LAMPIN dan SAMPAH

LAMPIN dan SAMPAH

(Pdt. Wanto Menda)

Matius dan Lukas menulis cerita kelahiran Yesus dengan cara yang unik. Matius menaruh kesan pada Yesus sebagai sosok pewaris takhta Daud. Itu jelas terlihat pada catatan silsilah yang langsung menyebut Yesus sebagai anak Daud pada kalimat pembuka injilnnya, “Inilah silsilah Yesus Kristus anak Daud, Anak Abraham (1:1). Kepada para pembacanya yang adalah orang-orang Yahudi, Matius ingin meyakinkan mereka bahwa Yesus benar-benar adalah Kristus (Mesias) yang dinubuatkan para nabi dan yang dinanti-nantikan oleh umat Israel. Untuk mempertegas kesan itu, Matius melanjutkan cerita mengenai orang-orang Majus dari Timur yang hendak bertemu “raja orang Yahudi” yang baru lahir. Mereka membawa persembahan berupa: emas, kemenyan dan mur. Ini adalah benda-benda yang bernilai ekonomis tinggi. Matius mau menempatkan Yesus seperti pangeran yang pantas menerima sambutan dari kaum cerdik cendekia.

Sebaliknya, Lukas membingkai cerita kelahiran Yesus sebagai peristiwa yang biasa-biasa saja, bersahaja dan sederhana. Kendati sama seperti Matius, ia menyertakan para malaikat sebagai tokoh ilahi yang memberi kesan misteri dan kudus, namun Lukas lebih menekankan aspek kesederhanaan dan kekeluargaan tokoh-tokoh dalam ceritanya. Misalnya saja Elisabet disebut sebagai sanak keluarga Maria. Simeon dan Hana digambarkan seperti sosok kakek dan nenek yang bersukacita menyambut cucunya. Dan jangan lupa kunjungan para gembala. Tampaknya, Lukas sengaja membuat adegan kontras dengan Matius. Kalau Matius memunculkan para Majus sebagai ‘ilmuwan’, Lukas menampilkan para gembala sebagai kaum terpinggirkan, kelas paling rendah dalam strata sosial masyarakat Yahudi.

Hal lain yang tidak kalah menarik sekaligus menyolok dari kedua penginjil ini adalah bagaimana mengclose-up benda-benda yang menandai identitas Yesus. Tanda untuk menemukan bayi Yesus dalam cerita Matius adalah bintang. Benda langit yang merupakan objek kajian para majus.  Sedangkan Lukas menunjuk pada palungan dan kain lampin. Sebagaimana diketahui, palungan dan lampin merupakan alat penunjang bagi penggembala ternak.

Dalam kaitan dengan judul di atas, maka tulisan ini hanya menyoroti kain lampin. Apa itu kain lampin? Sedikitnya ada dua versi pengertian lampin.

Foto: bbc

Pertama, kain lampin adalah kain bekas yang dipakai untuk membersihkan anak domba yang baru lahir. Bayi-bayi domba yang baru lahir itu biasanya bergerak-gerak, dan karena orientasinya belum baik, untuk melindungi mereka dari benturan atau gesekan yang bisa membuat bayi itu bercacat, maka bayi-bayi domba yang baru lahir ini diletakkan di dalam palungan yang berisikan jerami dan dibungkus dengan kain lampin karena domba-domba ini memang dipersiapkan untuk menjadi domba-domba kurban yang tidak boleh ada cacatnya.

Kedua, lampin adalah kain-kain kusam, kumal dan kotor yang dijadikan sebagai alas duduk di punggung keledai. Karena sedang dalam perjalanan, maka Yusuf dan Maria tidak membawa perlengkapan bayi. Kain lampin milik keledai-keledai dijadikan alas palungan sekaligus selimut penutup tubuh bayi Yesus.

Dari dua penjelasan ini, kita mendapati kesamaan sekaligus perbedaan. Kesamaannya adalah kain lampin adalah kain bekas dan kusam yang sudah tak terpakai lagi oleh pemiliknya tapi masih bisa digunakan untuk keperluan tertentu pada hewan piaraan. Sedangkan bedanya adalah versi pertama mengatakan dikhususkan untuk domba dan versi kedua mengatakan untuk keledai. Anggap saja kedua-duanya benar. Sebab baik domba maupun keledai, sama-sama hewan yang penting bagi orang pada zaman itu.

Nah, apabila Lukas mengisahkan bahwa Yusuf dan Maria membebat atau membungkus tubuh Bayi Yesus dengan kain lampin, bukankah tindakan itu bisa mengandung pengertian bahwa tubuh Yesus dibungkus dengan sampah kain?

Jika sampah dipahami sebagai material sisa yang tidak terpakai lagi oleh manusia, maka saya berani mengatakan, ya, benar, pada 2000 tahun lalu, tubuh mungil Sang Juruselamat, dibungkus dengan sampah kain. Sampah kain yang dipakai untuk membungkus anak-anak domba dan alas pada punggung keledai-keledai itulah yang dipungut oleh Yusuf di sekitar tempat mereka menginap untuk memberi rasa hangat pada tubuh mungil Anak Allah yang datang ke dunia.

Dengan memberi penekanan pada kain lampin, kita menangkap pesan bahwa sejak lahir-Nya, Yesus telah merasakan dampak dari limbah manusia. Ia lahir di tengah lingkungan yang dipenuhi sampah. Baik itu makanan ternak berupa jerami, dedaunan dan kain-kain kotor. Ia turut menanggung akibat dari sampah yang dibuang manusia. Sekaligus menandaskan kelalaian manusia dalam hal menatakelola bumi sebagai tempat yang layak untuk menyambut Sang Juruselamat. Dalam menanti kedatangan-Nya manusia hanya menyisakan ruang-ruang sampah ketimbang rumah penginapan di bumi. Hal ini sungguh amat kontras dengan apa yang dilakukan oleh Tuhan Allah kepada manusia.

Jika pada mulanya, Tuhan menyediakan taman Eden kepada manusia di bumi, manusia sebaliknya menyediakan taman edan bagi Tuhan. Begitu pula, ketika manusia pertama jatuh dalam dosa, Tuhan Allah menemui Adam dan Hawa dan membuatkan pakaian untuk menutupi ketelanjangan mereka. Tetapi sebaliknya, ketika Dia menjadi manusia dan datang ke dunia, manusia tidak menyediakan bagi-Nya pakaian, kecuali sampah kain. Tepatlah apa yang dikatakan-Nya. “Ketika aku telanjang, engkau tidak memberi aku pakaian.”

Dua ribuan tahun setelah kelahiran-Nya, sampah tetap menjadi persoalan dunia yang semakin tidak terkendali. Menurut data American Association for the Advancement of Science (AAAS) sekitar delapan juta ton sampah plastik beredar di lautan dunia setiap tahun. (https://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/02/150213_iptek_sampah_laut)

Dr. Jenna Jembeck, kepala tim ilmuwan dari Universitas Georgia, AS, mengatakan untuk tahun 2010, misalnya, jumlah sampah diperkirakan mencapai 4,8 hingga 12,7 juta ton. Batas bawah yang ditetapkan sebesar 4,8 juta ton itu kurang lebih sama dengan jumlah ikan tuna yang ditangkap di seluruh dunia. Sebagai solusi, Dr. Jembeck dan rekan-rekannya mengimbau kepada negara-negara kaya agar mengurangi konsumsi barang-barang plastik sekali pakai, seperti tas belanja. Studi ini menunjukkan bahwa bila sampah plastik dibiarkan, 17,5 juta ton plastik per tahun dapat memasuki lautan pada 2025. Bila jumlah sampah plastik diakumulasikan sampai 2025, sedikitnya 155 juta ton plastik akan beredar di lautan. Mengatasi persoalaan ini, salah satu peneliti lain, Roland Geyer dari University of California di Santa Barbara, mengatakan membersihkan lautan dari sampah plastik sangatlah tidak mungkin.

“Menghentikan membuang sampah ke laut dari awal merupakan satu-satunya solusi. Bagaimana mungkin Anda membersihkan plastik di dasar laut yang rata-rata kedalamannya mencapai 4.200 meter,”kata Barbara.

Dari lima negara penyumbang sampah terbesar di dunia, Indonesia, meraih peringkat ke-2 setelah Cina. Untuk kantong plastik saja, penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar 250 juta jiwa menggunakan 9,8 milyar lembar kantung setiap tahun atau setara 85 ribu ton kantong plastik yang dibuang ke lingkungan. Lantaran itu, diperkirakan pada 2050, populasi sa
mpah plastik bahkan terancam lebih banyak dibandingkan jumlah ikan di laut.

Kupang Kota Sampah?

Baru-baru ini Gubernur NTT, Viktor Laiskodat, menyebut Kota Kupang sebagai kota paling kotor di daerah ini. Karena kondisi buruk itu, ia mengancam mendenda Rp. 50 ribu kepada warga yang kedapatan membuang sampah sembarangan. Pada Februari 2018, volume sampah warga kota Kupang mencapai 200 ton per hari. Menurut sebuah penelitian rata-rata satu orang Indonesia menyumbang 0,7 kilogram sampah plastik per hari. Jika jumlah penduduk kota Kupang dibulatkan jumlahnya menjadi 400.000 orang, dengan perkiraan 50% adalah anggota/warga Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) maka total sampah yang dihasilkan warga GMIT diperkirakan mencapai 140 ton setiap harinya. Kalau pun dari 140 ton tersebut diturunkan 100 ton per hari, tetaplah bukan angka yang kecil.

Pertanyaannya adalah, ditengah-tengah membanjirnya barang-barang kebutuhan pokok yang masuk ke Kota Kupang jelang perayaan natal, bisakah jemaat-jemaat GMIT melalui panitia-panitia hari raya gerejawi, menjadi pelopor atau sekurang-kurangnya menahan diri untuk membelanjakan belasan bahkan puluhan juta uang hanya untuk membeli air atau minuman dalam kemasan plastik gelas atau botol? Semoga mau dan bisa. Karena “Kalau ada uang, sampah datang,” begitu kata Michele Fiorentina, pemandu wisata asal Italia yang bermukim di pulau Rote.

Perayaan Bulan lingkungan GMIT, advent dan natal yang berkesinambungan seyogyanya menjadi momentum pertobatan bagi gereja terutama dalam hal memerangi sampah plastik. Sebab apalah artinya kita merayakan bulan lingkungan selama satu bulan penuh. Dan apalah artinya pula kita merayakan minggu-minggu advent dan natal jika kita hanya menimbun sampah berton-ton menyambut kedatangan-Nya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *