Jangan Rencana Lain, Kerja Lain: Otokritik Ketua Majelis Sinode GMIT

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Dr. Mery Kolimon secara blak-blakan menyebut pola pelayanan GMIT di lingkup Jemaat, Klasis dan Sinode hingga saat ini belum cukup konsisten antara perencanaan dan pelaksanaan.

“Salah satu penyakit di Gereja Masehi Injili di Timor adalah kita (suka, red.)mengerjakan apa yang tidak direncanakan dan merencanakan apa yang tidak dikerjakan.”

Otokritik itu diungkapkannya saat menyampaikan suara gembala pada pembukaan sidang Majelis Klasis Kota Kupang, Kamis, (7/2) di Jemaat Eden Kisbaki.

Latar belakang pernyataan Ketua MS GMIT tersebut terkait belum maksimalnya perhatian perangkat-perangkat pelayanan di lingkup Jemaat, Klasis dan Sinode terhadap pelaksanaan amanat Haluan Umum Kebijaksanaan Umum Pelayanan (HKUP) 2015-2019 yang harus menjadi acuan dalam penyusunan program pelayanan tahunan.

“Duduk dan lihat HKUP. Jangan (red.)bikin habis HKUP sonde ada yang lihat ini HKUP. Jangan mengerjakan apa yang yang tidak direncanakan dan jangan merencanakan apa yang tidak dikerjakan. Persidangan-persidangan di tahun 2019 ini, baik di lingkup jemaat, klasis dan sinode, mohon buka kembali HKUP dan lihat sejauh mana dikerjakan. Kurangnya di mana dan apa yang harus dioptimalkan supaya ketika pergi ke Sidang Jemaat, Klasis dan Sinode kita kasi tunjuk dia pung kurang ada di sini dan yang sudah baik capaiannya sudah di sini dan seterusnya,” jelas Pdt. Mery dalam dialek Kupang.

Ketua MS GMIT, Pdt. Mery Kolimon dan Ketua MK Kota Kupang, Pdt. E. Manu-Nalle memukul tambur menandai dibukanya sidang MK Kota Kupang.

Mengingat periode pelayanan di lingkup Jemaat, Klasis dan Sinode akan berakhir tahun ini, Ketua MS GMIT mengingatkan Badan-Badan pembantu Pelayanan (BPP) dan Unit-Unit Pembantu Pelayanan (UPP) agar fokus pada program-program prioritas HKUP.

“Tidak usah bikin program terlalu banyak. Karena tahun 2019 ini akan menjadi tahun pendek. Sidang Majelis Sinode pada Pebruari dan sidang berikutnya di Agustus yang sekaligus menjadi pra sidang. Lalu Oktober kita masuk ke sidang raya. Itu berarti masa kerja di tahun ini sekitar lima bulan saja, dari Maret sampai Juli. Yang paling penting adalah berefleksi secara sungguh-sungguh, sejauh mana HKUP 2015-2019 sudah dikerjakan dan apa yang dibayangkan untuk dikerjakan empat tahun kemudian.”

Sementara terkait Sub Tema Pelayanan GMIT 2019 yakni “Kristus memberi kita daya untuk menata relasi pelayanan dalam gereja dan masyarakat sebagai murid dan kawan sekerja Allah serta relasi dengan alam sebagai sesama ciptaan Allah” (band. 1 Kor. 3:9 & Mat. 10:1), Pdt. Mery mengingatkan dua hal:

Pertama, pemberian daya atau kuasa (Yun.exousia), oleh Yesus kepada murid-murid (Gereja), bukan supaya mereka menjadi over power, melainkan kehadiran mereka memberi dampak. Mengenai hal ini ia meminta perhatian gereja terhadap isu-isu sosial dan kemanusiaan seperti, gizi buruk, stunting,perdagangan orang, literasi, dan lingkungan.

Kedua, relasi dan kawan sekerja (Yun. Sinergoi).Lingkup-lingkup dalam gereja (Jemaat, Klasis dan Sinode) saling bersinergi/bekerja sama secara internal tetapi juga secara eksternal dengan pemerintah, denominasi gereja dan agama-agama untuk menciptakan perubahan yang lebih besar ketimbang bekerja sendiri-sendiri.

Soroti Kebersihan Kota Kupang

Di hadapan Asisten Ekonomi dan Pembangunan Kota Kupang, Ir. Elvianus Wairata, mewakili Walikota Kupang, Ketua MS GMIT juga menyinggung citra buruk Kota Kupang yang menduduki peringkat kelima kota paling kotor di Indonesia. Ia berharap adanya kerja sama pemerintah kota dan gereja untuk   menangani masalah sampah perkotaan.

“Bagaimana mungkin Kupang dan Menado menjadi kota paling kotor di Indonesia, padahal Gereja paling banyak di kota ini,” kritiknya.

Ditanyai tanggapan dan harapannya kepada warga terkait citra buruk Kota Kupang sebagai kota paling kotor, Ir. Elvianus Wairata mengatakan hal ini sudah menjadi agenda Gubernur NTT karena itu ia mengharapkan peran tokoh agama dalam membangun kesadaran warga.

“Masalah sampah plastik sudah menjadi kebijakan bapak gubenur. Plastik sangat berbahaya dalam kaitan dengan pencemaran di darat maupun laut sehingga memang peran serta masyarakat khususnya di Kota Kupang yang nota bene paling banyak adalah warga GMIT. Tentunya program-program GMIT harus bisa melihat apa yang bisa dibuat oleh jemaat-jemaat di wilayah masing-masing, meskipun sudah ada program di tiap-tiap kelurahan. Penjemaatan tentang masalah sampah oleh pimpinan agama melalui suara gembala atau warta jemaat sangat efektif karena pada umumnya jemaat lebih dengar pimpinan umat dari pada yang lain,” ujar Wairata.

Persidangan Majelis Klasis Kota Kupang diawali dengan kebaktian pembukaan yang dipimpin oleh Pdt. Stefanus Makunimau.

Ketua Majelis Klasis Kota Kupang, Pdt. Elyanor Manu-Nalle mengatakan sidang tahunan ini bertujuan mengevaluasi sejauhmana pelaksanaan program pelayanan yang diamanatkan HKUP dan dampaknya bagi pembaruan dan perubahan pelayanan guna mencapai visi dan misi GMIT. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *