Prof. H. Abdul Mukti: Banyak Gereja Berdiri, Makin Bagus untuk Bangsa

Prof. Dr. Abdul Mukti menyampaikan materi pada panel diskusi subtema SR XVII PGI, Sabtu, (9/11-2019) di Waingapu-Sumba Timur.

Waingapu-Sumba Timur, www.sinodegmit.or.id, Kerap munculnya ketegangan antar umat Islam dan Kristen di beberapa wilayah di Indonesia terutama terkait pendirian rumah ibadah, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Abdul Mukti menanggapi dengan santun. Menurutnya semakin banyak gereja bertumbuh, justru semakin bagus bagi bangsa Indonesia.

“Sebagian dari saudara-saudara saya merasa sedih kalau misalnya gereja terus bertumbuh. Tetapi sebenarnya saya tidak terlalu sedih karena semua gereja selalu mengajak kepada kebaikan. Semakin banyak gereja maka semakin bagus bangsa ini. Tentu saudara-saudara Nasrani juga tidak boleh terlalu merasa sedih ketika melihat masjid terus bertumbuh, karena masjid-mesjid itu mengajarkan kebaikan,” ungkap Mukti ketika menyampaikan materi pada panel diskusi sub tema Sidang Raya XVII yang berlangsung di Gedung MPL Hapu Mbay, Waingapu-Sumba Timur.

Untuk itu kata Mukti, perlu ada komitmen bersama antarumat beragama. Dan hal itu sudah terbukti di banyak tempat di Indonesia yang mana umat Kristen dan Islam secara bersama-sama sharing the same wall,dibangun dengan tembok yang sama dan semuanya memahasucikan Tuhan walaupun dengan kitab suci yang berbeda. Keunikan semacam ini menurutnya merupakan kekuatan bangsa Indonesia yang tidak dimiliki oleh bangsa lain di dunia.

Relasi antara Muhammadiyah dan PGI, kata Mukti, sejauh ini berjalan harmonis yang diwujudkan melalui berbagai kerja sama. Ia memberi contoh pengajuan judicial reviuw terhadap beberapa Undang-Undang diantaranya UU Migas dan UU nomer 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit yang diinisiasi secara bersama-sama dan hasilnya dikabulkan Mahkama Konstitusi. Karena itu menurutnya dalam membangun kerja sama harus ada personal proxibility. Kedekatan antar para tokoh agama dan terutama kedekatan antar umat beragama.

Mengaku banyak belajar dari teolog Kristen Paul Knitter, Mukti mengatakan umat beragama di Indonesia harus punya kepedulian yang sama kepada yang menderita.

“Bumi ini milik semua manusia, apapun agamanya. Manusia bisa berangkat dari kitab suci yang berbeda tetapi di lapangan mereka bisa melakukan hal yang sama demi kemanusiaan. Pada sisi kemanusiaan inilah sebenarnya manusia bisa bersatu dan bekerja sama. Dan itulah yang bisa kita lakukan untuk membangun Indonesia yang rukun, Indonesia yang bersatu,” kata Mukti.

Kendati diakuinya bahwa ada ‘wilayah’ dalam agama yang memang berbeda namun lebih banyak ‘wilayah’ dalam agama yang juga punya kesamaan. Mengutip tema SR PGI “Akulah Yang Awal dan Yang Akhir” dari Wahyu 22:12-13, Mukti mengatakan bahwa dalam Alquran pun mengatakan hal yang sama.

“Harus kita katakan bahwa kita berbeda tapi lebih banyak wilayah yang kita bisa bersama-sama. Kita bisa naik pesawat bersama-sama walaupun ketika take off kita membaca doa yang berbeda-beda. Kira-kira itulah Indonesia. Di pesawat yang sama yang bernama Indonesia itulah, kita harus punya arah dan tujuan yang sama. Kita harus punya visi yang sama bahwa Indonesia harus terbang menuju cita citanya menjadi negara yang adil dan Makmur.”

Ditanyai oleh peserta dari Aceh Singkil dan Kalimantan terkait penutupan gereja oleh ormas-ormas tertentu di wilayahnya, Mukti mengatakan bahwa persoalan-persoalan yang selama ini terjadi diakibatkan oleh kurangnya acceptability(penerimaan) kepada kelompok yang berbeda. Bahkan dikatakan bahwa yang mengalami kesulitan mendirikan tempat ibadah bukan hanya umat Kristen tetapi diantara sesama umat Muslim pun terjadi.

“Kami yang Muslim pun mengalami kesulitan. Bahkan kami yang Muhammadiyah pun demikian. Tetapi yang menghalangi bukan pemeluk agama lain, melainkan sesama Muslim. Ada umat Islam yang tidak suka sesama umat Islam yang berbeda mendirikan masjid. Kami mengalami itu di Aceh. Sehingga kami mendorong agar regulasi-regulasi terutama Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri perlu dilihat kembali,” ujarnya.

Karena itu menurut Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) ini, yang perlu didorong sekarang adalah inklusi sosial dan atau budaya keramahtamahan bukan toleransi formalistik.

Selain Prof. Abdul Mukti, panel diskusi subtema SR XVII PGI “Bersama Seluruh Warga Bangsa, Gereja Memperkokoh NKRI yang Demokratis, Adil dan Sejahtera Bagi Semua Ciptaan Berlandaskan Pancasila dan UUD 1945” menghadirkan Luhut Binsar Panjaitan (Menteri Koordinator Kemaritiman Investasi), Dr. Adriana Elisabeth (Koordinator Damai Papua) Pdt. Dr. Andreas A. Yewangoe, dan Gideon Mbilijora (Bupati Sumba Timur). ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *