Dunia Sebagai Tubuh Allah

  1. Dualisme berpikir Allah vs Dunia

Dalam studi-studi teologi atau pun keagamaan umumnya, telah menjadi pengetahuan umum bahwa Allah tak mungkin dikenali sepenuhnya oleh manusia. Sebabnya sederhana, bahwa manusia terbatas, sementara Allah tak terbatas. Manusia ada dalam wilayah duniawi yang fana (empirik-fisik-material), sedangkan Allah ada di singgasananya yang jauh, soliter, sebagai realitas transenden yang tak terjangkau oleh panca indera manusia. Distansi antara Allah dan manusia sedemikian rupa, bahkan terpisahkan akibat kejatuhan manusia ke dalam dosa. Teologi Protestan mewarisi dualisme berpikir ini selama berabad-abad.

Pdt. Gusti Menoh

Dunia bahkan dilihat sebagai sesuatu yang sekuler, hina, kotor, buruk, tak sempurna, rendah, penuh dosa. Sedangkan Allah serba suci, kudus, luhur, Ilahi, transenden, dan sempurna. Keduanya tak mungkin bersatu atau saling terkait, karena berbeda natur (kodrat). Sadar atau tidak, teologi semacam ini turut melahirkan tindakan eksploitasi dan pengrusakan atas alam, karena dunia dipandang rendah sebagai objek pemenuhan kebutuhan manusia semata. Akibatnya adalah bencana alam, kerusakan lingkungan, pemanasan global, banjir, longsor, kelaparan pun terjadi di berbagai belahan dunia secara mengerikan.

Menyadari akan berbagai bencana alam dan kerusakan lingkungan hidup yang terjadi secara masif beberapa dekade terakhir, sejumlah teolog (juga ilmuan di berbagai bidang) ikut memberikan sumbangan pemikiran, termasuk juga memahami kembali dunia secara baru. Sallie McFague (lahir 1933), teolog perempuan Amerika yang baru saja meninggal dunia, punya pandangan baru soal dunia. Bagi McFague, dunia merupakan tubuh Allah. Dunia adalah inkarnasi diri Allah secara radikal. Dunia bukan sesuatu yang terpisah dan berjalan sendiri lepas dari Allah. Menurut McFague, Allah tidak di atas sana terpisah dari dunia, melainkan ada di dalam dan melalui dunia.

Tulisan ini mengacu pada artikel McFague, INTIMATIONS OF TRANSCENDENCE: Praise and Compassion,dalam buku John D. Caputo and Michael J. Scanlon (ed.), Transcendence and Beyond,Broomington: Indiana University Press, 2007, p. 151-168. Tulisan ini dibuat sebagai penghormatan kepada Sallie McFague, sekaligus sebagai sumbangan pemikiran kepada GMIT yang sedang ada dalam bulan lingkungan hidup.

  1. Pembicaraan tentang Allah

Dalam membicarakan Yang Ilahi, McFague bertolak dari dua kenyataan dasar yang menjadi aktivitas orang beragama, yaitu kebiasaan mereka untuk memuji Tuhan dan upaya mereka untuk mencintai sesama. McFague mengandaikan kedua aktivitas itu sebagai petunjuk menuju Yang Ilahi. Ia percaya bahwa bela-rasa dan pujian saling berhubungan, karena sama-sama merupakan penghargaan estetik terhadap theother (Allah dan sesama), yang mendorong tanggapan etis. Sebagai contoh, ketika kita melihat sesuatu dan mengatakan: “itu baik” (mengandung nilai estetika); kita lalu dapat bertindak dengan cinta (secara etis) terhadap Yang Lain itu. McFague mengatakan bahwa cara untuk mewujudkan dua aktivitas ini (yang estetik dan yang etis) adalah membayangkan (mengandaikan/menganggap) dunia sebagai tubuh Allah. Berupaya untuk hidup dalam cara ini memungkinkan kita untuk melihat keindahan Tuhan melalui tubuh-tubuh ciptaan (alam, sesama, pohon, gunung, laut, dst) dan menyadari bahwa kebutuhan paling besar dari tubuh-tubuh tercinta ini adalah merawat mereka. Dengan demikian, keindahan dan kebutuhan, estetika dan etika, Tuhan dan dunia, berada dalam satu tempat di mana orang-orang memuji Tuhan dan melayani kebutuhan-kebutuhan dasar dari sesama.

3. Memandang Dunia Sebagai Tubuh Allah

Dalam upaya menangkap kemungkinan isyarat akan keberadaan Yang Ilahi, McFague mulai dengan memperlakukan dunia sebagai tubuh Allah. Ini berarti pengertian konvensional bahwa Allah adalah sesuatu yang lain dari dunia ini, sebagai yang melampaui dan terpisah dari dunia ini, mesti dipahami secara baru, bahwa Allah menjelma dalam dunia. Pemahaman ini berdasar dalam ajaran Kristen bahwa Firman menjadi daging (dalam Yesus), yaitu bahwa Tuhan berinkarnasi dalam dunia. Imanensi radikal (penyatuan penuh) ini harus tiba pada pandangan bahwa semua ciptaan (dunia) merupakan inkarnasi diri Allah, sehingga semua ciptaan dilihat sebagai tubuh Allah. Inkarnasi berarti bahwa Yang Ilahi menjadi imanen secara radikal, yakni menjadi dan menyatu secara total dengan dunia. Maka kita diundang untuk membayangkan bahwa seluruh alam semesta (semua materi dan energi dalam segala bentuknya) merupakan kehadiran Allah (Allah beserta kita/Immanuel).

Dunia sebagai tubuh Allah mengandaikan bahwa Tuhan adalah dunia di mana kita ada. Dunia sebagai tubuh Allah mengandaikan bahwa (hanya) ada satu dunia, satu realitas, dan bahwa dunia ini, realitas ini, adalah Ilahi. Yang Ilahi itu fisikal (sebagai mana juga spiritual) seperti kita. Tidak ada garis pemisah yang membagi materi dan roh, tubuh dan jiwa, alam dan manusia, dunia dan Tuhan. Melalui mediasi Tuhan via dunia, kita memuji Allah menggunakan dunia ini, karena kita tidak memiliki sarana lain untuk melakukan itu. Maka kita hanya dapat menemukan isyarat-isyarat akan Yang Ilahi di dalam dan melalui dunia, isyarat-isyarat yang membuat kita mengatakan “thank you, God!”.

Dunia sebagai tubuh Allah, bagi McFague, bukan sebuah pernyataan metafisik (bicara tentang eksistensi Allah secara filosofis), melainkan bahasa metaforik.Metafora tidak dihasilkan dalam suatu karya sistematik. Metafora adalah suatu fiksi heuristik dan bukan suatu klaim metafisik. Metafora mengundang kita untuk berimajinasi, ia menggugah rasa ingin tahu kita. Maka berbeda dengan bahasa metafisika, yang mengklaim mengetahui Allah, metafora tidak demikian. Namun dengan metode heuristic, dan dengan sedikit keberanian untuk mengatakan sedikit tentang Allah, justru kedalaman Allah bisa terungkap seperti yang dilakukan Mazmur dan para mistik mengenai Tuhan (ungakapan pemazmur tentang Tuhan sungguh dalam). Artinya walalu pun berupa fiksi, melalui metafora, sesungguhnya secerca kebenaran dapat hadir.  Sebagai contoh, metafor “cinta adalah mawar”, dapat menimbulkan pembicaraan yang tiada akhir mengenai mawar (bauhnya, keanekaragamannya, modelnya, susunannya, dan seterusnya) untuk mengatakan sesuatu mengenai “cinta” yang mengandung teka-teki itu. Demikian juga, “dunia sebagai tubuh Allah” memberi kita banyak bahasa (bahasa mengenai tubuh, bumi, daging, makanan, keindahan, kesehatan dan kesakitan) sebagai suatu cara membicarakan transendensi dan imanensi dari Allah, mengenai kehadiran Ilahi. Metafor dunia sebagai tubuh Allah merangsang kita untuk berimajinasi tentang kemahaluasan alam, keindahan dunia, mengaguminya, menghormatinya, dan tidak lagi memperlakukannya sebagai objek keserakahan kita.

McFague memberi catatan bahwa ada suatu isu mengenai bahasa metaforis dalam dialektika kekristenan klasik, yaitu antara yang sakramental dan yang profetik. Yang sakramental melihat adanya kontinuitas (ketersambungan) antara Allah dan dunia, sementara yang profetik tidak melihatnya demikian (terjadi diskontinuitas/pemutusan). Yang pertama adalah pandangan Katolik, yang mengakui ada dua buku wahyu: alam dan teks (bible/scripture), sementara yang kedua, adalah pandangan Protestan, yang hanya mengakui sola scripture sebagai wahyu. Maka yang pertama memandang seluruh alam semesta sebagai gambar Allah, sementara yang kedua kurang memperhatikan kenyataan ini sebagai kehadiran Ilahi. Kita mewarisi pandangan yang kedua ini sekian lama.

  1. Hidup dalam Dunia sebagaiTubuh Allah

Hidup dalam dunia sebagai tubuh Allah berarti mampu menemukan tanda-tanda Yang Ilahi. Tanda-tanda yang Ilahi ditemukan dengan cara bergembira dalam keindahan dunia nyata dan melayani kebutuhan sesama. Itu berarti kita dipanggil untuk menemukan Tuhan di Bumi, di gunung, di pohon, di laut, di sungai, di batu, dalam daging, dalam hal-hal biasa, dalam rentetan keseharian kita. McFague mengatakan bahwa sesungguhnya tanda-tanda kehadiran Tuhan melalui dunia sebagai tubuh Allah adalah sesuatu yang biasa. Kita berjumpa dengan Allah di dalam dan melalui dunia ini, karena Allah tidak di luar sana, melainkan tersembunyi di dalam hal-hal biasa dalam kehidupan kita. Tubuh Allah adalah seluruh alam semesta, yaitu semua materi dan energi yang mengkonstitusi realitas fisik. Bagaimana kita menemukan Allah di dalam dunia ini? Itu hanya mungkin bila kita mau memberi perhatian pada sesuatu di luar diri kita, yaitu memberi perhatian pada keindahan alam dan kebutuhan sesama.

Ketika kita sungguh-sungguh memberi perhatian pada sesuatu di luar diri kita sendiri (pada keindahan dunia), artinya tidak melihat ke dalam diri melulu melainkan melihat ke luar, kita lalu bisa mengulangi apa yang Tuhan katakan dalam Kitab Kejadian setelah IA menciptakan air dan darat, matahari dan bulan, tumbuhan dan binatang, termasuk manusia, yakni bahwa: “semuanya itu baik”. Allah tidak mengatakan, ciptaan itu baik bagi AKU (Tuhan) atau bagi manusia, tetapi bahwa masing-masing ciptaan itu baik (pada dirinya), indah pada dirinya. Sebab sesungguhnya, sementara kita “mengkonstruksi/membentuk” alam dengan kata-kata kita (dalam bahasa metafor), alam juga “mengkonstruksi/membentuk” (pandangan) kita dengan keindahannya. Maka dengan  memperhatikan keindahan alam semesta, kita lalu memuji Allah, dan dengan sendirinya kita telah mengakui-Nya.

McFague melanjutkan bahwa tempat lain di mana Tuhan ditemukan adalah dalam bela-rasa, dalam tindakan cinta-kasih. Sesama adalah tubuh Allah yang berinkarnasi pula. Tubuh sesama adalah tubuh Allah yang harus dipelihara dan dirawat. Tanda-tanda Yang Ilahi dapat ditemukan dengan kita berani keluar dari diri dan memberi perhatian pada sesama. Keluar dari diri dan memberi perhatian bagi sesama meliputi perhatian pada kebutuhan-kebutuhan fisik atau jasmani dari sesama. Kebutuhan fisik itu meliputi kebutuhan-kebutuhan duniawinya, kebutuhan tubuhnya, makan dan pakaian, rumah dan kesehatannya. Itu berarti mesti memberi makan dan memberikan pakaian bagi sesama; mencoba meringankan sakit dan penindasan yang mereka derita; melakukan sesuatu yang perlu sehingga sesama itu maju dan berkembang.  Ini meliputi, mengetahui apa yang membuat sesama maju/berkembang, dan melakukan sesuatu baginya. Di situlah yang yang Ilahi telah nampak.  McFague mengatakan bahwa kita bertemu dengan Allah di dalam dan melalui dunia ini, dan dalam sesama melalui kebutuhan-kebutuhan hidupnya.

5. Melihat dan Mencintai: memberi makan tubuh

Petunjuk kehadiran Allah dalam iman Kristen adalah menyadari kebutuhan dan penderitaan sesama. Mencintai Allah berarti merawat tubuh mereka yang menderita. Mencintai Allah bukan sesuatu yang mistik semata (melalui doa dan meditasi), melainkan tugas keduniaan, tugas merawat dan memelihara. Hidup dalam metafor dunia sebagai tubuh Allah berarti memberi perhatian pada kondisi-kondisi materi-fisik dunia dan sesama. Oleh karena itu, metafor ini dimaksudkan untuk mendorong kita agar menemukan tanda-tanda keberadaan Allah di dalam dan melalui kondisi-kondisi material dari sesama yang menderita. Ini dilakukan dengan memberi perhatian, yakni melihat atau memperhatikan kondisi mereka, bukan malah menerkam mereka demi keuntungan diri. Kecenderungan kita untuk mencintai sesama karena kebutuhan kita – bukan mereka, harus kita ubah. McFague menegaskan bahwa mata kita harus dididik menjadi mata cinta, yang mau peduli pada sesama. Mendidik mata cinta, mata yang memberi perhatian bagi yang lain sebagai yang lain meliputi sikap penyangkalan ego.

Penyangkalan diri ini merupakan proses kenosis (untuk membebaskan hasrat/nafsu), pengosongan diri, yang memungkinkan sesama terlihat, dan memberikan tempat bagi mereka di hati kita. Kita harus memberi perhatian bagi sesama, terutama pada kondisi material mereka yang menderita. Ini mengimplikasikan bahwa kita tidak berjumpa dengan Tuhan wajah dengan wajah, melainkan melalui dunia dengan kondisi materialnya yang sakit, buruk, lapar, telanjang, lemah, berkekurangan, dan menderita. Berjumpa dengan Allah melalui kebutuhan fisik sesama dengan meletakkan tubuh kita sendiri bagi yang lain (kita membayangkan diri mereka adalah diri kita yang lapar dam haus dan memberi bagi mereka). Kita bertemu Allah di dalam dan melalui tubuh sesama, dengan merelakan tubuh kita bagi mereka (mengambil beban mereka sebagai beban kita). Itu berarti memberikan ruang kita, tempat dan makanan kita bagi yang lain agar mereka hidup dan makan. Artinya kita bersedia mengambil beban mereka dan memikulnya. Dalam bahasa Levinas, kita bertanggung jawab atas yang lain melalui substitusi diri. Itulah bela-rasa sejati, yang melaluinya kita telah merawat tubuh Allah.

6.Catatan Penutup

Dengan menganggap dunia dan seluruh ciptaan (termasuk manusia) sebagai tubuh Allah, McFague dituduh sebagai seorang Panteis (Panteisme menganggap Allah adalah dunia/alam, dan alam adalah Allah. Pandangan ini berasal dari filsuf Baruch Spinoza). Tetapi sesungguhnya McFague lebih sebagai panenteis. Pengandaian bahwa seluruh realitas adalah Ilahi tidak dimaksudkan untuk kita berpikir atau menganggapnya demikian, melainkan agar kita mampu memperlakukan dunia seolah-olah tubuh Allah, sehingga kita memberi perhatian pada dunia, pada keindahan (alam) dan pada kebutuhannya (pada sesama yang menderita), dan dengan demikian kita memuji Allah dan mau berbela-rasa/peduli. Dengan itu, kita menemukan Tuhan, sehingga Tuhan tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang jauh di sana, melainkan imanen di dalam dunia, di dalam kita.

Gagasan McFague ini menarik bila kita relevansikan dalam konteks Indonesia. Keindahan alam kita, entah gunung atau laut, kota atau desa, yang begitu indah dapat kita pahami sebagai tubuh Allah (tanda-tanda kehadiran Allah) bila kita sungguh-sungguh memperhatikannya. Semua itu memperlihatkan keperkasaan dan keagungan Allah. Sungguh agung karya Tuhan. Lebih jauh, pandangan bahwa dunia adalah tubuh Allah menjadi sebuah peringatan bagi kita untuk mengelola alam secara bertanggung jawab, yakni setia memelihara dan merawat alam agar terhindar dari kerusakan dan bencana alam. Menanam pohon, membuang sampah pada tempatnya, tidak membakar hutan secara liar/menebang pohon sembarangan, adalah hal-hal kecil yang dapat kita lakukan dalam merawat alam. Di sisi lain, keserakahan yang sering mengendalikan manusia mesti dibatasi. Sebab sebagaimana dikatakan Mahatma Gandhi, kekayaan alam cukup untuk seluruh umat manusia, namun tidak cukup bagi seorang serakah.

Di sisi lain, realitas kemiskinan dan penderitaan sesama kita akibat bencana alam, kemiskinan dan krisis ekonomi, mesti menggugah hati kita untuk memberi perhatian dan kepedulian. Beban mereka, dari kacamata McFague merupakan seruan bagi kita untuk keluar dari egoisme dan merawat mereka sebagai tubuh Allah. Kebutuhan badani mereka adalah tubuh Allah yang menderita, Tubuh Yesus yang sedang menjelma dalam mereka, yang menuntut kita untuk menolong mereka. Dengan kata lain, hidup berbagi, berbela rasa, peduli dan menolong sesama yang menderita dan berkekurangan adalah panggilan kita sebagai orang beriman, yang mengimani Tuhan yang berinkarnasi. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *