Gubernur Viktor Laiskodat Dukung GMIT Bangun NTT

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Sebagai denominasi Kristen Protestan terbesar di NTT, Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), memiliki peran vital dalam mendorong pembangunan di NTT. Pernyataan ini disampaikan Gubernur NTT, Viktor Laiskodat saat menyampaikan materi tentang “Arah Pembangunan NTT” pada sesi study meeting, Sidang Majelis Sinode GMIT ke 43 di Jemaat Pniel Sikumana, Minggu, (17/2).

“Gubernur NTT tidak akan berhasil membawa mimpi besarnya selama GMIT tidak ada bersama. Ini organisasi yang sangat penting dan vital bagi pembangunan NTT,” ungkap Laiskodat.

Oleh karena itu, dalam pandangannya, pemerintah dan gereja, baik GMIT, GKS (Gereja Kristen Sumba) dan Gereja Katolik sebagai lembaga agama terbesar di NTT, perlu mengatur irama dan akselerasi yang sama dalam pembangunan demi mencapai visi NTT bangkit, NTT Sejahtera.

“Kalau irama dan akselerasinya sama, maka kita akan membawa NTT melompat cepat dalam 5 tahun ke depan. GMIT punya basis yang luar biasa di Alor, Timor, Rote dan Sabu. Karena itu sebagai gubernur, saya ingin kita bergerak bersama,” kata Laiskodat.

Konkretnya, kata Laiskodat, pemerintah provinsi NTT akan mendukung penuh termasuk secara finansial unit-unit usaha pemberdayaan ekonomi milik GMIT guna membantu pemerintah mengatasi kemiskinan.

“Sebagai gubernur, saya ingin mendorong ini (sentra-sentra ekonomi jemaat, red.), Sebutlah Kompastani (komunitas Pendeta Suka Tani) GMIT, dan Yayasan Alfa Omega. Berapa banyak pendeta dan jemaat yang terlibat? Jenis produk apa yang dihasilkan? Berapa uang yang segera dibutuhkan; apakah itu keluar dari jemaat sendiri, atau perlu dukungan dari pemerintah? Harus langsung action. Jangan cuma pada tataran perencanaan, lalu stop. Menurut saya hari ini GMIT punya perencanaan, tetapi pelaksana di lapangan dan akses (modal, red.) terbatas, padahal pemerintah punya KUR (Kredit Usaha Rakyat, red). Kita bisa dorong satu Triliun untuk GMIT.”

Akan tetapi berulang kali Gubernur juga mensyaratkan dukungan pemerintah itu mesti didahului dengan komitmen GMIT mempersiapkan infrastruktur pemberdayaan ekonomi yang kuat.

“Saya ingin melihat seseorang yang punya gerak hebat di lapangan; yang memimpin kelas gerakan pembangunan di GMIT. GMIT harus siapkan.”

Terkait rencana dukungan pemerintah kepada lembaga-lembaga agama di NTT, Ketua MS GMIT, Pdt. Dr. Mery Kolimon menyampaikan apresiasinya sekaligus menegaskan pentingnya pendekatan pembangunan lintas agama sebagai wujud komitmen menjaga kebhinekaan dan ke-Indonesiaan, termasuk dalam bidang pemberdayaan ekonomi.

Ir. Fary Francis, salah satu anggota MS GMIT berharap dukungan pemerintah provinsi NTT dapat segera difollowup melalui tiga langkah: pertama, menatakelola asset-aset GMIT terutama lahan-lahan yang selama ini terabaikan untuk pengembangan pertanian sebagaimana yang telah digeluti Kompastani GMIT. Pada sektor ini pemerintah dapat membantu dengan membuka jaringan pemasaran dan promosi.  Kedua, penyediaan sarana-prasarana seperti embung dan sumur bor untuk mendukung ketersediaan air. Dan ketiga, memanfaatkan potensi-potensi di lokasi-lokasi tertentu yang di masa mendatang akan menjadi pusat pengembangan pendidikan dan ekonomi seperti Observatorium Timau di Amfoang.

“Observatorium Timau di Amfoang merupakan yang terbesar di Asia Tenggara. Di masa mendatang banyak orang akan datang ke sana. Kita harus mulai dengan mempersiapkan jemaat-jemaat di sana supaya jangan sampai suatu saat mereka hanya menjadi penonton. Kita siapkan fasilitas camping, misalnya. Ini bisa menciptakan lapangan kerja bagi jemaat,” ujar Ir. Fary Francis yang kini menjabat Ketua Komisi V DPR RI.” ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *