Bahan Pemahaman Alkitab: Lukas 13:31-35

Pdt. Emile Hauteas, Ketua UPP Kemitraan dan Hubungan Oikumenis MS GMIT

Kupang, www.sinodegmit.or.id, Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Injil Lukas masuk dalam daftar Injil sinoptik. Oleh karena itu kita sering tergoda (sebagai hal yang biasa) untuk cepat membandingkan teks tertentu yang kebetulan ada juga di Injil yang lain (Matius dan Markus). Sama seperti teks ini, 13:31-35 dapat juga dibandingkan dalam Injil Matius 23:37-39) tentu dengan penyampaian yang sedikit berbeda. Kita tentu saja terbuka untuk pembandingan ini.

Yang ingin saya angkat dalam pengantar PA ini adalah bahwa teks ini ada dalam fase perjalanan Yesus menurut edwards Jr. Dalam bukunya yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, Injil Lukas Dalam Cerita, Edwards memilah/ membedah  Injil Lukas 4 bagian besar. Bagian Pertema : Kelahiran yang telah lama dinantikan (1:1-2:52. Bagian Kedua : Pekerjaan Yesus di Galilea (3:1-9:50) Bagian Ketiga : Cerita Lukas tentang perjalanan Yesus (9:51-19:27). dan bagian keempat/bagian terakhir : Klimaks di Yerusalem (19:28-24:53). Dan bacaan PA kita hari ini Lukas 13:31-35 berada di bagian ketiga, dalam pembagian menurut O.C  Edwards,Jr.

Menurut Edwards Jr., bagian ini seakan-akan merupakan perjalanan Yesus ke Yerusalem tetapi perjalanan ini tidak memiliki langkah yang pasti maupun arah yang jelas.Bahwa dalam setiap pasal ada gambaran tentang jarak yang ditempuh dan kegiatan yang dilakukan  tetapi itu semua tidak lebih dari sebuah bingkai kerja yang,  tetap saja selalu ada kesulitan untuk mengatur crita-cerita yang ada secara berurutan (kronologis) termasuk menentukan perjalanan Yesus secara geografis.  Beberapa ahli telah mencoba membandingkan urut-urutan topik dalam cerita perjalanan Yesus dengan cerita perjalanan dalam kitab Ulangan, tetapi upaya ini pun tidak berhasil.

Walaupun cerita perjalanan Yesus ini dalam setiap episode tidak saling berkaitan namun cerita tersebut sudah cukup menggambarkan perjalanan Yesus, yang sangat menentukan. Ungkapan “mengarahkan pandangan” merupakan suatu ungkapan yang padat dan mengandung  kesungguhan dalam perjanjian lama.(9:51) sebab hampir genap waktunya Yesus diangkat ke Sorga. Terjemahan kata kerja “diangkat” digunakan Lukas di tempat lain untuk menunjukkan peristiwa kenaikan Yesus ke Sorga. di sini, ungkapan tersebut menunjukkan pada penyaliban, kebangkitan, kenaikan yaitu segala sesuatu yang berkaitan dengan exodus yang dilakukan Yesus dalam peristiwa pemuliaan.

Cerita pertama mengingatkan kita pada kitab Ulangan. utrusan yang dikirim Yesus untuk membuat persiapan mengingatkan kita kepada 12 orang mata-mata yang diutus Musa (Ul.1:24)sekaligus juga ada penunjukan-penunjukkan yang mengarah pada Elia . Perkataan Yakobus dan Yohanes mengenai api yang turun dari langit sebenaarnya mengarah kepada 2 Raja2 1:10 ketika elia melakukan penghukuman; yang Yesus tidak mau melakukaanya. juga ketika ada seseorang  pamitan kepada keluarganyasebelum ia mengikut Yesus (Luk 9:61) sebenarnya ia meminta ijin sama seperti yang diberikan Elia kepada Elisa (1 Raja-raja 19:20)

Tidak jelas dikataka mengapa orang samaria menolak Yesus (9:53)penolakn ini jelas untuk mengingatkan pembaca tentang penolakan di nazaret pada awal pelayanan Yesus.

Lukas juga hendak menjelaskan Perjalanan sebagai alat cerita dan bukan kronologi

Pertama : Orang Farisi datang kepada Yesus dan menyuruh meninggalkan tempat ini, karena herodes akan membunuhnya. empat pasal yang bercerita tentang perjalanan, ternyata Yesus belum juga jauh berjalan, masih saja di daerah kekuasaan Herodes Antipas yang berkuasa atas Galilea dan Perea. (13:31)

Bagitu juga dengan Herodes yang ingin membunuh Yesus padahal semula ingin mengetahui tentang Yesus (11:39-44)

Penggunaan 2 kata : I Must (Aku harus) dan It can not be (tidak semestinya) mengandung arti kegiatan nubuat perjanjian Lama akan digenapi. Baik Herodes maupun Farisi tidak dapat memahami peristiwa ini. (ini nubuatan) Bahkan meeka tidak mengerti akan periode waktu, yakni 3 hari, yang jelas menunjukkan rentang waktu yang pasti, yang telah ditentukan dan tidak berubah lagi.

Dalam teks ini kita mendapat kesan kuat bahwa seorang nabi yang kematian-Nya di Yerusalem telah dinubuatkan. Karena kenyataannya tidak seorang pun nabi-nabi dalam PL dibunuh di Yerusalem oleh pemuka agama Yahudi. Lukas hanya sedikit menunjukkan bukti Alkitabiah bahwa nabi seperti Musa telah dinubuatkan akan dibunuh dalam melakukan misinya. Bagian ini justru mau mengantisipasi masuknya Yesus ke Yerusalem ketika Ia disambut dengan kata-kata , “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan.” (19:38).

Refleksi

Yerusalem. Setiap tahun orang datang berbondong-bondong untuk melakukan perayaan keagamaan. situasi ini dapat digambarkan sebagai bentuk penyembahan yang sungguh menyukakan hati. Tetapi kota ini, bagi Yesus adalah tempat kematian-Nya. Bukan tempat orang mendapatkan berkat dan keteduhan hati tetapi kemasgulan hati dalam menyongsong maut. Apakah ini juga bisa menjadi rujukan, kenapa sampai saat ini Yerusalem menjadi kota yang masih menyimpan pertikaian dan permusuhan?

Kedua. Kalau teks ini kita baca sebagai nubuat di mana Yesus kelak akan mati di Yerusalem, apakah setiap kota yang selalu disanjung sebagai tempat orang bertemu dengan Allah, justru pada saat yang sama juga menyimpan sisi lain dimana tidak ada damai sejahtera . Pada tataran lebih konkret, bisa jadi gereja  yang dalam banyak pandangan sebagai oase orang mendapatkan susana perjumpaan dengan Tuhan justru pada saat yang sama menjadi oase yang mengerikan karena di sana juga gereja bisa beraroma kematian. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *