Bercermin dari Persidangan Sinode GMIT XXXIV – Suara Gembala Pdt. Dr. Mery Kolimon

Kebaktian Perhadapan MS GMIT Terpilih 2020-2023 dan penutupan Persidangan Sinode GMIT XXXIV, Rabu, (23/10).

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Hakikat dari sebuah persidangan gereja, bukan sekadar wadah evaluasi program pelayanan dan pengambilan keputusan, tetapi terutama merupakan momentum perayaan pesta iman dalam rangka mensyukuri tuntunan dan rahmat Tuhan bagi gerejaNya dari waktu ke waktu.

Sebagai perayaan iman, baru saja pada 15-22 Oktober 2019, Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) menyelenggarakan Persidangan Sinode XXXIV. Beberapa bulan menjelang berlangsungnya persidangan empat tahunan itu, anggota-anggota GMIT di 2.500 jemaat dan 46 klasis, tak henti-henti bertelut dan berdoa memohon Roh Tuhan menyertai persidangan ini agar berlangsung dalam suasana persekutuan kasih, persaudaraan yang karib dan bermartabat.

Selain memutuskan sejumlah keputusan penting mengenai penataan pelayanan dan keorganisasian, agenda puncak dari persidangan tersebut adalah pemilihan Majelis Sinode GMIT periode 2020-2023. Di moment-moment inilah, komitmen seluruh peserta yang berjumlah 285 orang presbiter (pendeta, penatua, diaken dan pengajar) diuji untuk sungguh-sungguh berpikir, berbicara dan bertindak mendahulukan kehendak Tuhan.

Adanya agenda pemilihan 9 orang pimpinan sinodal di ujung persidangan itu, mau tidak mau berujung pula pada sejumlah konsekuensi politik sebagaimana sering terjadi pada pemilihan-pemilihan pejabat politik di pemerintahan. Beragam cara pemaksaan kehendak, kecurigaan, tudingan, sindiran, kampanye hitam, ujaran kebencian, hoax, intrik, bahkan intimidasi berseliweran seakan-akan hal-hal itu wajar dilakoni oleh para hamba Tuhan dalam sebuah persidangan gerejawi yang kudus.

Pdt. Dr. Mery Kolimon, Ketua MS GMIT terpilih periode 2020-2023.

Mencermati dan mengalami suasana persekutuan yang diwarnai oleh ketegangan komunikasi dan keretakan relasi akibat jebakan kepentingan masing-masing kelompok sepanjang 8 hari perhelatan iman tersebut, Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Dr. Mery Kolimon melontarkan pernyataan bernada keras.

“Stop fitnah dan intimidasi. Stop hoax dan ujaran kebencian. Stop stigma dan diskriminasi. Stop primordialisme dan klik kepentingan. Stop teror dan tekanan dalam bentuk apapun. Stop manis di muka dan menusuk di belakang. Kalau ada kesalahan datang dan bilang … daripada kita cerita di belakang begini, begini dan begini,” ucap Pdt. Mery dengan nada tinggi saat menyampaikan suara gembala pada ibadah penutupan sidang, Rabu, (23/10) di gedung kebaktian Jemaat Paulus Kupang.

Pernyataan bernada tegas itu kemudian disambut tepuk tangan panjang dari seratusan umat dan peserta sidang yang hadir, namun pernyataan itu sekaligus merupakan pengakuan adanya sinyalemen praktik-praktik tidak etis terjadi dalam perhelatan pemilihan pimpinan-pimpinan gereja di salah satu sinode Gereja Protestan terbesar di republik ini.

Menurut penilaian teolog feminis yang terpilih lagi memimpin GMIT pada periode 2020-2023 ini, sistem pemilihan pejabat gereja di lingkup sinode GMIT cenderung menciptakan iklim politik yang tidak sehat.

“Sistem pemilihan kita membuat kita seperti … bagaimana ya, kita baku lihat juga tidak senyum tulus lagi, dan itu luar biasa. Mari kita sadar bahwa ada sesuatu yang tidak sehat di gereja kita …,” ujarnya prihatin.

Dengan terang, Pdt. Mery juga mengajukan pertanyaan kritis terkait keputusan persidangan sinode GMIT XXXIV yang menerima hasil pemilihan Majelis Klasis di 12 klasis yang bermasalah karena terjadi sejumlah pelanggaran dalam proses pemilihan. Bahkan terhadap hasil pemilihan Majelis Sinode periode 2020-2023 ia mengajukan otokritik yang sama.

“Kita juga bergumul dan bertanya apakah keputusan terkait 12 klasis adalah kehendak Tuhan? Dan, apakah Majelis Sinode yang terpilih [juga] adalah kehendak Tuhan?”

Foto bersama Panitia Persidangan Sinode dan MS GMIT.

Kendati diliputi kegelisahan teologis yang demikian, Pdt. Mery meyakini dengan sungguh bahwa karya Roh Kudus tidak bergantung pada kerapuhan dan keretakan persekutuan umat. Sebab itu ia mengajak peserta persidangan dan seluruh warga GMIT untuk percaya pada Roh Tuhan yang terus bekerja membaharui gerejaNya.

“Saya sendiri percaya melalui kerapuhan kita Allah bekerja. Bahkan di tengah-tengah keretakan persekutuan kita, Roh Tuhan tetap ada. Dia memperbaharui dan pembaharuan itu terjadi terus menerus. Dia memulai bersama kita dalam persidangan ini dan Dia akan memimpin kita GerejaNya,” demikian pesan pastoral peraih penghargaan internasional Sylvia Michel Prize tahun 2017 ini.

Pada kesempatan yang sama Pdt. Mery juga mengapresiasi dua keputusan penting yang dihasilkan dalam persidangan ini yakni Haluan Kebijaksanaan Umum Pelayanan (HKUP) 2020-2023 dan grand desain pendidikan GMIT 2020-2031 yang dinilainya sebagai sebuah tanda kemajuan GMIT di periode ini.

“Kalau kita jujur, ada keputusan-keputusan yang luar biasa [yang dihasilkan]. HKUP kita, ada orang yang bilang lebih baik, mungkin bukan yang terbaik tapi kita hasilkan dari satu proses yang matang… Tidak ringan, tapi periode ini Tuhan akan memakai kita, membuka banyak perspektif untuk perkara-perkara besar. Ada grand desain pendidikan. Kita tidak hanya berhenti di curhat dan mengeluh tapi kita sudah punya dokumen strategis [pendidikan] yang membantu kita mau bergerak ke mana di tahun-tahun yang akan datang. Kita bersyukur untuk hal-hal baik seperti itu.”

Mengakhiri Persidangan Sinode GMIT XXXIV, Ketua MS GMIT juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung kelancaran persidangan ini antara lain kepada pemerintah provinsi NTT dan Kota Kupang, Pemerintah Daerah Kabupaten Kupang, Rote-Ndao, Sabu-Raijua, TTS dan Alor yang memberi dukungan anggaran lebih dari setengah dari total anggaran persidangan senilai 2,5 Milyar rupiah.

Pdt. Mery juga memberikan apresiasi kepada tuan dan nyonya rumah, panitia dan seluruh peserta yang konsisten pada rentang waktu 8 hari persidangan dan komitmen pengurangan sampah plastik.

“Kita bersyukur waktu mulai persidangan ada percakapan hangat apakah kita bisa sidang 8 hari?  Biasanya sidang berlangsung selama 10 hingga 12 hari sehingga ada yang bilang, musti siap-siap tambah hari. Puji Tuhan kita berhasil 8 hari. Ada juga komitmen untuk kurangi sampah plastik dan penggunaan kertas yang berlebihan dan tidak perlu. Puji Tuhan kita berhasil. Tidak banyak sampah plastik dalam sidang ini.”

Mengakhiri suara gembala ini, Pdt. Mery mengumumkan waktu serah terima jabatan Majelis sinode dan ex officio akan berlangsung pada 9 Januari 2020. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *