Majelis Sinode GMIT Pulihkan Jabatan Pelayanan Pendeta Lewi Pingga, M.Th.

KUPANG,www.sinodegmit.or.id, Majelis Sinode (MS) GMIT memulihkan jabatan pelayanan Pendeta Lewi Pingga, M.Th, setelah 18 tahun lalu diberhentikan sebagai karyawan GMIT oleh sebab masalah rumah tangga. Kebaktian pemulihan dipimpin Pdt. Ina Bara Pa dan Pdt. Emy Sahertian.

“Kita bersyukur hari ini, 13 Oktober, kita saling menerima kembali. Saya berdiri di sini, mewakili Majelis Sinode dan seluruh GMIT, untuk kita berada bersama dipulihkan Tuhan dan melayani di GMIT,” demikian pernyataan akta pemulihan jabatan pendeta yang disampaikan oleh Ketua MS GMIT, Pdt. Dr. Mery Kolimon pada kebaktian yang berlangsung di Jemaat GMIT Anugerah Eltari,  Minggu, (13/10), pukul 08.00 pagi.

Menurut Pdt. Dr. Mery, sebelum melaksanakan kebaktian pemulihan ini, MS GMIT telah melakukan kajian terhadap dokumen-dokumen gereja mengenai masalah ini dan juga percakapan dengan sejumlah pihak termasuk Pdt. Lewi dan istri. Hingga akhirnya Persidangan MS pada Pebruari 2018 memutuskan untuk memulihkan jabatan yang bersangkutan.

“Sebenarnya proses ini sudah dimulai pada periode Majelis Sinode 2011-2015. Kami menerima catatan [tentang masalah ini] dan kami berproses… Saya juga telah mengirim pesan whats app kepada sejumlah Majelis Sinode Harian yang bergumul dengan persoalan Bapak Lewi pada masa lalu … Semua menyambut positif kebaktian pemulihan hari ini… [karena itu] Kebaktian hari ini adalah bagian dari akta berteologi gereja. Gereja berusaha memahami apa yang Tuhan kehendaki bagi hidup dan misinya,” kata Pdt. Mery saat menyampaikan suara gembala.

Di hadapan jemaat GMIT Anugerah yang turut menyaksikan dan merasakan dampak dari peristiwa yang terjadi tahun 2001 tersebut, Ketua MS GMIT menyampaikan refleksinya bahwa selalu ada harga yang mesti dibayar dari peristiwa keretakan relasi dalam rumah tangga terutama keluarga pendeta sebagaimana dialami Pdt. Lewi.

“Saya belajar dari percakapan itu bahwa ketika perpecahan dalam keluarga terjadi, ada harga yang dibayar. Ketika relasi dengan gereja menjadi retak identitas kependetaan pun menjadi goyah, tapi saya juga belajar bahwa hanya Tuhan yang sungguh-sungguh memulihkan dan kita sebagai gereja terpanggil untuk menegur kesalahan, membalut yang terluka, dan memulihkan yang menyesal dan bertobat sebagaimana yang diajarkan Tuhan Yesus kepada kita murid-muridNya.”

Setelah pemulihan jabatan pelayanan tersebut, Ketua MS GMIT menghimbau seluruh jemaat GMIT agar memberi ruang bagi Pdt. Lewi untuk melayani sesuai aturan gereja.

“Setelah pemulihan ini Bapak Pendeta Lewi kembali melayani dalam lingkungan GMIT … Kami menghimbau seluruh jemaat GMIT termasuk Jemat Anugerah agar memberi ruang bagi Bapak Lewi untuk melayani sesuai peraturan gereja kita,” ujar Pdt. Mery.

Menerima kembali pemulihan jabatannya, Pdt. Lewi menyatakan syukur kepada Tuhan dan terima kasih kepada MS GMIT yang telah memperhatikan pergumulan yang dihadapinya selama 18 tahun. Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada jemaat Anugerah dan seluruh jemaat GMIT jika persoalan rumah tangganya di masa lalu melukai hati jemaat.

“Saya benar-benar sadar bahwa [peristiwa] itu sangat melukai hati jemaat, karena itu dari hati yang paling dalam, saya mohon Jemaat Anugerah mau mengampuni dan menerima saya apa adanya. Sebagaimana pikiran teologis saya bahwa dalam hidup ini persoalan seberat apa pun hanya akan bisa diatasi jika kita mau mengampuni, melupakan dan memperlakukan orang yang telah melakukan hal itu seolah-olah dia tidak pernah melakukannya. Saya juga mau menyatakan mulai hari ini dan seterusnya kapan pun jemaat membutuhkan pelayanan saya, saya akan datang dengan sukacita karena saya sudah diterima kembali,” ujar Pdt. Lewi saat menyampaikan isi hatinya kepada jemaat.

Penatua Jonas David Manu, mengaku senang dan memandang moment pemulihan ini sebagai sebuah peristiwa surprise bagi Jemaat Anugerah, yang menjadi tempat pelayanan Pdt. Lewi selama 17 tahun.

“Sangat surprise ketika minggu lalu kami dengar pengumuman bahwa Majelis Sinode GMIT akan mengadakan kebaktian pemulihan bagi Pak Lewi. Kami senang sekali karena begini lama persoalan ini tidak ada kepastian. Kami menganggap Pak Lewi keluarga kami. Waktu kebaktian pelepasan Pak Lewi sebagai pendeta jemaat Anugerah 18 tahun lalu, jemaat gendong dari mimbar sampai keluar pintu halaman gereja. Itu adalah tanda cinta kami kepada beliau karena dia sangat dekat dengan jemaat. Apalagi ia melayani jemaat ini ketika sedang dalam masa-masa yang sulit. Akan tetapi karena aturan gereja bilang begitu ya kami terima.”

Sukacita yang sama juga diungkapkan Penatua Wehelmina Dama.

“Kami sangat gembira menyambut pemulihan Pak Lewi. Kami meyakini hal ini sebagai jawaban Tuhan. Harapan kami pemulihan ini juga sungguh-sungguh berdampak bagi pemulihan pelayanan dalam gereja juga terutama rumah tangga beliau.”

Pdt Lewi Pingga ditahbiskan menjadi menjadi pendeta tahun 1975 dan ditempatkan di Jemaat Imanuel Kefamnanu. Tahun 1984 ia dimutasikan ke Jemaat GMIT Anugerah Eltari-Kupang hingga tahun 2001. Tahun 1998, ia menyelesaikan studi master teologinya di Internasional Seminary Theological, Los Angeles-Amerika Serikat. Bagi masyarakt NTT, ia dikenal sebagai pemain musik sasandu dan pelatih paduan suara. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *