Pemakaman Pdt. Dr. Besly Messakh: “Bunga Yang Indah dipetik Terlebih Dahulu Oleh Pemiliknya”

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Pdt. Dr. Besly Yermy Tungaoly Messakh, pengajar bidang teologi pastoral di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Jakarta meninggal dunia karena sakit pada usia 47 tahun dan dimakamkan di Kupang. Kebaktian pemakaman berlangsung di Jemaat GMIT Syalom Kupang, Kamis, (28/11-2019), pukul 11.00 Wita.

Mewakili STFT Jakarta, Pdt. Prof (emr.) Dr. Samuel Hakh mengibaratkan kematian mendiang diusia yang masih muda sebagai sekuntum bunga indah yang dipetik terlebih dahulu oleh sang pemilik.

“Secara pribadi saya sangat sedih. Saya mengira dia yang akan mengantar saya, tapi saya yang justru mengantarnya. Saya berteriak kepada Tuhan, “Mengapa peristiwa ini terjadi? Tapi Tuhan mengatakan lain. Bunga yang indah biasanya dipetik terlebih dahulu menjadi hiasan bagi pemiliknya,” demikian refleksi Prof. Hakh dihadapan seribuan jemaat yang menghadiri kebaktian pemakaman.

Sebagai pendeta GMIT yang diutus sebagai tenaga pengajar di STFT Jakarta, Majelis Sinode GMIT juga menyampaikan dukacita yang dalam dan terima kasih kepada keluarga besar Messakh-Lenggu yang telah mempersembahkan mendiang untuk melayani di GMIT.

“Bagi GMIT, bukan ukuran berapa lama seseorang menjadi pendeta melainkan seberapa besar kualitas pelayanan yang dipersembahkan bagi gereja,” kata Sekretaris MS GMIT, Pdt. Yusuf Nakmofa, saat menyampaikan suara gembala.

Pernyataan dukacita yang dalam juga datang dari Badan Perwakilan GMIT di Jakarta yang diwakili Kol. TNI-AU. Tonce Samadara.

Pdt. Besly Messakh meninggalkan seorang istri Pdt. Tentremingtyas Messakh, yang saat ini melayani Persekutuan Oikumene Umat Kriste (POUK) Kelapa Gading-Jakarta dan dua orang anak masing-masing Talitha Lodya A. Messakh (19 tahun) dan Benino Mukti Tadamur Messakh (15 tahun).

Lahir di Korbafo-Rote, sebagai putra sulung dari enam bersaudara, kedua orang tuanya, Benyamin Messakh (alm.) dan Loudia Messakh-Lenggu, mempersembahkannya untuk Tuhan.

“Mewarisi jejak leluhur kami raja Foe Mbura yang membawa agama Kristen ke Pulau Rote, Bapak sangat terinspirasi dengan cerita Perjanjian Lama bahwa yang sulung sekaligus yang terbaik harus dipersembahkan untuk Tuhan. Karena itu, kakak saya Besly, sejak kecil sudah dipersiapkan untuk jadi pendeta,” kisah Matheos Messakh, adik dari mendiang.

Jejak pelayanan almarhum diawali dengan ditahbiskan menjadi pendeta GMIT pada tahun 1998 dan ditempatkan di klasis Rote Barat Daya. Selanjutnya ia dimutasikan ke Klasis Lobalain dan sempat menjabat sebagai KPWK (Koordinator Pelayanan Wilayah Klasis) tahun 2004-2008. Usai menyelesaikan studi pasca sarjana ia ditempatkan di Jemaat Petra Kefamnanu, Klasis Timor Tengah Utara hingga tahun 2011. Selanjutnya ia diutus oleh GMIT sebagai pengajar di STFT Jakarta sambil melanjutkan study dan meraih gelar doktor teologi pada tahun 2016. Ia wafat pada Senin, 25 November 2019 Pukul 00.30 WIB.

Putra sulung dari enam bersaudara ini dimakamkan di TPU Batuplat yang didahului dengan kebaktian di Jemaat Syalom Kupang Klasis Kota Kupang dipimpin oleh liturgos: Pdt. Jeheskial Adam dan pengkhotbah Pdt. Emr. Drs. Mesach D. Beeh. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *