Roh Penyembuh dan Sumbangannya Bagi Persidangan Sinode GMIT KE-34

ROH PENYEMBUH DAN SUMBANGANNYA BAGI PERSIDANGAN SINODE GMIT KE-34
(Pdt. Dr. Fredrik Y.A. Doeka dan Pdt. Dr. Ira D. Mangililo)
Pdt. Dr. Ira D. Mangililo

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Dalam suasana sukacita karena Kristus, pertama-tama, Pascasarjana Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) mengucapkan salam kasih dalam semangat Kristus yang telah mati dan bangkit bagi kita, khususnya bagi para peserta persidangan Sinode GMIT ke-34. Semoga Allah Bapa di Surga mengaruniakan hikmat bagi tiap peserta untuk menghasilkan pikiran-pikiran rohani bagi pengembangan GMIT ke depan.

Kedua, Pascasarjana UKAW memandang perlu untuk memberi perspektif eklesiologis terkait tema Sidang: “Roh TUHAN Menjadikan dan Membaharui Segenap Ciptaan (Bnd. Mazmur 104:30)”. Tema ini mendasari persidangan kali ini dan membimbing warga GMIT dalam pelayanan 4 tahun ke depan. Terkait tema ini, tersirat 3 unsur penting yang menjadi satu kesatuan tubuh yaitu Pencipta, Manusia – Binatang, dan Alam Semesta. Kesatuan tiga unsur ini kemudian membimbing kita untuk memahami bahwa tubuh GMIT mengandung 3 unsur penting ini.
Ketiga, bahwa sebagai tubuh yang mengandung 3 unsur di atas, maka GMIT hendaknya memandang dan mengaktualisasi dirinya dalam rupa-rupa aktivitas dengan memperhatikan persekutuan 3 unsur: yakni Pencipta, Manusia – Binatang, dan Alam Semesta. Sebagai Pencipta, Allah dalam gambaran Pemazmur adalah Allah yang memiliki visi, kreatif, dan penuh kegembiraan dalam dan bersama ciptaanNya. GMIT sebagai salah satu karya besar ciptaan Allah hendaknya memahami dirinya sebagai yang sedang bekerja berdasarkan visi, kreativitas dan semangat kegembiraan Allah. Sementara itu, manusia, sebagai yang diciptakan oleh Allah, memiliki tugas mulia yaitu memelihara dan merawat tubuh alam semesta.
Pdt. Dr. Fredrik Y.A. Doeka

Pemeliharaan dan perawatan ini menentukan keutuhan, kesehatan, dan kegembiraan alam semesta. Namun dalam kenyataan, keadaan alam di NTT, NTB, Surabaya, dan Batam, yang merupakan lingkup pelayanan GMIT, menunjukan potret dirinya yang rusak. Kemarau panjang, kekeringan, kebakaran hutan, eksploitasi bahan-bahan tambang dan mineral secara berlebihan adalah bukti nyata dari kehancuran tubuh alam semesta. Salah satu penyumbang kehancuran ini adalah manusia. Tindakan manusia yang gagal memelihara dan merawat alam semesta ini menunjukan bahwa diri manusia itu sendiri sedang sakit. Keadaan sakit ini menunjukkan ketiadaan Roh Allah di dalam diri manusia.

Dengan demikian jelas, bahwa kita semua sedang sakit. Mengapa? Karena Allah sudah tidak suka dengan kita bahkan DIA membuang muka saat bertemu dengan kita. Dalam kondisi kesakitan ini, manusia tidak berdaya! Untuk itu manusia perlu ditolong. Siapakah di antara sesama manusia yang sakit ini yang bisa menjadi penyembuh bagi sesamanya? Jawabannya: TIDAK ADA. Di sinilah tindakan Allah untuk membuka Tangan-Nya dan mengirimkan Roh-Nya untuk menyembuhkan manusia menjadi penting. Dalam pekerjaan-Nya, Roh Allah memampukan kita yang sedang rapuh dan ringkih ini untuk mengumpulkan kekuatan secara bersama dan kemudian berjuang untuk sembuh bersama-sama. Ketika dihubungkan dengan pekerjaan Yesus Kristus di dunia, tindakan Yesus untuk turun ke dunia, rela menderita, dan bahkan mati di kayu salib memperlihatkan keberpihakan Allah melalui Yesus terhadap manusia yang rapuh dan ringkih; bahwa melalui bilur-bilur-Nya manusia menjadi sembuh!
Keempat, berdasarkan uraian di atas maka GMIT hendaknya memandang dirinya sebagai yang sedang sakit: rapuh dan ringkih. Untuk itu GMIT patut memberi ruang bagi pekerjaan Roh Allah sebagai Roh Penyembuh di dalam dirinya. Dengan demikian kita yang sakit dapat pula saling menyembuhkan. Akan tetapi, biarlah kehendak Allah yang jadi dan bukan kehendak warga GMIT. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *