Perencanaan Program Pelayanan Berbasis Analisa Sosial di GMIT (bagian II)

Nunumeu-Soe, www.sinodegmit.or.id, Analisis Sosial adalah usaha memperoleh gambaran yang lebih lengkap tentang sebuah situasi sosial dengan menggali hubungan-hubungan historis dan strukturalnya.

Materi tentang pokok ini disampaikan oleh Dr. Karen Campbell-Nelson, pada kegiatan Training of Trainers (ToT) bertema, “Perencanaan Pelayanan Jemaat & FGD Draf HKUP GMIT 2020-2023”, materi di Jemaat GMIT Getsemani Nunumeu, Klasis So’e, Senin, (3/6).

Karen Campbell-Nelson, membagi topik ini dalam tiga sub yakni: analisa garis waktu, analisa pohon masalah dan anlisa pohon kehidupan.

Pertama, analisa garis waktu. Metode ini mengajak peserta untuk mengingat dan menuliskan peristiwa-peristiwa sosial, ekonomi, politik, budaya dan lingkungan, pada periode 1950-69, hingga 2000-2019. Sejauh mana peristiwa-peritiwa itu berdampak bagi gereja dan bagaimana respon gereja terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi?

Kedua, analisa pohon masalah. Metode ini membantu peserta mengidentifikasi pokok, dampak dan akar masalah dengan memakai metafora pohon.

Ketiga, analisa pohon kehidupan. Dengan memakai metafora yang sama, peserta mencoba menemukan sumber-sumber daya atau kekuatan yang tersedia untuk pembangunan jemaat.

Selanjutnya pada materi refleksi teologis, Pdt. Dr. John Campbell-Nelson memperkenalkan beberapa pendekatan, yakni:

Pertama, Missio Dei: Metode ini bersifat refleksi dengan satu pertanyaan: apa yang Tuhan mau? “Ada masalah, di mana anak-anak muda terlalu banyak pergaulan bebas dan terjadi kehamilan di luar pernikahan. Ada cara menyelesaikannya dengan siapkan alat KB banyak-banyak. Pertanyaanya adalah apakah hanya itu cara gereja untuk menangani masalah kehamilan? Bisa saja efektif tapi kita berefleksi dulu, kita tanya Tuhan punya mau apa dalam kondisi ini?”

Kedua, Pendekatan Tema Alkitab: Pendekatan ini dilakukan dengan cara mencari sejumlah perikop dalam Alkitab yang sesuai dengan peristiwa yang dihadapi untuk dikhotbahkan atau didiskusikan dalam kelompok.

Ketiga, Pendekatan Doa. “Caleg datang minta didoakan supaya dia menang, padahal dia tahu ada caleg lain yang minta doa yang sama. Apakah anda tidak munafik di depan Tuhan dengan berdoa supaya dua-duanya menang padahal hanya satu yang bisa? Ada orang sakit, menuju kematian dan minta doa supaya sembuh. Boleh saja. tapi susah, dia perlu siap untuk menghadapi maut dari pada pegang harapan semu untuk sembuh. Doa mana yang harus kita angkat? Doa adalah wadah berteologi. Jadi salah satu pola yang bisa kita pakai adalah kasi tenang hati dan berdoa mengenai masalah-masalah itu. Selesai berdoa kita berdiskusi dari doa itu apa yang kita temukan dan apa yang bisa kita lakukan, supaya doa itu terwujud.”

Keempat, pendekatan pembebasan, yakni menemukan tema tertentu mengenai pembebasan Allah kepada kaum yang lemah dan tertindas, misalnya, pembebasan dari Mesir, Babel, dan pernyataan Yesus ketika berkhotbah di Nazaret (Luk.4).

Kelima, Pendekatan Metaforis. Pendekatan ini mengajak peserta untuk menemukan metafora Allah dalam budaya lokal. “Gandhi pernah bilang untuk orang lapar kadang-kadang Tuhan hanya bisa nampak dalam bentuk roti ketimbang dalam sebuah doa. Orang sudah mau mati tapi kita hanya doakan dia dan tidak upayakan obat. Ada saatnya Allah hadir dalam bentuk perawatan atau pengobatan.”

Keenam, pendekatan hukum dan Injil. Metode ini mempertemukan aspek hukum dan anugerah. Misalnya, dalam menghadapi kebiasaan mabuk minuman keras, ada amarah Tuhan namum ada juga anugerah Tuhan. Apa yang bisa gereja lakukan untuk membatasi kejatan yang membuat Tuhan marah dan apa yang bisa gereja lakukan untuk menunjukan anugerah Allah.

Menanggapi keseluruhan materi analisis sosial dan refleksi teologis tersebut Pdt. Mariana Djukambani dari Jemaat GMIT Mio-klasis Soe mengatakan pelatihan ini menolongnya melihat masalah dan sumber daya di jemaat secara mendalam dan kritis.

“Melalui analisis sosial garis waktu, kami ditolong untuk lebih peka pada kondisi sosial yang ada dalam jemaat untuk dibuat dalam program. Sebelum mengikuti pelatihan ini kami hanya melakukan kegiatan yang sifatnya formalitas seperti perlombaan paduan suadara atau vocal grup, tapi dengan kegiatan ini menolong saya untuk merencanakan program pemberdayaan ekonomi,” kata Pdt. Mariana.

Sebagai pendeta yang baru melayani tiga tahun, ia mengaku, ToT ini memudahkannya membaca dan menjabarkan dokumen HKUP GMIT. Ia juga mengharapkan pelatihan ini tidak hanya dilakukan untuk kepentingan penjaringan konsep program HKUP jelang Sidang Sinode tetapi dibuat secara berkala. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *