Strategi Politik Butuh Data Bukan Cuma Doa

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Melakukan strategi politik sebagai bagian dari pendidikan politik warga, Gereja perlu menyiapkan data. Bukan cuma doa.

Pernyataan ini dilontarkan oleh Rudi Rohi, SH, M.Si, staf pengajar ilmu politik dari Universitas Nusa Cendana Kupang saat menyampaikan materi pada Seminar dan Lokakarya Pendidikan Politik yang diselenggarakan oleh Majelis Sinode GMIT, Kamis, (28/3).

Rudi mengatakan sepanjang masa-masa kampanye politik seperti sekarang, pada setiap hari minggu, gereja bisa mengumpulkan data mengenai aspirasi politik warga sehingga mereka didewasakan dan cerdas berpolitik.  Apalagi, struktur gereja yang mengerucut sampai pada level rumah tangga akan memudahkan gereja menyiapkan data base.

“Peran gereja dalam pendidikan politik sangat penting oleh karena Gereja mempunyai struktur yang cukup lengkap sampai di desa bahkan sampai level rumah tangga. Struktur ini bisa dimanfaatkan untuk mengumpulkan data. Misalnya data mengenai perilaku pemilih dan sebagainya. Tiap hari Minggu kebaktian di gereja 1-3 kali. Kalau semua jemaat kita minta isi satu pertanyaan saja, sebagai contoh: Caleg (calon legislatif) seperti apa yang anda pilih? A. Se-agama, B. Cakap, dan seterusnya, maka saya kira kita akan punya data yang sangat lengkap mengenai perilaku pemilih. Jemaat di Gereja A punya perilaku pemilih seperti ini, di jemaat B seperti itu,” ujarnya.

Rudi Rohi, SH, M.Si

Dengan data yang akurat seperti itu, kata anggota Jemaat GMIT Pniel Oebobo ini, gereja bisa melakukan intervensi pendidikan politik yang tepat sesuai kebutuhan warganya. Sebaliknya tanpa data, gereja hanya bisa tikam lutut dan berdoa.

“Gereja bisa intervensi kalau punya data. Jika hari ini gereja tidak punya data, gereja mau intervensi apa? Paling hanya bisa tikam lutut dan berdoa, seolah-olah Tuhan yang nanti kirim data dan semua beres. Gereja perlu bikin data base, bikin strategic planning, bikin pemetaan kebutuhan apa saja agar supaya gereja bisa keluar sebagai sebuah gerakan politik yang utuh,” kritik Rudi.

Dalam materi berjudul “Mengenal Strategi Kontestasi dalam Pemilu”, Rudi mengemukakan sedikitnya empat point penting dalam memainkan strategi politik electoral, yakni: Politik identitas, money politic, hoax dan populisme.

Ekses yang timbul dari empat hal ini perlu dipahami dan diwaspadai oleh warga pemilih agar tidak terjebak oleh kekuatan-kekuatan politik yang bertarung. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *