Yayasan Diakonia GPIB Adakan Bakti Sosial di Klasis Amfoang Selatan

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Yayasan Diakonia Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) menyelenggarakan bakti sosial (baksos) di Klasis Amfoang Selatan. Rombongan peserta baksos sebanyak 108 orang dipimpin Ketua Umum Majelis Sinode GPIB, Pdt. Drs. Paulus Rumambi, M.Si, diterima oleh Majelis Sinode GMIT, Kamis, (19/9) pukul 09.00 Wita.

Ketua panitia kegiatan Pdt. J. J. Lumanauw menjelaskan baksos berlangsung dari tanggal 19-22 September 2019. Beberapa kegiatan yang dilaksanakan antara lain: pelayanan kesehatan, penyerahan bantuan pembangunan pastori dan bantuan pakaian dewasa dan bayi, pelatihan pembuatan kerajinan tangan, pelatihan pembuatan kripik pisang, instalasi air bersih, workshop alat peraga untuk guru-guru sekolah minggu dan teknik bercerita dan terakhir usai kegiatan di Amfoang, peserta akan mengadakan kunjungan ke panti asuhan Yasap di Noelbaki.

Para peserta terdiri dari 16 pendeta, 20 penatua, 7 diaken, 10 dokter dan sisanya dari pengurus yayasan dan anggota jemaat. Mereka berasal dari jemaat-jemaat GPIB di Jakarta dan sekitarnya, Surabaya, Bali dan Kalimantan.

Ketua Umum MS GPIB dalam sambutannya berharap baksos ini tidak sekali saja dilakukan tetapi diupayakan agar usai kegiatan ini pihaknya akan mengevaluasi kebutuhan apa yang bisa ditindaklanjuti untuk membangun kerja sama dengan GMIT.

“Kami berharap baksos ini tidak berhenti di sini.  Ada ketua-ketua majelis jemaat yang hadir saat ini dari kota-kota di Surabaya, Jakarta, Bali, akan merekam apa-apa saja yang bisa ditindaklanjuti untuk kerja sama,” ujar Pdt. Rumambi.

Selain itu ia juga meminta kesediaan Majelis Sinode GMIT mengutus beberapa sarjana teologi untuk mengikuti vikariat selama 2 tahun dan ditahbiskan menjadi pendeta di GPIB.

Terkait kunjungan baksos ini Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Dr. Mery Kolimon menyampaikan terima kasih dan berharap para peserta dapat menikmati kakayaan alam Amfoang serta ikut menggumuli tantangan ekonomi, sosial, pendidikan dan ekologis yang terjadi di sana seiring dengan pembangunan obsevatorium nasional yang akan selesai pada 2020 mendatang.

“Kami mohon ketika berada di sana, teman-teman juga peka terhadap pergumulan masyarakat. Kami berharap ada agenda bersama untuk kerja sama ke depan sebagai gereja orang bersaudara,” kata Pdt. Mery. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *