Para Pendeta Dihimbau Cukupkan Diri Dengan Gaji

So’e-TTS, www.sinodegmit.or.id, Menyampaikan suara gembala pada kebaktian penahbisan 13 pendeta, Minggu, (24/3), Ketua Majelis Sinode GMIT, Pendeta Dr. Mery Kolimon mengingatkan seluruh pendeta GMIT agar mencukupkan diri dengan gaji, bukan mencari-cari penghasilan tambahan.

“Kami ingatkan seluruh pendeta, hiduplah ugahari. Sekarang ini kesejahteraan pendeta sudah terjamin melalui gaji pokok yang telah diatur dalam sistem bergereja kita. Cukupkan diri dengan gaji. Fokuskan upayamu bukan untuk tambahan penghasilan tetapi menyejahterakan jemaat,” tegas Pdt. Mery.

Peringatan tersebut tidak hanya ditujukan kepada pribadi, melainkan juga kepada para orang tua yang telah mempersembahkan anak-anak mereka untuk menjadi pendeta GMIT.

“Kami sungguh-sungguh meminta kepada para orang tua, jangan intervensi berlebihan pada pelayanan para pendeta. Kami meminta padamu, mereka sekarang adalah pemimpin jemaat, dukung mereka dalam doa dan nasihat, jika dibutuhkan dan diminta. Tetapi jangan berlebihan. Dukung mereka juga untuk hidup ugahari bersama jemaat. Jangan paksa mereka untuk menampilkan hidup mewah.”

Penegasan ini penting sebab menurut Ketua MS GMIT, Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat yang menjadi wilayah pelayanan GMIT hingga sekarang masih bergumul dengan segudang persoalan sosial seperti kemiskinan, kekeringan, perdagangan orang, gizi buruk, stunting, putus sekolah, dan lain-lain. Lantaran berbagai masalah tersebut, para pendeta diharapkan menyatakan komitmen yang sungguh pada tugas pelayanan yang berdampak bagi pertumbuhan iman dan kesejahteraan masyarakat.

“Tugas kita adalah menyampaikan dan mengerjakan pengharapan yang berasal dari kuasa Injil Kristus. Kita mesti menjadi komunitas para murid yang cerdas dan mencerdaskan. Terus-menerus belajar, dan berhikmat… Bekerjalah dengan sungguh-sungguh bagi perubahan dalam gereja dan masyarakat sesuai visi Kerajaan Allah untuk langit dan bumi yang baru di wilayah pelayan GMIT. Jadilah motivator pertanian dan usaha-usaha kecil lainnya,” himbaunya.

Ketiga belas tenaga pendeta yang ditahbiskan yakni: Ade Darni Suryani Banu, Grace Aryani Nope, Jelly Touselak, Jenny Amelia Missa, Jemmy Pieter Nixon Djesuah, Kaa Listiani Mau Resi, Laura Yulia Gheda Meza, Maria Antonetha Boimau-Sailana, Maryanti Soli Umbu zogara, Nixon Yonatan Boling, Sahaya Zedly Manafe, Yoan Christie Eunike Jusuf dan Yoktanzone H.S. Sanam.

Dengan penambahan 13 tenaga pelayan tersebut kini jumlah pendeta yang melayani di GMIT sebanyak 1.440 orang. Sebagai salah satu denominasi Kristen Protestan terbesar di Indonesia, GMIT memiliki anggota sekitar 1.500.000 orang, 2. 586 jemaat lokal dan 46 klasis yang tersebar di seluruh provinsi NTT, (minus Sumba), sebagian provinsi NTB, Batam dan Surabaya.

Menurut Pendeta Mery, dengan jumlah pendeta sebanyak itu, terdapat dua tantangan yang sedang dihadapi GMIT saat ini yakni: spiritualitas dan relasi antar kawan sepelayanan. Karena itu ia mendorong para pendeta agar senantiasa memperkuat identitas sebagai gembala dengan cara tekun berdoa dan membaca Alkitab, menjadi teladan iman dan sahabat bagi satu dengan yang lain serta tidak terjebak dalam sentimen senior yunior atau primordialisme daerah dan almamater. Diingatkan pula agar para pendeta menjadi figur yang mampu menyelesaikan masalah bukan pembuat masalah

Pdt. Yoktanzone Sanam dalam kesan dan pesan mewakili para pendeta baru yang ditahbiskan menyatakan syukur kepada Tuhan Yesus Pemilik dan Kepala Gereja serta menyampaikan terima kasih yang tulus kepada GMIT yang telah membentuk, memanggil, dan mengutus mereka menjadi pelayan.

Memiliki motto hidup “God is good all the time, all the time God is good” Pendeta Yoktanzone mengatakan bahwa karena Tuhan itu baik sepanjang waktu dan sepanjang waktu Tuhan senantiasa baik maka berbahagialah setiap orang yang mau menjadi teman sekerja Allah.

Kebaktian penahbisan berlangsung pukul 08.00 WITA di Jemaat GMIT Imanuel So’e dipimpin oleh Pdt. Fransina Faot-Ledoh, Pdt. Yusuf Nakmofa dan Pdt. Laura Y. G. Meza.

Bupati TTS, Epy Tahun dalam sambutannya berharap para pimpinan umat beragama khususnya gereja menjadi mitra yang saling menopang dengan pemerintah dalam membangun kehidupan masyarakat menuju kehidupan religious, moral dan etika yang baik. Ia juga meminta jemaat-jemaat dimana para pendeta baru akan ditempatkan agar mendukung mereka dalam pelayanan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *