Ikan Kerapu dan Toilet (bagian V)

Kisah Perjalanan Pelayanan di Pantar-Alor

Pantai Pasir Tiga Warna di Puntaru, Pantar Barat. Foto: Elia Maggang.

Pantar.www.sinodegmit.or.id, Berkunjung ke Pantar Barat adalah kesempatan yang saya tunggu-tunggu. Sejak dari Kupang, Elia Maggang berulang kali mempromosikan keindahan alam kampung halamannya ini. Katanya, ada pantai pasirnya tiga warna sekaligus. Lalu, ada lagi pantai yang sebelahnya air dingin dan sebelahnya lagi air panas. Saya jadi panas dingin dengar ceritanya.

Menuju Baranusa

Kamis subuh, (25/10), kami sudah bersiap-siap menuju pelabuhan Kabir. Pdt. Adi Amtaran memilih pulang duluan ke Kupang, sehingga rombongan yang tersisa adalah, Pdt. Mery Kolimon, Pdt. John Campbell Nelson, Pdt. Niko Lumba Kaana, Pdt. Emy Sahertian, Helda Pulling, John Rihi, Elia, Elina dan saya. Pdt. Dorkas Sir dan Pdt. Yakobus Polamau juga ikut gabung dalam rombongan kami. Kami bergegas karena laut pasang surut. Tepat pukul 6.30 kami tancap gas menuju pelabuhan Baranusa di Pantar Barat.

Laut tampak teduh. Panorama sepanjang pesisir pantai yang kami seberangi menyegarkan mata. Empat atau lima meter dari atas perahu motor terlihat jelas dasar laut. Ini pertanda perairan di sini masih bersih dari aneka sampah. Mungkin karena ini bulan Oktober jadi kelihatannya bersih. Kalau bulan Desember atau Januari bisa jadi ceritanya lain. Biasanya pada musim hujan, laut mendapat banjir ‘hadiah’ sampah dari darat.

Kemarinnya, saat jalan pagi di pesisir pantai Kabir, saya lihat banyak onggokan sampah plastik di pinggir pantai. Bahkan ada anak-anak yang buang air besar. Ini bukan pemandangan yang langka, sebenarnya. Di pesisir pantai Kelapa Lima dan Oesapa di Kota Kupang, seringkali saya lihat onggokan-onggokan kotoran manusia bertebaran di mana-mana. Sayang sekali pemerintah Kota Kupang dari walikota, camat, lurah, sampai RT/RW setempat tampak tenang-tenang saja. Mungkin mereka tidak pernah ke pantai jadi tidak lihat atau memang karena masa bodoh.

Naik mobil pick up di Baranusa.

Setelah berlayar 1,5 jam kami tiba di pelabuhan Baranusa. Baranusa merupakan kampung Muslim. Dari jauh tampak beberapa kubah masjid menjulang. Saat turun, sejumlah teman pendeta sudah menunggu kami dengan sepeda motornya. Beberapa teman ikut menumpang dengan sepeda motor dan sisanya termasuk saya menumpang mobil pick up. Setelah menempuh perjalanan 30 menit, mobil berhenti di halaman Gereja GMIT Ora Et Labora Air Panas. Menara gerejanya tinggi menjulang. Bangunan-bangunan gereja GMIT di Alor rata-rata memiliki ciri khas menara tinggi dengan simbol PX (huruf Yunani: artinya Kristus).

Pendeta Masti Selan dan Vikaris Magtelda Haning serta jemaat menyambut kami dengan makan minum enak. Ubi rebus dan teh panas membuat mata saya jadi terang dari sebelumnya kunang-kunang. Belum selesai melahap kudapan itu, tuan dan nyonya rumah mempersilahkan kami menyantap hidangan ikan bakar. Mau tahu ikan apa? Ikan kerapu. Dagingnya kenyal. Nikmat benar. Benar-benar-benar nikmat. Kalau di tempat lain orang makan nasi dengan lauk ikan, di Alor sebaliknya: Makan ikan dengan lauk nasi. Di Rote makan enak seperti ini kami sebut, “makan sampai lupa telinga sebelah”. Sayang, tidak ada tuak manis atau gula air. Padahal, di Pantar, terdapat banyak pohon lontar. Kata teman-teman pendeta, berbeda dengan di Rote atau Sabu dimana nira lontar diproses menjadi gula merah, nira pohon lontar di sini hanya dipakai untuk bikin sopi (minuman tradisional beralkohol). Benarlah kata pepatah, “Lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”. Tak apalah, yang penting kenyang agar bisa melanjutkan petualangan.

Toilet di SD GMIT Kalundama

Setelah perut terisi, kami meneruskan perjalanan. Separuh rombongan melanjutkan perjalanan ke Airmama. Elia mengajak saya ke Kalundama. Dia mau bertemu beberapa narasumber untuk kepentingan rencana studi lanjut S3-nya di Inggris. Vikaris Yumince Pinat jadi pemandu. Elina juga gabung, jadinya kami berempat. Kami melintasi kebun-kebun jambu mete berkilo-kilo meter.

Kami tiba di Kalundama sekitar jam 10 siang. Yupi, sapaan akrab Yumince, menjadi tenaga vikaris di sini. Dengan pengalaman bekerja di Lembaga World Vision Indonesia (WVI), ia mengorganisir beberapa kelompok wirausaha jemaat, khusus untuk biji mete. Mereka berencana mengirim sampel ke Surabaya. Pantar memang daerah penghasil biji mete. Harganya cuma 15 ribu per kilogram. Padahal, di Surabaya harganya 150 ribu/kilo yang sudah dikupas kulit. Setiap hari pada musim jambu mete, warga sibuk bekerja mengumpulkan biji mete di kebun. Hanya biji yang diambil sementara buahnya untuk makanan babi. Kalau saja bisa dibuat minuman, tentu lebih bernilai ekonomis.

Yupi juga bercerita kalau dia hobi traveling. Setelah melihat beberapa foto panorama pantai di Pantar yang ia posting di media sosial, beberapa orang berminat datang ke tempatnya. Ia bersedia jadi guide sekaligus menawarkan penginapan gratis asal mereka yang datang bersedia membawa buku-buku bacaan anak. Dan idenya berhasil. Kini perpustakaan anak-anak sekolah minggu di jemaat GMIT Kalundama sudah mencapai dua ribuan buku. Hebat, ‘kan? Diam-diam saya memuji model pelayanan kreatif yang coba dibangun Yupi.

Sambil menunggu Elia mewawancarai narasumber, saya mengajak Elina melihat SD GMIT Kalundama yang berdekatan dengan Gereja. Jumlah muridnya 128 orang. Dulu ada SMP Kristen juga. Tapi gara-gara tidak ada guru, SMP ditutup. Saya mengajak ngobrol sebentar dengan ibu guru Pitronela Iluko mengenai kondisi sekolah. Ia mengeluhkan plafon gedung yang roboh. Lantas saya tanya, apakah sekolah ada toilet?

Siswa-siswi SD GMIT Kalundama 1 Pantar Barat

Pengalaman saya mengunjungi sekolah-sekolah GMIT di daratan Timor, Rote, Sabu, Flores dan Alor, fasilitas toiletnya paling terabaikan bahkan di Kota Kupang sekalipun. SD GMIT Oebufu misalnya, mengeluh toilet yang tak sebanding dengan jumlah murid. Di Rote juga begitu. Sebut saja SMA Kristen Siloam di Baa. Saat menggunakan toilet, kita mesti pasang kuda-kuda persis jurus kung-fu. Satu tangan pegang pintu, tangan yang lain pegang gayung.

Mendengar pertanyaan saya tentang toilet, Pitronela yang sudah 22 tahun mengajar di sekolah ini mengaku ada, namun tidak bisa digunakan.

“Kenapa?”

“Rusak.”

“Sudah berapa lama?”

“Bertahun-tahun.”

“Jadi 128 anak ini kalau mau buang air, bagaimana?”

Ibu guru membalas pertanyaan saya dengan senyum. Mungkin ia berharap saya bisa menerka sendiri jawabannya. Saya melongok dari balik jendela yang cuma dipalang dengan bilahan bambu. Tampak pintu toilet tertutup rapat. Gemboknya pun sudah berkarat.

“Bagaimana mendidik generasi yang sehat dan bersih kalau sanitasi sekolahnya sebegini buruk?” Pikir saya dalam hati. Pantas saja di era milenial ini masih ada saja orang-orang desa dan kota buang hajat secara primitiv. Setidaknya itu yang saya lihat di sepanjang tepi jalan Timor Raya mulai dari Kota Kupang sampai perbatasan negara Timor Leste. Semak belukar menjadi ‘kamar toilet’ terpanjang di dunia bagi para penumpang kendaraan bermotor. Masih beruntung kalau hanya buang air kecil. Kalau sampai BAB maka beban penderitaan itu harus dipikul sampai tiba di Pertamina. Padahal, kalau mau, gereja-gereja GMIT yang ada di sepanjang jalan Timor Raya bisa menawarkan toilet gratis. Tidak sulit ‘kan? (bersambung) (wanto menda)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *