Merengkuh Dayung Pelayanan di Pulau Landu -Pdt. Kolsinus Kalvin Benu

Cerita Pengalaman Melayani di Pulau Terpencil

Pdt. Kalvin bersama anaknya Calvary yang masih bayi menyeberang ke Pulau Landu

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Tak banyak orang tahu di Selatan Pulau Rote, terdapat sebuah pulau kecil bernama Landu. Dalam Bahasa Rote, Landu artinya bersorak atau tertawa. Penggunaan kata ini berhubungan dengan seseorang yang berlaku gokil di depan publik yang mengundang tawa. Mungkin beberapa kisah pengalaman saya melayani di Landu juga mengundang tawa pembaca. Namun melalui kisah-kisah unik ini saya belajar memahami cara Tuhan bekerja bersama orang-orang kecil dan bagaimana hikmat Tuhan menolong saya melayani bersama mereka.

Landu terletak di Rote bagian Barat, desa Landu Thii, kecamatan Rote Barat Daya. Pulau ini berhadapan langsung dengan benua Australia. Menurut nelayan lokal, jarak tempuh dari Landu menuju Australia menggunakan perahu layar butuh waktu sekitar satu minggu. Itulah sebabnya Pulau Landu seringkali menjadi tempat transit para imigran gelap dari berbagai negara yang hendak meminta suaka di Australia.

Gedung Kebaktian Jemaat GMIT Tiberias Landu Thii

Jika berkunjung ke pulau Landu, kita akan disambut dengan tanaman bunga tapak dara (Latin: Catharanthus roseus) yang tumbuh liar di atas hamparan pasir putih pantai yang indah. Pada tahun 1995, pulau tersebut terkenal dengan budidaya tiram mutiara yang sempat menjadi komoditi masyarakat. Sayang sekali, eksploitasi berlebihan mengakibatkan jenis kerang mutiara ini hilang pada awal tahun 2000an.

Di pulau kecil seluas 643 ha ini, berdiri Jemaat GMIT Tiberias Landu Thii dan dan satu pos pelayanan bernama Namolinok Lohaen. Jemaat Tiberias berada di ujung Timur pulau, sedangkan Pos Pelayanan Namolinok berada di ujung Barat. Jumlah warga GMIT sebanyak 557 jiwa (data 2016). Di sinilah selama lima tahun saya menghabiskan waktu melayani sebagai pendeta.

Untuk sampai ke Pulau Landu Thii, butuh waktu sekitar 1 jam perjalanan dari Ba’a menuju arah Nemberala. Tiba di Pasar Tuda Meda, belok kiri menuju Desa Oebou, lalu ke arah Selatan sampai tiba di dermaga Deate. Kemudian lanjut lagi perjalanan laut menggunakan perahu motor ± 20 menit, anda sudah dapat menginjakkan kaki di Pulau Landu Thii. Warga di sini sangat bersahabat. Luas perkampungan ± 1,3 km, sehingga tidak sulit untuk mengunjungi seluruh jemaat dalam sehari. Rumah-rumah penduduk berdekatan. Ruang gerak setiap hari hanya berkisar dari rumah jemaat, laut, perahu, dan gereja.

Karena pemukiman yang padat, dalam waktu satu hari seluruh warga selalu bertemu. Tidak sulit juga untuk menebak orang yang berjalan pada malam hari dari bunyi langkah kakinya. Terkadang, kampung menjadi sepi di pagi hari dan sore hari. Kecuali aktifitas bermain anak-anak sekolah, seluruh jemaat sibuk mengurus rumput laut atau membersihkan pukat. Di akhir bulan, diadakan ibadah petani rumput laut, dan diakhiri dengan pertemuan kelompok tani. Pertemuan ini juga melibatkan kelompok-kelompok nelayan pencari ikan.

Jemaat yang saya layani berdampingan dengan Jemaat Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Tirza Landu. Uniknya, masyarakat Landu merasa memiliki dua gereja tersebut. Selalu bersama-sama melaksanakan kegiatan kerohanian maupun sosial. Jemaat merasa baru adil jika membagi perpuluhannya untuk dua gereja tersebut. Demikian juga perlakuan untuk kedua pemimpin gereja. Tidak baik kalau hanya memberi ikan untuk pendeta GMIT, harus juga untuk Pendeta GPdI. Begitulah cara warga di sini menyatakan cinta dengan tidak membeda-bedakan para hamba Tuhan yang berbeda denominasi. Suasana pelayanan yang sama juga terasa di Pos Pelayanan Namolinok.

Jika musim angin badai tiba, tidak ada perahu yang berlayar. Saya berjalan kaki dari ujung Timur pulau menuju pos pelayanan di bagian Barat. Kurang lebih dua jam perjalanan. Saya selalu ditemani Penatua John Haning, Wakil Ketua Majelis Jemaat. Ia suka menceritakan kisah hidup dan pelayanannya bersama Semuel Messakh. Saya ingat beberapa ceritanya bahwa mereka berdua pernah menyusun batang korek api sebagai kompas untuk mengarahkan perahu menuju ke Australia. Saya baru pernah mendengar cara unik ini. Biasanya nelayan yang tidak punya kompas memanfaatkan bintang sebagai penunjuk arah, tapi kedua sahabat pelayanan ini punya hikmat lokal sendiri. Juga kisah mengenai nasib keduanya dipenjara di Australia, pernah menyelam dan menemukan bekas perkampungan di dasar laut yang berhadapan dengan Batutua, dan tidak lupa cerita pengalamannya pertama kali merintis Jemaat Landu Thii.

Semangat bersekutu dan beribadah jemaat di sini sangat baik. Berbeda sekali dengan suasana di jemaat-jemaat GMIT lain yang cenderung hanya diikuti oleh anggota keluarga serumah. Ibadah kategorial-fungsional berlangsung setiap hari. Di samping itu ada doa-doa yang berkaitan dengan pekerjaan di laut. Jika ada waktu luang, usai memimpin doa saya ikut melepas pukat atau memanah ikan dan mencari lobster bersama-sama.

Ada satu kejadian yang tak pernah saya lupakan. Sekali waktu seorang nelayan meminta saya mendoakan persiapannya melaut. Ketika masuk pintu rumah, sudah tersedia nazar di atas meja. Saya bertanya apa yang mau didoakan?  Dengan polosnya ia menjawab, “Bapak Pendeta tolong doakan saya karena saya mau melepas bom ikan, biar supaya berhasil dan aman dari kecelakaan.” Saya kaget bukan main. Saya tolak. Ekspresi wajahnya berubah. Ia seperti tidak bisa terima saya menolak mendoakan niatnya. Kemudian saya menjelaskan maksud doa yang benar dan kami kemudian berdoa. Bersyukur, usai peristiwa itu hubungan kami tetap baik-baik saja. Sekarang bisnis hasil lautnya sedang maju.

Di suatu waktu, saya diberi alat panah ikan dan kacamata selam oleh jemaat. Saya lantas membeli senter selam untuk melengkapi perlengkapan penyelaman. Saya mulai belajar menyelam, mencari ikan, udang, cumi-cumi, dan gurita. Pekerjaan saya bertambah. Memimpin doa di atas perahu dan turut menyelam. Terkadang, ketika hendak melaut, saya dilema untuk memilih perahu mana yang harus saya naiki sebab ada tiga atau empat perahu yang berharap saya bersama mereka.

Di antara semua nelayan di perahu-perahu itu, ada dua orang nelayan yang jarang sekali beribadah. Mereka hanya bertekun di perahu dan melaut. Namun dari persahabatan yang kami bangun di atas perahu dan menyelam bersama, kini yang seorang menjadi majelis jemaat dan yang satu lagi menjadi pemain musik di gereja.

Ibadah bulanan di pinggir pantai

Di dasar laut, ada pemandangan terumbu karang yang sangat indah. Tetapi ada juga wilayah yang karangnya hancur akibat bom ikan. Tidak sulit untuk saya mengejar ikan saat itu dan memanah. Setelah itu kami pulang ke rumah. Dalam ibadah pemuda minggu itu, saya mengajak para pemuda untuk menanam benih karang di laut. Mereka bilang itu tidak bisa dilakukan. Saya pernah berkonsultasi ke Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Rote-Ndao. Katanya sulit. Harus ada pemilihan lokasi, pembuatan rak dan jaring, pemilihan bibit, penanaman dan pemantauan yang rutin. Butuh puluhan tahun untuk tumbuh menjadi karang dewasa. Ternyata sangat mudah merusak terumbu karang tetapi sulit untuk menumbuhkannya kembali. Saya juga ingat kasus tumpahan minyak Montara di perairan Laut Australia pada tahun 2009 dan merembes masuk ke perairan Laut Timor Indonesia. Lebih parah lagi, Australian Maritime Safety Authority (AMSA) menyemprotkan bubuk kimia dispersant yang sangat beracun untuk tenggelamkan sisa tumpahan minyak Montara ke dasar laut Timor. Jemaat yang saya layani turut merasakan imbasnya. Sejak saat itu, rumput laut tidak subur, lembek sebelum masa panen, mudah terserang penyakit dan harganya menurun. Di tahun 2018, Perwakilan dari Australia dan PEMDA Rote-Ndao mengadakan pertemuan yang diselenggerakan di Gedung Gereja GMIT Tiberias Landu untuk berdialog dengan petani rumput laut. Kasus itu diperjuangkan. Pada tanggal 17 Juni 2019 diadakan sidang gugatan di Sydney, Australia. Salah satu pesertanya adalah Kepala Desa Landu, Semuel Messakh. Kini, masih menunggu keputusan atas kasus tersebut. Semoga ada keadilan untuk jemaat Landu Thii dan juga beberapa jemaat kepulauan di GMIT.

Di waktu yang lain, ketika saya dan dua orang sahabat sedang asyik memancing, tiba-tiba kami di ’tilang’ oleh TNI Angkatan Laut yang berpatroli. Kami tidak bawa identitas apapun. Beruntung kami tidak ditahan. Kepada kami dijelaskan bahwa ada banyak perahu dari luar Rote yang masuk secara ilegal, dan menyelundupkan barang-barang terlarang. Ada juga yang mengambil hasil laut dengan menggunakan pukat harimau, atau menumpahkan racun untuk mencari lobster. Setelah pulang, saya mengumpulkan fotocopy KTP para nelayan, kemudian ke Kantor Dinas Kelautan dan Perikan Ba’a untuk mengurus Kartu Nelayan. Setelah dicek, diketahui bahwa saya seorang pendeta GMIT dan kartu saya tidak bisa dicetak. Saya bilang yang penting jemaat punya dicetak. Setelah pulang sampai di Landu, saya diberitahu bahwa kartu saya juga diterbitkan. Syukurlah, saya memiliki sebuah kartu nelayan sejak tahun 2017 dan valid sampai 2022. Kalau suatu saat saya pulang kampung, semoga masih dalam masa berlaku sehingga tidak perlu kuatir untuk ditilang lagi ketika melaut apalagi dituduh mencuri di negeri sendiri.

Suatu kebiasaan di pulau itu adalah jika ada pesta harus disediakan binatang darat dan binatang laut. Binatang darat misalnya sapi, kerbau, babi, kambing dan domba. Sedangkan binatang laut seperti ikan, penyu dan hiu. Alasannya ialah supaya adil karena masyarakat Landu hidup di darat dan laut. Untuk memperoleh binatang laut, terdapat dua atau tiga perahu yang melaut sampai satu minggu kemudian pulang dengan tangkapan puluhan penyu dan ikan yang melimpah. Sebuah pesta sudah layak digelar. Sekarang penangkapan penyu sudah dilarang. Ada jemaat yang pernah ditangkap aparat dan dihukum. Bupati Rote-Ndao telah menetapkan manaholo (Lembaga adat yang mengawasi laut) bagi masing-masing wilayah perairan di Rote Ndao, dengan menggunakan aturan yang disebut hoholok. Jika ada yang melanggar akan dikenakan sanksi sesuai aturan itu. Setiap nelayan dan anak cucunya mesti tahu hoholok dan menaatinya.

Pdt. Kalvin bersama istri Elsy Lima dan anak sulung, Calvary

Menjelang hari natal, 23 Desember setiap tahun, merupakan malam untuk beberapa nelayan berjaga-jaga di Pantai Selatan pulau Landu, dengan cara bersembunyi. Pada 24 Desember, ketika hampir pagi, biasanya ada beberapa ekor penyu yang keluar dari laut dan bertelur di pasir.  Nelayan yang berjaga-jaga sepanjang malam, akan berlari cepat-cepat menuju penyu yang datang dan membalikan tubuh penyu di atas pasir. Penyu itu akan menjadi santapan malam bagi keluarga setelah ibadah malam kudus di gereja. Beberapa keluarga mengundang saya untuk berdoa kemudian makan bersama di malam kudus itu. Apa boleh buat? Semoga tidak terjadi lagi untuk natal tahun ini. Sebab para penyu pun ingin merayakan natal dalam kehidupan mereka.

Pada tanggal 25 Desember, tidak ada acara selamat natal seperti di tempat lain. Saya pernah lakukan upaya ‘paksa’ tapi tidak ada hasil. Acara selamat baru berlangsung pada 1 Januari. Biasanya setiap keluarga mempersiapkan uang minimal satu juta rupiah untuk membeli panganan berupa kue, minuman kaleng, rokok, biskuit, makanan ringan untuk anak-anak, dll.) untuk dibagi-bagikan kepada tamu termasuk tamu dari desa-desa tetangga. Anak saya Kalvary yang baru berusia 2,5 tahun memperoleh banyak sekali hadiah ketika dia ikut selamat bersama anak-anak sekolah minggu. Katanya anak pendeta harus dapat lebih banyak. Ada dua orang majelis jemaat yang ikut di bekalang Kalvary yang bertugas memikul beberapa kantung kresek berukuran besar berisi penuh makanan ringan. Saking banyaknya sampai-sampai ada sebagian diantar lebih dahulu ke rumah, sebagiannya lagi menyusul dari belakang bersama Kalvary. Semoga ketika dia besar nanti kisah ini mengingatkannya untuk kembali mengunjungi teman-teman seangkatannya di Landu.

Seandainya kami buka kios mungkin makanan ringan milik Kalvary bisa jadi modal usaha.  Tapi jangan lupa, usai perayaan natal dan tahun baru kami dikepung oleh sampah plastik. Para pemuda GMIT dan GPdI membersihkan lingkugan sekitar pantai, namun setiap hari natal dan tahun baru tiba, setiap keluarga mempersiapkan uang, merayakan natal, dan sampah datang lagi. Semoga tahun ini tidak terjadi.

Ada kepercayaan bahwa laut memiliki roh-roh yang jahat. Biasanya keluar pada waktu tertentu, tapi terutama antara bulan Februari sampai Mei setiap tahun. Roh-roh itu mengganggu masyarakat dalam rupa-rupa penyakit. Pernah terjadi di setiap rumah ada yang sakit tetapi tidak mau minum obat dari rumah sakit, apalagi ke Puskesmas Batutua. Hanya mau untuk didoakan. Tetapi kadang penyakit dialami oleh binatang peliharaan. Di suatu waktu banyak babi piaraan mati dalam waktu satu minggu.

Di Pulau itu, hanya ada satu sumur air tawar di bagian Selatan. Sisanya sumur air asin atau payau yang dipakai untuk mandi dan cuci. Jika sumur air tawar kering maka masyarakat membeli air tengki dari Pulau Rote. Gara-gara muat air, seorang Majelis Jemaat pernah tenggelam dengan sampan. Beruntung ia selamat. Untuk menolong warga pemerintah memberi bantuan mesin suling air laut, tetapi sayang, belum lama digunakan, alatnya sudah rusak. Begitulah nasib proyek-proyek bantuan pemerintah bernilai miliaran di banyak tempat.  Warga hanya diberitahu cara pakai tapi tidak dilatih cara perbaiki kalau-kalau alatnya rusak. Padahal bila warga dilatih atau pemerintah secara berkala memeriksa peralatan yang banyak menyumbang bagi hayat hidup orang banyak tersebut, mungkin tidak perlu nila setitik merusak susu sebelanga.

Ada juga kejadian rob di mana air laut naik sampai ke rumah-rumah penduduk, hingga ada perahu dari luar wilayah yang terdampar di pulau Landu, termasuk perahu para imigran gelap. Yang terakhir tahun 2017, dua kapal asal Myanmar membawa puluhan orang menuju Australia, mereka dihalau keluar oleh aparat setempat dengan hanya diberi bekal air minum dan bahan bakar, kemudian kapal itu kembali dan terdampar di Landu. Di antara para penumpang, terdapat seorang ibu dan bayinya yang belum genap 1 tahun. Mereka masuk ke gereja dan menangis sambil berdoa. Kami berusaha menghibur mereka dengan keterbatasan bahasa kami, dan tidak membuat mereka ketakutan. Warga datang dengan membawa pakaian dan makanan. Mereka diberi air untuk mandi. Kemudian mereka diangkut oleh polisi menuju Kupang.

Jika musim angin badai tiba, tidak ada yang melaut. Para nelayan berburu kambing hutan untuk dimakan. Berulang-ulang terjadi pertengkaran serius antara masyarakat dengan orang-orang bule yang tinggal di bagian Selatan Landu. Anjing milik bule itu terlepas, lalu masuk ke hutan dan banyak kambing yang mati digigit. Saya dan kepala desa merasa lelah setiap kali ditelepon untuk pergi mengurus kasus itu.

Hingga saat ini terus teringat di benak saya pantai Serai Inar yang indah. Semoga suatu saat pantai itu kembali menjadi milik orang pribumi, dan ketika saya kembali ke sana, bisa dengan bebas menginjakan kaki tanpa diusik, duduk melingkar bersama jemaat Lohaen, bersatu dalam ibadah nelayan dan petani rumput laut, bercerita tentang gelombang laut, berenang di pantai, memanah ikan, gurita dan cumi-cumi di tempat itu. Kembali menjadi penjala ikan dalam kebebasan meskipun saya bukan lagi pendeta jemaat mereka.  Semoga! ***

*Pdt. Kolsinus Kalvin Benu, saat ini sedang menjalani studi pasca sarjana di Universitas Duta Wacana Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *