8 Vikaris GMIT Ditahbiskan Menjadi Pendeta

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Di penghujung periode kepemimpinan 2015-2019 Majelis Sinode (MS) GMIT menahbiskan 8 vikaris ke dalam jabatan pendeta. Penahbisan ini merupakan yang ketujuh kali dalam empat tahun terakhir.  

8 vikaris yang ditahbiskan antara lain: Astrit Bonik Lusi, M.Th, Daniel Long, S.Th, Inri Metrik Oematan, S.Si Teol, Marni Asmirani Pah, M.Th, Merlin Leanisma Tanesab, S.Th, Noni Ingraeni Loe, S.Th, Rut Radja Wadu, S.Th, dan Yunita Angriyani Nawa, M.Si.

Sebelumnya mereka telah menjalani masa vikariat selama 18 bulan di jemaat.

Ketua MS GMIT Pdt. Dr. Mery Kolimon saat menyampaikan suara gembala pada kebaktian penahbisan yang berlangsung di Jemaat GMIT Elim Oeltua berharap para pendeta sungguh-sungguh menjadi berkat bagi jemaat yang dilayani.

“Wilayah pelayan GMIT di NTT masih bergumul dengan banyak pergumulan di bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan dan lain-lain, karena itu pergilah untuk menjadi berkat di manapun kalian berada,” pesan Pdt. Mery.

Kepada para orang tua yang telah mempersembahkan anak-anak mereka untuk GMIT, Pdt. Mery menyampaikan terima kasih sekaligus meminta para orang tua untuk mendukung mereka menjalani sikap hidup ugahari (sederhana). Permintaan Ketua MS GMIT tersebut dilatarbelakangi munculnya kecenderungan tuntutan biaya pernikahan yang mewah dan mahal dari keluarga kepada para pendeta yang mengurus pernikahan.

“Ada satu gejala yang kami harus kami ingatkan kepada para orang tua. Waktu lalu, usai menahbiskan lebih dari 200an pendeta, beberapa datang dengan permintaan untuk kredit di bank dalam jumlah yang besar. Baru jadi pendeta satu atau dua bulan sudah kredit puluhan juta bahkan seratusan juta untuk urus nikah. Kami minta orang tua, para pendeta bukan alat untuk memuaskan hasrat keluarga, nama dan popularitas. Kami minta para keluarga mendukung para pendeta untuk hidup sederhana, tidak harus pesta yang mewah dan mahal apalagi harus berhutang banyak,” tegas Pdt. Mery.

Mewakili para pendeta baru menyampaikan sambutan, Pdt. Marni Asmirani Pah, M.Th, berefleksi bahwa menjadi pendeta bukan untuk memperoleh kehidupan yang mapan, mendapat kehormatan, pujian dan kekuasaan melainkan menjadi sosok yang rendah hati dan tulus melayani, demi kemuliaan Tuhan. Tak lupa ia menyampaikan terima kasih kepada MS-GMIT, mentor, ko-mentor, klasis dan jemaat yang mendukung mereka dalam menjalani vikariat.

Sementara itu Kepala Biro Ekonomi dan Kerja Sama Provinsi NTT, Dr. Lery Rupidara mewakili gubernur NTT, menyambut dengan sukacita para pendeta baru untuk tugas pelayanan dalam GMIT. Ia memberi apresiasi kepada para pendeta yang telah membantu pemerintah dalam pembangunan karakter, akhlak dan iman yang menurutnya adalah pekerjaan yang paling berat.

Kebaktian penahbisan berlangsung pada Minggu, (15/9), dipimpin Pdt. Susana Lelang,-Mauko, Pdt. Marselintje Ay-Touselak dan Pdt. Rut. Rajda Wadu. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *