pada setiap dekade sejak tahun 1960 hingga 2010.

Menariknya semua peserta hanya mampu mengingat peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan perkembangan kelembagaan gereja. Misalnya, persidangan-persidangan, pergantian pendeta, pendirian jemaat, pemekaran klasis, pergantian sistem organisasi klasis dari Badan Pekerja Klasis (BPK) menjadi Koordinator Pelayanan Wilayah Klasis (KPWK) dan berubah lagi menjadi Majelis Klasis (MK), perubahan Tata Gereja dan sebagainya. Semuanya hanya seputar perkembangan dalam aspek oikonomia atau tata kelola kerumahtanggaan Gereja dan hal-hal yang bersifat pembangunan fisik. Sementara aspek-aspek lain yang bersifat kualitatif dibidang koinonia, diakonia, marturia dan liturgia, nyaris luput dari ingatan peserta.

Saya menduga jangan-jangan sepanjang rentang waktu 50 tahun itu GMIT lebih berkutat pada urusan-urusan organisatoris tersebut sehingga aspek-aspek lain yang sifatnya memberdayakan jemaat agak terabaikan. Tidak heran jika peserta sulit mengingat hal-hal yang bersifat kualitatif itu. Bukankah ada pepatah “Dari mana datangnya cinta; Dari mata turun ke hati.” Artinya orang baru bisa menyimpan sesuatu dalam hatinya bila ia melihat dengan mata kepalanya sendiri.  Pertanyaanya adalah sejauh mana dalam 50 tahun terakhir dan 50 tahun mendatang GMIT terlibat dalam mendorong sumber daya manusia berkualitas yang terukur dan terbukti melalui perencanaan program-program pelayanannya? (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *