Klasis Rote Barat Laut Gandeng PPMT-Soe Latih Pertanian Organik

Rote,www.sinodegmit.or.id, Adalah keliru jika orang mengatakan tugas perutusan gereja sebatas berkhotbah. Itu hanya salah satu, bukan satu-satunya.

Menyadari misi gereja yang demikian, Klasis Rote Barat Laut (RBL) bekerja sama dengan Pusat Pelatihan Misi Terpadu (PPMT)-So’e membuat pelatihan pertanian organik bagi para petani.

Sebagai langkah awal membangun kemitraan, Pendeta Seprianus Haan, Ketua Klasis RBL, mengatakan pelatihan ini fokus pada jemaat-jemaat yang pendetanya pernah mengikuti pelatihan pertanian di PPMT-Soe dan anggota Komunitas Pendeta Suka Tani (Kompastani) GMIT.

“Di Klasis RBL ada tujuh pendeta yang pernah belajar pertanian organik di PPMT. Jadi, kehadiran PPMT di sini sebagai tindak lanjut pendampingan guna mendorong pemberdayaan ekonomi jemaat,” ujar Pdt. Sepri.

Pelatihan dilaksanakan di 14 jemaat antara lain: Jemaat GMIT Getsemani Adek, Jemaat Gosyen Oenitas, Jemaat Talitakumi Mboeain, Jemaat Elim Aduoen, Jemaat Betel Tolama, Jemaat Zaitun Telunulu, Jemaat Polikarpus Oepapan, Jemaat Ebenhaeser Amalou, Jemaat Getsemani Touiu, Jemaat Betel Henulain, Jemaat Talitakumi Manamolo, Jemaat Horeb Takaoen-Liuk, Jemaat Kemah Ibadat Oeoko dan Jemaat Patmos Nuse.

Jenis kegiatan yang dilatih adalah pembuatan pupuk organik, pestisida dan herbisida organik.

John Tio, pimpinan PPMT-Soe, mengatakan misi utama dari lembaga yang ia pimpin adalah mendorong gerakan pertanian organik.

“Misi utama dari PPMT adalah pertanian organik. Tujuannya supaya mengajarkan petani bahwa bertani itu mudah dan tidak butuh uang banyak. Tuhan sudah menyediakan kebutuhan petani di alam sekitar. Itu yang kami bawa sebagai brand,” kata John.

Ia mengisahkan contoh sederhana tentang cara mengatasi walang sangit yang menyerang padi.

“Hama walang sangit itu tidak punya mata. Ia mengandalkan indra penciuman. Karena itu cara mengusirnya tidak perlu pakai pestisida kimia. Taruh saja bangkai katak atau tikus di sekitar pematang sawah. Ketika mencium bau bangkai, walang sangit “pikir” tidak ada padi di situ.

Cara membasmi gulma (rumput) pun tidak perlu herbisida kimia berbahaya dan mahal, kata John.

“Dalam pelatihan ini kami mengajarkan cara pembuatan roundup organik. Bahannya, belerang 1 ons, garam 2 kilogram dan cuka 25%. Semua bahan dicampur dengan air sebanyak 5 liter. Untuk aplikasi penyemprotan cukup 1 gelas untuk 5 liter,” jelas John.

Ditemui di Jemaat GMIT Getsemani Touiu, Jumat, (21/6), John melatih ibu-ibu mengemas gula semut secara higienis. Mereka diajar menggunakan masker dan sarung tangan sebagai standar kebersihan saat memindahkan produk ke dalam kemasan.

“Konsumen tidak melihat cara kita kemas gula semut akan tetapi kita wajib menjaga kebersihan produk saat dikemas,” ujarnya sambil mempraktikan cara mengenakan masker dan sarung tangan kepada ibu-ibu yang hadir.

Mendapat pelatihan pengemasan produk gula semut dan pembuatan pupuk organik, Yakoba Sa’u (51) mengaku pelatihan ini sangat bermanfaat.

“Selama ini kami beli pupuk dari toko untuk tanaman. Tapi Ini hari baru kami tahu bahwa kami bisa buat pupuk sendiri dari bahan-bahan yang sudah ada di kampung kami. Begitu juga dengan gula semut. Kami jual di pasar ukur pakai mok. Tapi Bapak-Bapak dari PPMT ajar kami jual gula semut dalam kemasan supaya bersih dan bisa kirim ke Kupang.

Melihat antusias jemaat yang mengikuti pelatihan ini, John mengaku senang.

“Saya senang, kerja sama dengan sinode GMIT mulai membuahkan hasil. Sudah ada sejumlah pendeta yang setelah turun dari mimbar gereja, turun juga ke kebun-kebun jemaat. Salah satu yang sudah berhasil Pendeta Yumince Pinat di Klasis Pantar Barat. Dia berhasil jadi motivator pertanian bagi jemaatnya. Dulu pemuda di situ hanya nonton sekarang mereka sudah mulai kerja. Bagi kami ketika pendeta turun  dari mimbar dan mendorong jemaat bertani dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia, itu luar biasa,” ujar John.

Ia berharap ke depannya Sinode GMIT menyiapkan pemetaan sumber daya alam di setiap klasis sehingga PPMT menyiapkan sarana prasarana pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan setempat. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *