Aku yang Menghargai dan Memulihkan – Pdt. Mery Kolimon

Aku yang Menghargai dan Memulihkan[1]

(Bahan Pendalaman Alkitab Yosua 2:1-24)[2]

Waingapu-Sumba Timur, www.sinodegmit.or.id, Ibu, Bapa, orang-orang muda, dan anak-anak peserta Sidang Raya PGI, shalom. Pagi ini kita beribadah bersama dengan mengingat suatu konteks pelayanan kita bersama orang yang terbelenggu dan terikat, bersama para korban kekerasan dan korban pelanggaran HAM di seluruh NTT, bersama juga dengan para aktivis kemanusiaan di seluruh Indonesia, dan para pejuang HAM dan keadilan di seluruh dunia. Tidak semua mereka hadir di sini secara fisik, tetapi spirit mereka ada bersama dengan kita di sini.

Panitia sidang ini meminta kita membaca teks Yosua 2:1-24 dalam rangka refleksi dan doa kita untuk perjuangan demi keadilan dan penegakan hak asasi manusia. Saya mencatat beberapa tema teologis bagi pendalaman Alkitab kita, yaitu keramahtamahan, keteladanan iman, kesediaan merangkul yang rentan terhadap stigma dan diskriminasi, serta perlawanan terhadap ketidakadilan.

Membaca Kisah Rahab dari Berbagai Perspektif

Saya membaca kisah tentang Rahab dengan perasaan tercampur. Ada banyak pertanyaan di kepala saya mengenai Rahab. Dan memang kisah tentang Rahab adalah salah satu kisah dalam Alkitab yang paling memantik diskusi dan debat dalam studi Alkitab. Di satu pihak, saya, dan mungkin banyak orang, merasa tidak nyaman dengan sikap dan tindakan Rahab. Dalam konteks di mana bangsanya sedang terancam oleh kekuatan bangsa asing, Rahab tidak bersolider dengan saudara sebangsanya. Dia malah bekerja sama dengan pihak musuh untuk keselamatan diri dan keluarganya. Di pihak lain, saya kagum dengan Rahab atas keberanian serta kemampuan dia mengartikulasikan pikiran kepada utusan rajanya dan kemampuan dia bernegosiasi dengan para pengintai demi keselamatan diri dan keluarganya. Sampai hari ini tidak banyak perempuan di Timor dan di Sumba yang cukup cakap bertutur demi meyakinkan para penguasa di ruang-ruang publik. Karena keterbatasan pendidikan dan pengalaman, banyak perempuan tetap berada sebagai kaum marjinal dalam masyarakat, bahkan terjebak dalam rupa-rupa kekerasan di dalam rumahnya sendiri, maupun di ruang-ruang kerja migran.[4]

Kisah Rahab tidak dapat dipahami dari satu segi. Bacaan ini menyediakan perspektif tafsiran yang beragam. Musa W. Dube, ahli Biblika dari Universitas Botsawana, di Afrika bagian selatan, mengusulkan apa yang dia sebut sebagai Rahab’s reading prism sebagai model pendekatan dalam membaca teks-teks tentang perempuan dalam konteks paska-kolonial. Menurut teolog perempuan yang mengemuka sekarang di bidang tafsir Biblis paskakolonial itu, kita perlu mendekati kisah Rahab dan kisah perempuan-perempuan lain dalam Alkitab yang berlatar-belakang konteks penjajahan dari berbagai sudut, laksana melihat satu obyek dari sudut-sudut dan sisi-sisi sebuah prisma.[5]

Rahab Menyatakan Keramahtamahan

Rahab meminta kedua pengintai itu untuk bersumpah agar bersikap ramah kepadanya dan keluarganya sebagaimana dia telah bersikap ramah dan mengambil risiko untuk melindungi mereka (ayat 12–13). Atas permintaan Rahab, kedua pengintai itu bersumpah demi hidup mereka sendiri bahwa Rahab dan keluarganya akan diselamatkan.

Dari Rahab, kita belajar tentang keramahtamahan. Dalam dunia di mana kecurigaan pada yang berbeda begitu tinggi, Rahab menunjukkan hal yang berbeda. Dia menerima kedua pengintai itu, bahkan menolong mereka. Alasan pertama dia menunjukkan keramahannya kepada mereka karena mereka yang dapat memberinya uang. Sebagai pelacur, dia hidup dengan memberikan keramahan dan tubuhnya bagi yang mampu membayarnya.

Namun kita melihat ada hal lebih dari Rahab. Ketika dia tahu alasan kedua orang itu bertamu di rumahnya, dia melindungi nyawa mereka. Ketika utusan raja datang untuk meminta dia menyerahkan mereka, dia mengatakan keduanya telah pergi. Dalam suatu dunia yang dipisahkan oleh tembok suku, bangsa, bahasa, dan agama, Rahab berbela rasa dengan mereka yang berbeda. Keramahtamahannya melintasi batas-batas negara. Rumahnya menjadi ruang yang memungkinkan perlindungan terhadap yang berbeda dapat terjadi.

Kedua pengintai itu memiliki back up yang kuat, Yosua, bangsa Israel, dan terutama Allah menopang mereka. Namun ketika mereka berada di rumah Rahab, mereka adalah orang-orang rentan. Nyawa mereka bisa dihabisi kalau mereka tertangkap oleh para prajurit Raja Yerikho.

Dalam konteks bangsa hari ini, ketika kita berjuang untuk tetap merawat toleransi dan penghargaan antar anak bangsa melintasi identitas suku, bahasa, agama, dan pilihan politik, kita dapat belajar dari Rahab yang memberikan perlidungan kepada yang berbeda dan yang rentan. Gereja-gereja kita mesti menjadi rumah yang terbuka bagi semua. Banyak kali kita membangun gedung gereja yang mahal, lalu kita bangun temboknya tinggi-tinggi. Kita kunci pintu setiap hari, hanya dibuka Hari Minggu pada jam kebaktian. Gedung-gedung gereja di Indonesia mesti menjadi rumah keramahtamahan, rumah bela rasa, dan perlindungan bagi yang lemah.

Kita belajar dari Rahab bahwa bisa jadi keramahan itu bisa menjadi keramahan yang berisiko. Jika diketahui dia menyembunyikan para pengintai itu, nyawanya bisa menjadi korban. Rahab melakukannya dengan menyadari harga yang harus dibayarnya.

NTT sedang menjadi salah satu propinsi yang menjadi tujuan wisata yang menarik karena keindahan alamnya. Kita sedang masuk dalam suatu era baru di NTT bahwa keramahtamahan adalah bagian dari jualan. Ada uang, ada keramahan, tak ada uang, maaf saja. Kita belajar bahwa keramahtamahan adalah salah satu nilai iman yang penting. Keramahtamahan yang Kristus ajarkan justeru menantang keramahtamahan komersial. Dalam Kristus, kita yang tidak saling mengenal, datang dari latar belakang yang sangat berbeda, menjadi saudara satu bagi yang lain. Memperlakukan orang asing dengan ramah adalah salah satu nilai penting iman kita.

Rahab berkata: “ … karena aku telah berlaku ramah terhadapmu, kamu juga akan berlaku ramah terhadap kaum keluargaku” (ayat 12). Saudara-saudara kami, gereja, masyarakat dan pemerintah di Sumba, terima kasih untuk keramahtamahanmu. Kami telah belajar dari keramahtamahan Rahab, dan juga dari keramahtamahanmu. Kami akan pulang untuk berlaku ramah bagi mereka yang kami temui.

Namun keramahtamahan yang ditunjukkan oleh Rahab bukan sebuah keramahtamahan yang dangkal, sekedar tersenyum ketika bertemu, saling menyapa sebentar, dan berlalu. Keramahtamahan yang ditunjukkan Rahab bersedia terluka untuk mereka yang dilayani. Pdt. Septemmy Lakawa dari STT Jakarta menulis tentang “risky hospitality”, yaitu keramahtamahan yang berisiko.[6] Belajar dari konflik komunal yang pernah kita alami di bangsa ini, seperti peristiwa di Ambon, Poso, dan Kupang pasca kelengseran Soeharto, kita mesti bersedia untuk tetap berbagi keramahtamahan, termasuk dengan mereka yang dianggap musuh (outsiders).

Rahab: Teladan Perempuan Beriman

Sejumlah tafsir, bahkan bagian Alkitab yang lain, memuji Rahab sebagai perempuan beriman. Perempuan asing itu diselamatkan karena imannya. Dia adalah gambaran dari orang kafir yang bertobat dan mengakui karya Allah yang besar bagi Israel. Injil Matius bahkan menyebut nama Rahab sebagai leluhur Yesus. Dia adalah istri Salmon dan ibu Boas, suami Ruth, yang kelak melahirkan Obed, kakek Raja Daud.  Yang penting dicatat adalah bahwa Rahab merupakan satu dari dua perempuan non-Yahudi (selain Rut) yang disebutkan dalam silsilah Tuhan Yesus. Selanjutnya Ibrani 11:31 memuji Rahab sebagai perempuan beriman dan Yakobus 2:25 menyebut dia sebagai yang dibenarkan karena perbuatannya yang baik.

Dalam percakapan dengan kedua pengintai di loteng rumahnya, Rahab membuat pengakuan iman yang mengagumkan: “ … sebab TUHAN, Allahmu, ialah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah” (ayat 11b). Bagaimana Rahab, perempuan asing itu, dapat tiba pada pengakuan yang demikian? Bisa saja Rahab mendengar tentang bangsa Israel dan Allah mereka dari para langganannya. Namun tetap menakjubkan bahwa dia terbuka untuk mengakui Allah bangsa Israel sebagai yang berkuasa atas segenap semesta: penguasa langit dan bumi. Pengakuan demikian dapat saja kita katakan lahir dari upaya untuk mendapat simpati bangsa Israel yang memiliki kekuatan yang menakutkan bagi bangsa-bangsa Kanaan waktu itu. Namun di pihak lain, kita harus mengakui bahwa pengakuan itu karena Rahab sendiri telah mengalami wahyu Ilahi. Allah berkenan menyatakan diri padaNya dan dia tiba pada titik mengakui kemahakuasaan Allah.

Kita belajar dari kisah Rahab bahwa Allah berkenan menyatakan diri dan kasih karuniaNya kepada siapa saja, tak peduli latar belakangnya. Rahab adalah perempuan asing; lebih dari itu dia adalah pelacur. Penyataan Allah pada Rahab dan pengakuan imannya mengajar kita untuk tidak terlalu cepat menolak mereka yang berbeda dengan kita. Keterbukaan kedua pengintai dan Yosua untuk membiarkan Rahab dan keluarganya hidup ketika Yerikho dimusnahkan adalah juga sebuah pelajaran penting tentang iman yang inklusif. Kisah ini menunjukkan bahwa persekutuan qahal YHWH dalam tradisi kitab Yosua ini memberi ruang kepada yang berbeda (orang non-Yahudi), bahkan mencatat keluhuran iman dan tindakan dari mereka yang secara umum dianggap kotor.

Rahab Sang Pengkhianat?

Teks ini dengan jelas mengatakan kepada kita bahwa Rahab membohongi para utusan raja yang datang untuk meminta dia menyerahkan kedua pengintai tersebut Dia mengaku memang kedatangan tamu, tetapi dia mengatakan tidak tahu asal-usulnya dan bersikeras bahwa kedua orang itu tidak menginap di rumahnya. Dia berbohong dengan mengatakan menjelang petang para pengintai telah pergi. Dia lalu mendorong para utusan raja mengejar para pengintai itu, padahal kedua orang tersebut dia sembunyikan di loteng rumahnya.

Membaca teks ini dalam konteks sub tema sidang ini: “Bersama Seluruh Warga Bangsa, Gereja Memperkokoh NKRI Yang Demokratis, Adil dan Sejahtera Bagi Semua Ciptaan Berlandaskan Pancasila dan UUD 1945” dapat membawa kita pada gugatan terhadap Rahab. Apakah dia warga bangsa yang baik? Bagaimana mungkin dia bekerja sama dengan kekuatan asing yang hendak merongrong bangsanya sendiri Terutama dalam konteks ancaman terorisme dan radikalisme di Indonesia, kita dapat mengatakan Rahab telah terpapar ideologi jahat dan berkhianat terhadap komitmen menjaga tegaknya kehidupan bangsa. Kita bisa mempertanyakan makna nasionalisme bagi Rahab. Kita belajar bahwa dalam kisah ini, bukan identitas nasional melainkan identitas iman yang esensial bagi seseorang.

Sejumlah penafsir Alkitab melihat cerita tentang Rahab ini sebagai sebuah kisah etiologi. Teks ini hendak menjelaskan mengapa ada orang-orang Kanaan di tengah-tengah bangsa Israel. Menurut Richard Nelson, yang dikutip oleh Ira Mangililo, cerita ini berfungsi untuk menjelaskan mengapa dan bagaimana “rumah Rahab” yang dipandang sebagai orang asing di kalangan orang Israel justru diizinkan hidup bersama mereka di daerah Yerikho.[7]

Penafsir lain menyebutnya perempuan penipu (female trickster). Mereka melihat Rahab sebagai orang dengan personalitas yang tercampur sekaligus bertentangan (ambivalent). Dia melindungi para pengintai dan menyelamatkan mereka dari ancaman kekerasan oleh penguasa bangsanya. Tetapi dia juga menipu orang lain sebagai cara untuk bisa bertahan hidup dalam dunia yang keras. Baik kedua pengintai Israel maupun raja bangsanya melihatnya sebagai obyek yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan mereka sendiri. Mereka mengeksploitasi dia untuk kepentingan mereka.[8]

Rahab diperkirakan hidup pada akhir zaman Perunggu dan awal zaman Besi. Pada waktu itu Kanaan merupakan bagian dari negara-kota yang berada dalam pengawasan kekaisaran Mesir yang berfungsi sebagai pusat kekuasaan.[9] Meskipun Kanaan berada di daerah pinggiran, wilayah itu memainkan peran penting dalam perdagangan dunia pada masa itu.[10] Meskipun demikian, Kota Yeriko hanyalah kota kecil. Letaknya yang jauh dari jalur utama rute perdagangan membuat daerah itu terisoloasi dari dunia luar dan sangat miskin. Keadaan ini makin diperparah oleh kenyataan bahwa meskipun keluarga-keluarga miskin bekerja sangat keras untuk menanam di sekitar rumah mereka, namun mereka tak dapat memanen hasilnya sebab tanah itu merupakan milik raja. Masyarakat tidak memiliki tanah. Akibat kesulitan ekonomi yang hebat, banyak di antara rakyat miskin terpaksa bermigrasi ke kota-kota yang dipandang menawarkan kehidupan yang lebih baik. Beberapa orang miskin yang lain juga terlibat dalam kelompok gerilya yang melawan penguasa yang lalim. Mereka yang tidak bermigrasi harus memaksakan diri untuk membayar berbagai pajak kepada raja. Ketika itu menjadi makin berat karena mereka tak mampu, maka mereka mulai menjual anak-anak mereka menjadi budak. Saat tak ada lagi anak-anak yang dapat dijual, orang-orang dewasa itu sendiri harus menjadi budak.[11]

Kaum miskin hidup dalam situasi yang tidak adil. Yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Ketika kaum miskin tak dapat membayar pajak, mereka mendapat kekerasan oleh penguasa. Dalam konteks seperti itulah barangkali Rahab menjadi pelacur; dia harus menjual tubuhnya, seksualitasnya, untuk menyelamatkan keluarganya. Dalam konteks yang demikian, perlawanannya terhadap perintah raja adalah sebuah perlawanan terhadap kekuasaan yang jahat dan mengeksploitasi rakyat. Rahab sedang melakukan apa yang kini dapat kita sebut sebagai civil disobedience.Dia menolak tunduk kepada kuasa yang korup.

Gereja seringkali terlalu cepat menghakimi para pekerja seks seperti Rahab. Kita perlu belajar merangkul dan memberi ruang kepada orang-orang yang rentan mengalami stigma dan diskriminasi seperti Rahab bagi keterlibatannya dalam pelayanan dan persekutuan kita: para pekerja seks,[12] orang dengan HIV/AIDS, korban KDRT dan perdagangan orang, para korban dan penyintas tragedi anti-komunis 1965–66,[13] mereka yang secara terbuka mengakui orientasi seks dan identitas jender yang berbeda, kaum miskin, dan semua yang dipandang lebih rendah dalam masyarakat.

Tema PA kita hari ini adalah “Aku Menghargai dan Memulihkan”. Allah, melalui umatNya, menghargai dan memulihkan Rahab. Pesan kisah Rahab jelas bahwa penghargaan kita terhadap setiap manusia mestinya bukan berdasarkan pada latar belakang agama, suku, bangsa, status sosial, ekonomi, prestasi kerja, identitas jender, dan orientasi seksual. Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya. Pelayanan gereja mestinya tidak menolak orang berdasarkan hal-hal di atas, sebaliknya menghargai dan memulihkan relasi dengan mereka yang distigma dan didiskriminasi.

Rahab Melawan Kekerasan Berlapis

Dalam cerita Rahab, kita berjumpa dengan kekerasan berlapis. Musa Dube mengatakan sebenarnya yang dihadapi oleh Rahab adalah double colonialism—penjajahan doble. Di satu pihak dia berhadapan dengan patriarki yang dilambangkan oleh kekuasaan sang raja dan para utusan yang datang menjumpainya. Dengan menolak titah sang raja, Rahab sedang melawan patriarki. Di pihak yang lain, Rahab tahu bahwa kedua pengintai mewakili suatu kekuatan bangsa penjajah dasyat yang sedang meluluhlantakkan bangsa-bangsa di sekitarnya. Namun dia tidak tunduk pada imperialisme begitu saja. Dia tahu bahwa dia punya kekuatan untuk bernegosiasi dengan kekuatan besar itu untuk keselamatan diri dan keluarganya. Kita belajar dari Rahab bahwa para perempuan yang bersuara melawan patriarki, imperialism, dan penjajahan, adalah perempuan yang memiliki suara sendiri yang mengungkapkan isi dari hati dan pikiran mereka. Mereka tidak didikte oleh siapapun.

Dalam konteks ini kita melihat Rahab sebagai perempuan yang cukup kuat. Dia berani menolak permohonan rajanya sekaligus mampu membangun kesepakatan dengan kedua pengintai itu. Dia tahu masa depannya dan masa depan keluarganya tergantung pada kemurahan hati bangsa Israel. Namun sekarang keselamatan kedua pengintai itu juga terletak di tangannya. Dia memiliki kuasa/daya entah untuk menyelamatkan atau menghancurkan mereka. Setelah mendapat jaminan dari kedua pengintai, Rahab menurunkan mereka dengan tali dari tembok kota dan menyuruh mereka ke gunung untuk bersembunyi di sana selama tiga hari. Dengan begitu dia memastikan bahwa para pengintai itu akan selamat dari pengejaran para utusan raja. Dalam Yosua pasal 6 dapat kita baca bahwa akhirnya seluruh kota itu diluluhlantakkan dan segenap penduduk Yerikho dimusnahkan, hanya Rahab dan keluarganya yang dibiarkan hidup.

Rahab menolak tunduk pada penghancuran diri dan keluarganya. Dia menggunakan daya yang ada padanya untuk memerjuangkan keselamatan di masa depan. Dia berhasil menciptakan suatu ruang ketiga bagi diri dan orang-orang yang dikasihinya.[14] Dr. Ira Mangililo, dengan mengutip Homi Baba[15], menjelaskan bahwa “ruang ketiga” merupakan sebuah tempat di mana kaum marjinal dapat mengubah identitas dan hubungan-hubungan kekuasaan sebagai hasil dari negosiasi. Selanjutnya ditambahkan bahwa ruang itu sebagai ruang aman, tempat di mana para perempuan dapat menjadi agen perubah yang berdaya dan dinamis. Di tempat ini pulalah para perempuan dapat merekonstruksi identitas-identitas diri mereka. “Ruang ketiga”, dengan demikian, merupakan tempat munculnya kemungkinan-kemungkinan yang radikal, tempat perlawanan.[16]

Dalam kontestasi antara penguasa bangsanya dan kekuatan asing yang akan menyerang, Rahab menciptakan ruang alternatif, ruang ketiga itu. Secara tegas dia menyatakan iman kepada Allah Israel yang memberinya harapan untuk tetap hidup sebagai perempuan merdeka. Kemenangan dan kejayaan Israel terletak juga pada andilnya. Dia bukan obyek belas kasihan bangsa penjajah. Dia adalah subyek sejarah hidupnya dan sejarah kerabatnya.

Dengan cara ini, Rahab menolak struktur dan ideologi patriarkal dan imperialisme yang menindas. Membaca kisah Rahab dari perspektif ini memberikan kita daya untuk tidak tunduk dan pasrah pada kekuatan yang menindas, melainkan mengklaim kekuatan untuk menolak kekuatan yang mengeksploitasi dan berjuang bersama bagi pembebasan yang saling terhubung di mana perbedaan, kesetaraan, dan keadilan untuk berbagai budaya, agama, jender, kelas, seksualitas, suku, dan ras dapat dirayakan dalam relasi dan keterhubungan.[17]

Saya mempersiapkan bahan pendalaman Alkitab ini setelah selesai menulis kata pengantar untuk sebuah buku tentang teologi dan trauma dalam konteks perdagangan orang di NTT. Dua belas teolog GMIT, GKS, dan gereja Katolik di NTT, difasilitasi oleh Kelompok Kerja Kontekstual Mission 21 di wilayah Indonesia dan Malaysia, menulis hasil wawancara mereka dengan korban/penyintas perdagangan orang. Kami berharap di akhir tahun ini buku itu dapat terbit.

Salah satu tantangan yang kita hadapi dalam narasi-narasi buku ini adalah korban yang ternyata menemukan penghiburan dan dibantu dalam proses pemulihan justru jika mereka turut menyalahkan dirinya sendiri. Hal ini dapat saja terkait pandangan budaya lokal bahwa suatu krisis terjadi karena kesalahan yang dilakukan, entah oleh mereka yang mengalami krisis atau oleh anggota keluarganya. Dalam tradisi naketi di Timor, misalnya, suatu upaya untuk dipulihkan adalah dengan pengakuan “dosa”. Korban merasa bebannya menjadi lebih ringan dan ada harapan untuk pemulihan setelah mengakui dosa dan kelemahan. Hal ini memiliki sisi baik untuk otokritik agar orang tersebut mampu belajar dari kelemahan masa lalu. Namun ada juga dampak negatif bahwa korban tidak kritis terhadap struktur sosial, ekonomi, dan politik yang menjebaknya masuk ke dalam lingkaran kejahatan kemanusiaan.

Kita mewarisi teologi kolonial yang menekankan kepatuhan dan kepasrahan terhadap kuasa-kuasa dan otoritas di atas kita. Sejak anak-anak, kita dididik untuk tunduk dan patuh terhadap orang tua, tanpa sikap kritis. Feodalisme di NTT, termasuk sistem kasta di Sumba, menempatkan manusia pada kelas-kelas sosial yang berbeda. Suara para usif (raja lokal) dan amaf (tetua) di Timor tak boleh dibantah. Suara para pendeta tak dapat diinterupsi. Umat seringkali dikonstruksikan untuk menerima perintah tanpa sikap kritis.[18]

Menurut hemat saya, dalam konteks seperti itu umat mesti dididik untuk berani mengatakan tidak pada kekerasan. Untuk itu gereja perlu mengembangkan pendidikan kritis agar umat dan warga masyarakat mampu memahami realitas perbudakan dan menolaknya sebagai sikap iman. Pendidikan Kristiani dalam konteks kerentanan perdagangan orang mesti memampukan umat untuk mengklaim harkat dan martabat mereka sebagai karya Allah yang mulia yang diciptakan menurut gambar dan rupaNya sendiri. Pemahaman yang demikian mesti mampu memberi mereka kekuatan untuk menolak segala bentuk kekerasan, perbudakan, dan eksploitasi.

Menjadi Komunitas yang Menghargai dan Memulihkan

Esok kita akan mengakhiri sidang ini. Dengan belajar dari Rahab yang dihargai dan dipulihkan Allah, tetapi juga yang juga berjuang bagi penghargaan dan pemulihan terhadap kehidupan dalam komunitas umat beriman, mari kita juga pulang ke gereja masing-masing dengan komitmen untuk menjadi komunitas beriman yang saling menghargai dan memulihkan. ***

Waingapu, awal Nopember 2019.

[1] Bahan Pendalaman Alkitab (PA) pada Sidang Raya PGI, Selasa, 12 Nopember 2019 di Gedung Hapu Mbay, GKS Payeti, Waingapu, Sumba Timur.
[2] Penyampaian PA ini dilakukan dalam bentuk talk show. Pemandunya adalah Roslinda (14), siswi SMP asal Desa Kombapari, Sumba Timur. Dia menjadi salah satu pembicara dalam ajang High Level Political Forum (HLPF) di New York pada 9–18 Juli 2019 lalu. Oslin, panggilan akrabnya, merupakan satu-satunya wakil Indonesia dalam kegiatan yang dihadiri oleh 47 negara itu. Kehadirannya difasilitasi oleh World Vision International.
[3] Pendeta Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), Ketua Majelis Sinode GMIT, periode 2015–2019 dan 2020–2023.
[4] Sebagaimana diketahui, NTT menjadi salah satu daerah darurat perdagangan orang di Indonesia. Sejak Sidang MPL PGI di Salatiga pada 2017, PGI berkomitmen mendukung GMIT dan GKS di NTT untuk membangun tanggapan yang relevan terkait kejahatan kemanusiaan ini.
[5] Lihat Musa W. Dube, Postcolonial Feminist Interpretation of the Bible,St. Louis, Missouri: Chalice Press, 2000, 121–124.
[6] Septemmy E. Lakawa, “Risky Hospitality: Mission in the Aftermath of Religious Communal Violence in Indonesia” (Dissertation, Boston University School of Theology, 2011), https://open.bu.edu/bitstream/handle/2144/19495/lakawa_ septemmy_thd_2011_00.pdf.
[7] Ira D. Mangilio, “When Rahab and Indonesian Women Meet in the Third Space” dalam Journal of Feminist Studies in Religion31.1 (2015): 48; band. Richard Nelson, Joshua: A Commentary(Louisville, KY: Westminster John Knox Press, 1997), 41–47.
[8] Ira D. Mangilio, “When Rahab and Indonesian Women Meet in the Third Space”: 50–51.
[9] Nelson, 49.
[10] Mangililo, “When Rahab and Indonesian Women Meet in the Third Space,” 51; band. Ann E. Killebrew, Biblical Peoples and Ethnicity: An Archaeological Study of Egyptians, Canaanites, Philistines, and Early Israel 1300–1100 B.C.E.(Atlanta, GA: Society of Biblical Literature, 2005), 32.
[11] Mangililo, 51-52. Band. Norman K. Gottwald, The Tribes of Yahweh: A Sociology of the Religion of Liberated Israel, 1250–1050(Maryknoll, NY: Orbis Books, 1979), 481. See also Newman, “Rahab and the Conquest,” 170; Chaney, “Ancient Palestinian Peasant Movements,” 171; and Mario Liverani, Israel’s History and the History of Israel(London: Equinox Publishing Ltd., 2005), 2.
[12] Kadang-kadang kita memakai istilah pekerja seks komersial (PSK), namun istilah pekerja sek saja sudah cukup sebab seorang pekerja seks itu sudah jelas. Lihat https://humantraffickingsearch.org /2017725sex-trafficking-vs-sex-work-what-you-need-to-know/
[13] Lihat studi tentang narasi para korban/penyintas tragedi anti-komunis 1965-1966 di NTT dalam Mery Kolimon dan Liliya Wetangterah (eds.), Memori-Memori Terlarang. Perempuan dan Korban Tragedi ‘65 di NTT,Kupang: Bonet Pinggupir 2012. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Lihat Mery Kolimon, Liliya Wetangterah, and Karen Campbell-Nelson (eds.), Forbidden Memories: Women’s Experiences of 1965 in Eastern Indonesia,Melbourne: Monash University Publishing, 2015.
[14] Lihat Ira D. Mangililo “Teologi Feminis di Indonesia sebagai Teologi di Ruang Ketiga”, dalam: Ronald Arulangi, dkk (eds.), Dari Disabilitas ke Penebusan: Potret Pemikiran Teolog-Teolog Muda Indonesia,Jakarta: BPK GM, 2016, 79-106; lihat juga Jonathan Rutherford, “The Third Space: Interview with Homi Bhabha,” dalam Identity: Community, Culture, Difference, ed. Jonathan Rutherford (London: Lawrence and Wishart, 1990), 211.
[15] Homi Bhaba adalah seorang profesor dalam bidang literatur Amerika dan Inggris, dan bahasa di Anne F. Rothenberg, juga adalah direktur dari Pusat studi Kemanusiaan di Universitas Harvard. Dia adalah salah satu tokoh terkenal dalam disiplin studi paskakolonialisme.
[16] Bell Hooks, Feminist Theory: From Margin to Center(Boston, MA: South End Press, 1984), 149–50.
[17] Musa Dube, 123.
[18] Mery Kolimon, “Gereja Melawan Ketidakadilan: Rekonstruksi teologi Misi Sebagai Perlawanan”, dalam C.S. Rappan Paledung, dkk (eds.), Misiologi Kontemporer(Jakarta: BPK GM, 2019), hlm. 229; band. Mery Kolimon, “Kerentanan, Luka, Perlawanan, dan Penyembuhan”, dalam Mery Kolimon, dkk (eds.), Menolak Diam: Gereja Melawan Perdagangan Orang(Jakarta: BPK GM, 2018), hlm. 14–18.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *