98 Vikaris GMIT Ikut Pelatihan Pengembangan Swadaya Masyarakat

Benlutu-So’e,www.sinodegmit.or.id, Unit Pembantu Pelayanan (UPP) Personil Bidang Pengembangan Personil Majelis Sinode GMIT mengadakan pelatihan Pengembangan Swadaya Masyarakat (PSM) bagi 98 orang vikaris GMIT angkatan III.

Kegiatan berlangsung selama 25 hari terhitung tanggal 1-25 Juli 2019 bertempat di Pusat Pelatihan Misi Terpadu (PPMT) Benlutu-So’e.

Pdt. Dina Dethan-Penpada, M.Th, mengatakan pelatihan ini bertujuan melengkapi pemahaman para vikaris mengenai pelayanan holistik yang mencakup penguatan kapasitas di bidang manejemen konflik, spiritualitas, teologi politik, teologi inklusuf, pelayanan anak, konseling, analisis sosial, homilitika, administrasi dan perbendaharaan jemaat, wirausaha pertanian, peternakan, perikanan, dan lain-lain.

Dalam sejarahnya, program pelatihan PSM bagi para vikaris maupun pendeta GMIT sudah muncul sejak tahun 1980an. Yayasan Alfa Omega (YAO), sebuah badan pelayanan milik GMIT yang fokus pada pemberdayaan masyarakat menangani program ini hingga berhenti tahun 1997. Pasca orde baru hingga 2017, atau selama 20 tahun itu, program ini ditiadakan karena berbagai alasan.

Melalui pengalamannya sebagai salah satu alumni PSM YAO tahun 1996, Pdt. Mery Kolimon mengatakan program PSM sangat diperlukan bagi para calon pendeta maupun para pendeta. Kepada para peserta ia menegaskan bahwa program PSM merupakan cara gereja mengartikulasikan kehadirannya supaya berdampak bagi masyarakat.

“Lebih dari dua dekade, pasca orde baru, gereja perlu merumuskan dengan ketat makna kehadirannya di tengah masyarakat. Oleh karena itu PSM lahir dari kesadaran bahwa kepemimpinan gereja di semua lingkup baik jemaat, klasis dan sinode harus berdampak pada pemberdayaan dan keswadayaan masyarakat. Jangan sampai gereja berdaya di tengah masyarakat yang tidak berdaya,” ujar Ketua MS GMIT saat menyampaikan materi mengenai pelayanan holistik GMIT.

Pdt. Juhari Yohanis, direktur misi GKY-Jakarta.

Pdt. Juhari Yohanis, direktur misi GKY menyambut gembira kerja sama ini. Menurutnya, kondisi NTT sebagai daerah Kristen sekaligus paling miskin di Indonesia mendorong pihaknya sebagai satu Tubuh Kristus untuk membantu sesama orang beriman di NTT.

“Kami senang sekali membangun sebuah kerja sama yang baik untuk pelayanan gereja di NTT. Kami sedih mendengar saudara-saudara kami di NTT disebut-sebut sebagai daerah paling miskin di Indonesia padahal sumber daya alamnya cukup tersedia” ujar Pdt. Djuhari dalam sambutannya.

Melalui PPMT, kata Pdt. Djuhari, GKY berkomitmen membangun mitra dengan gereja-gereja di NTT khususnya GMIT dan GKS untuk memperkuat kapasitas para vikaris dan pendeta dalam pelayanan holistik.

“Secara sederhana pelayanan holistik di PPMT kami pahami sebagai: Alkitab di tangan kanan; pacul di tangan kiri. Ini bukan berarti saudara-saudara pulang dari pelatihan ini dan menjadi petani. Bukan itu. Melainkan menjadi motivator bagi jemaat untuk mengelola sumber daya alam yang Tuhan sudah anugerahkan bagi mereka untuk mengatasi masalah kemiskinan,” jelas Pdt. Juhari kepada para vikaris.

Hingga angkatan III ini jumlah peserta PSM yang telah dilatih di PPMT-So’e sebanyak 278 orang. Sepanjang pengamatan PPMT, kata Pdt. Juhari, sejumlah alumni telah berhasil menjadi motivator bagi jemaat yang dilayani.  Pdt. Yumince Pinat dari Klasis Pantar Barat, adalah salah satu alumni PSM PPMT yang diundang hadir dalam kegiatan ini untuk memberi kesaksian mengenai usaha-usaha pemberdayaan ekonomi yang sedang ia kerjakan di jemaat.

Vikaris Priscilla Bere berharap pelatihan ini bisa berguna dan mendukung pelayanannya di jemaat baik  selama menjalani masa vikariat maupun kelak ketika menjadi pendeta. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *