“Provokasi” Pendeta Bikin Pemuda GMIT Noelsinas Ini Ubah Lapangan Bola Jadi Kebun Produktif

James Amnahas (35), Pemuda GMIT yang sukses ubah lapangan bola jadi kebun beromset jutaan rupiah. Foto: wanto/infokomgmit.

KUPANG, www.sinodegmit.or.id,  Berawal dari ajakan pendetanya, James Amnahas (35), pemuda GMIT Oemathonis Noelsinas ini berhasil menyulap lapangan bola menjadi kebun produktif. Hebatnya lagi, dari hasil berkebun itu, James bisa beli mobil sendiri.

Ditemui di lahan bekas lapangan bola yang sudah dua tahun berubah menjadi kebun hortikultura ini, James yang sehari-hari bekerja sebagai guru honorer, menuturkan kisah awal ia jatuh hati menjadi petani.

“Dulu lahan ini dipakai anak-anak main bola. Waktu Pak Pendeta Markus Leunupun pindah melayani di gereja kami, beliau bilang lahan ini bagus untuk ditanami sayur-sayuran. Pulang rumah, saya pikir-pikir, jangan-jangan ini suara Tuhan untuk saya. Jadi, dua hari kemudian saya mulai bikin bedeng,” ujar James.

Pdt. Markus Leunupun, Ketua Majelis Jemaat GMIT Oemathonis Noelsinas

Sebagai petani pemula, Pendeta Leunupun bersama penyuluh pertanian dari PT. Panah Merah, mendampingi James menanam melon. Sialnya, 1.500 pohon melon tersebut gagal panen karena hama.  Ia merugi sekitar 3 juta rupiah.

Namun, kegagalan itu tidak membuatnya patah semangat. Berkat dukungan sang istri, Yetsi Timneno, James mencoba sekali lagi.

“Waktu melon gagal panen, saya belajar bahwa bertani tidak selalu untung. Pasti ada risiko. Tapi syukur, istri saya kasi penguatan untuk coba sekali lagi dengan tanaman lain. Akhirnya dengan dukungan Pak Pendeta dan Pak Elias Taemnanu dari PT. Panah Merah, saya ganti dengan tanam buncis, tomat dan cabe. Hasilnya di luar perkiraan. Kerugian melon bisa ditutup. Saya untung sekitar tiga juta rupiah dan sejak itu saya mulai tekun bertani. Pulang sekolah saya urus kebun.”

Agar bisa mengakses bantuan pemerintah melalui dana desa, Pendeta Leunupun membentuk kelompok tani khusus pemuda yang diberi nama “Pelangi”. Nama ini dipilih lantaran, kata Pendeta Leunupun, para anggotanya berasal dari berbagai latar belakang. Ada pengangguran putus sekolah, sopir, peternak dan pegawai negeri. Bahkan beberapa orang anggota berasal dari denominasi Gereja Pantekosta dan Katolik. James menjadi salah satu anggota dari kelompok tani yang berjumlah 16 orang ini.

Lokasi lapangan bola yang kini dialihfungsikan menjadi kebun hortikultura.

Merasa yakin dengan hasil kebunnya, bapak dua anak ini membeli sebuah mobil sedan. Ada kisah lucu saat ia mengantar hasil kebunnya kepada pelanggan di pasar Inpres Naikoten-Kupang. Pelanggan mengira James seorang sopir yang bekerja pada seorang bos pemilik mobil sedan itu.

“Satu kali saya pakai mobil muat sayur ke Pasar. Pas buka pintu oto, pelanggan kaget lihat di dalam oto penuh sesak dengan sayur.  “Lu muat sayur di oto begini banyak, lu pung bos sonde marah ko?”  Jadi, saya jawab dengan senyum-senyum, “Bos ada keluar daerah jadi beta pakai tahan ini oto.”

Ditanyai apa kebanggaannya menjadi petani, James menilai bahwa menjadi petani itu sama dengan menjadi bos untuk diri sendiri.

“Dulu sebelum bertani, sebagai suami, saya malu juga minta uang di istri. Walaupun istri seorang pegawai tapi kalau minta uang terus-terus, malu juga. Tapi dengan usaha kebun sekarang, saya merasa jadi bos untuk diri sendiri. Tidak ada orang yang perintah saya. Kapan waktu saya mau kerja, terserah saya,” ujar James.

Di sela-sela kegiatan pelatihan hortikultura yang diselenggarakan oleh UPP Kaum Bapak Jemaat GMIT Oemathonis Noelsinas-Klasis Kupang Barat, Selasa, (14/5), James mengaku memasuki bulan puasa sekarang, pendapatannya naik karena harga sayur-mayur di pasar cukup baik. Dalam masa empat kali panen buncis dan tomat di lahan seluas setengah hektar ini, ia mengaku sudah memperoleh penghasilan sekitar lima juta rupiah. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *