Sembilan Hari di Negeri Kincir Angin* — Pdt. Mery Kolimon

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Selama sembilan hari saya mendapat kesempatan untuk ada di Belanda: 23 Nopember s/d 2 Desember 2019. Sudah cukup lama saya tak berkunjung ke negeri kincir angin itu. Waktu undangan untuk kuliah umum Dom Helder Camara saya terima di awal tahun ini, saya pikir baik juga untuk memberi diri dalam giat akademis di ujung tahun. Waktu itu saya berpikir, kuliah umum itu akan terjadi setelah sidang sinode GMIT dan sidang raya PGI. Kalau saya tak terpilih jadi ketua sinode maka ini kesempatan baik untuk kembali berakrab secara intensif dengan dunia academia. Ternyata saya terpilih. Lalu saya memaknai kesempatan memberi kuliah di Belanda sebagai kesempatan menarik diri sebentar dari kesibukan praksis meng-eklesia dan tenggelam sebentar dalam wangi buku di gedung tua para bijak dan dalam diskusi akrab para pencinta ilmu.

Dom Helder Camara LectureÂ

Setiap tahun dua sekolah teologi di Belanda, Protestant Theological University (PThU) dan Fakultas Teologi Free University (VU), menyelenggarakan kuliah umum Dom Helder Camara. Kuliah ini didedikasikan sebagai penghargaan kepada Uskup Agung Helder Camara (1909-1999). Beliau adalah Uskup Agung Olinda dan Recife, di Brazil. Ia adalah salah satu tokoh Katolik penting pada abad ke-20. Uskup ini adalah perintis penting bagi teologi pembebasan Amerika Latin. Dia memengaruhi gerakan dan teologi pembebasan melalui komitmennya yang sungguh-sungguh terhadap kaum miskin. Dia terkenal dengan ucapannya, “Ketika saya memberikan makanan kepada orang miskin, mereka menyebut saya seorang orang suci (santo). Ketika saya bertanya mengapa orang miskin tidak mempunyai makanan, mereka menyebut saya seorang komunis.” Uskup ini seringkali diancam karena dipandang berbahaya oleh para penguasa yang memperkaya diri dengan cara menindas dan mengeksploitasi rakyat.

Dalam kesempatan kuliah umum itu, saya memilih untuk berbicara mengenai perempuan, ancaman kelaparan, dan migrasi. Saya membaca Kitab Rut dalam Perjanjian Lama dan mendialogkannya dengan narasi para migran perempuan di NTT. Menarik sekali melihat bagaimana tema teologis seperti makanan, kelaparan, iklim, migrasi, identitas, seksualitas, hospitalitas, dan misi gereja saling terjalin, baik dalam kisah Rut dan Naomi di masa hakim-hakim maupun dalam realitas hidup para pekerja migran di masa kini. Saya mendorong gereja-gereja di seluruh dunia untuk mengembangkan misi sebagai pendampingan terkait keadilan sosial dan keadilan ekologis dalam menyikapi ancaman kekerasan terhadap kaum miskin dan terhadap alam di masa kini.

Kuliah umum ditata dalam bentuk yang menarik. 30 menit pertama diberikan kepada Bapak Embert Messelink, direktur Rocha Belanda, yaitu sebuah gerakan yang dibaktikan untuk perlindungan terhadap alam. Beliau menjelaskan isu-isu pelestarian lingkungan hidup di Belanda. Selanjutnya saya mendapat kesempatan menyampaikan presentasi saya selama 45 menit. Kemudian ada tanggapan 15 menit terhadap presentasi saya dari Ibu Eva van Urk. Dia adalah mahasiswa program doktoral di VU yang sedang menulis disertasi tentang pandangan Alkitab terhadap manusia dari perspektif krisis iklim. Kesempatan terakhir adalah untuk para peserta kuliah umum.

Belajar Sampai Lanjut Usia

Untuk kuliah ini, pihak panitia yang terdiri dari para dosen PThU dan VU mengundang para mahasiswa kedua universitas dan juga publik luas, yaitu warga gereja dan mereka yang berminat. Mereka yang ingin ikut kuliah ini perlu membayar. Peserta yang mendaftar lebih dari 90 orang, bahkan saya mendengar bahwa panitia terpaksa menolak sebagian pendaftar karena terbatasnya ruangan (over booked). Meskipun akhirnya tidak semua yang mendaftar bisa hadir, sangat menarik bahwa masyarakat tertarik untuk terus belajar. Kuliah itu berlangsung pada tanggal 25 Nopember 2019, selama 2 jam, dari jam 7.30-9.30 malam. Saya menyaksikan malam itu bahwa para peserta kuliah mulai dari mahasiswa pascasarjana sampai dengan anggota jemaat lanjut usia (lansia). Sebagian peserta adalah para misionaris asal Belanda yang pernah melayani di berbagai daerah di Indonesia. Kesempatan kuliah itu juga menjadi semacam reuni di antara “keluarga besar orang-orang yang pernah melayani di Indonesia” di Belanda. Di antara yang hadir misalnya Pak Henk ten Napel, Ibu Brecht Gerbrandy, Ibu WIl Reenders, dan Ibu Cornelia Middelkoop. Mereka yang saya sebutkan namanya pernah melayani di Timor pada waktu yang berbeda.

Di antara para peserta terdapat juga sebagian mahasiswa asal Indonesia yang sedang belajar, baik di PThU maupun di VU. Beberapa di antara mereka adalah mahasiswa program doctoral (PhD). Yang lain sedang mengikuti program Bridging Gaps, yaitu program VU dan PThU yang mengundang mahasiswa dari berbagai negara untuk mengikuti program kuliah dan penelitian bersama di Belanda selama beberapa bulan.

Meratap dari Jauh

Di pagi hari sebelum kuliah tamu, saya mendapat kabar duka dari tanah air. Pdt. Besly Messakh, kawan pendeta GMIT, dosen STT Jakarta, meninggal dunia. Rasanya hampir tidak bisa dipercaya. Dia masih terlalu muda dan sangat potensial. Kami seangkatan dan sama-sama menjalani masa vikariat di Klasis Rote Barat Daya. Saya juga ingat ikut menguji disertasinya di STT Jakarta tentang pendampingan pastoral kepada pelaku kekerasan dalam rumah tangga. Saya bersedih dan merasa cukup terpukul. Pikiran dan keahliannya masih sangat dibutuhkan oleh dunia pendidikan tinggi teologi dan gereja-gereja di Indonesia. Sulit untuk meratap dari jauh. Di saat-saat kehilangan kita membutuhkan dekat dengan orang-orang yang kita kasihi, berada dalam komunitas, untuk menangis dan meratap bersama. Sepanjang hari terasa kelabu.

Saya belajar dari berbagai status facebook mengenai kematian sahabat ini. Di ujung kehidupan, yang menentukan siapa kita bukan terutama jabatan, harta, dan kedudukan, tetapi kebaikan hati. Pdt. Besly Messakh pergi dengan meninggalkan banyak cerita tentang perbuatan baik. Sehari sebelumnya, meskipun udara sangat dingin, saya memutuskan untuk berjalan-jalan di luar. Dengan pakaian tebal musim dingin yang saya bawa dari Kupang, saya melangkah di tepi sungai Rhijn, di Kota Utrecht. Meski cuaca dingin, sekitar 2 derajat Celsius, matahari bersinar cerah. Di puncak musim gugur, hampir di awal musim dingin, daun-daun berwarna keemasan berguguran, indah diterpa sinar matahari. Ketika mendengar kabar kematian Pdt. Besly dan membaca narasi-narasi tentang dirinya, saya ingat daun-daun kuning keemasan yang berguguran dari pohon di musim gugur. Kawanku kembali ke penciptaNya di puncak masa pelayanannya. Cerita hidupnya kuning keemasan seperti daun indah luruh di musim gugur. Tuhan memberkati semua yang baik yang telah dikerjakannya. Pelukan kasih Tuhan kiranya terus dirasakan Mama Pdt Tyas, Nona Tata dan Nino Messakh dalam duka dan kehilangan mereka.

Beberapa Pertemuan

Seluruh biaya perjalanan (termasuk penerbangan dan biaya kereta api di Belanda), akomodasi, dan uang saku disiapkan panitia. Dalam hal ini pihak universitas bekerja sama dengan Kerk in Actie, yaitu badan misi gereja Protestantsche Kerk in Nederland (PKN) Belanda. PKN sendiri adalah mitra GMIT sejak lama. Bahkan sejarah GMIT terikat kuat dengan PKN sejak lebih dari 400 tahun yang lalu.

Selain memberi kuliah umum, saya juga berjumpa dengan beberapa pihak. Pagi hari sebelum kuliah umum, ada pertemuan antara dosen pembimbing Ibu Liliya (Lia) Wetangterah. Ibu Lia adalah dosen STAKN Kupang yang sedang menjalani studi PhD di VU. Bersama dua dosen pembimbingnya yang lain, kami bicara tentang proposal disertasi Ibu Lia terkait teologi penderitaan dari perspektif korban/penyintas perdagangan orang di NTT dan sumbangannya bagi pendidikan Kristen.

Selain itu saya dijadwalkan berjumpa dengan pimpinan Kerk in Actie dan sejumlah kawan lain di kantor PKN. Mereka memberi ucapan selamat atas keterpilihanku memimpin GMIT di periode kedua. Kami berbicara mengenai isu-isu pelayanan yang kami hadapi, baik di Timor maupun di Belanda. Mereka menyampaikan komitmen untuk terus mendukung pelayanan GMIT, dan berharap kerja sama antara kedua gereja tetap dipertahankan di masa depan dengan kesempatan saling memperkaya dalam melaksanakan misi gereja.

Kesempatan Menarik Napas yg Dalam

Secara sengaja kali ini saya menambahkan beberapa hari untuk beristirahat. Setelah beberapa kegiatan besar yang berlangsung sambung menyambung di NTT (sidang sinode GMIT, kongres nasional Peruati, dan sidang raya PGI), kunjungan ke Belanda kali ini saya manfaatkan untuk dapat kesempatan beristirahat selama beberapa hari. Saya memanfaatkan waktu di hotel kecil tempat saya menginap untuk membaca dan menulis. Beberapa kawan menghadiahi buku yang sangat menarik. Saya membaca juga dokumen HKUP GMIT yang akan dikerjakan selama 4 tahun ke depan (2020-2023).

Saya memakai dua hari untuk mengunjungi dan berjumpa dengan sejumlah kawan lama: keluarga Tanja di Zwolle, keluarga Reenders di Ijselmuiden, Ibu Jeanet Van Bentum dan Ibu Susan di Kampen, serta keluarga Middelkoop di Oegstgeest. Berjumpa mereka menjadi kesempatan menimba energi persaudaraan dan ketulusan. Ada makanan hangat yang enak, kopi yang nikmat, kadang-kadang anggur manis di meja makan. Percakapan dengan mereka menyumbang bagi kejernihan perspektif, ketajaman berpikir, kebeningan batin untuk melihat rencana Tuhan bagi hidup dan pelayanan.

Dengan seorang kawan, Ibu Jeannet van Bentum, saya manfaatkan setengah hari untuk berjalan kaki di tepi sungai Ijsel. Kami berangkat mula-mula dari Kampen ke Ijselmuiden, lalu ke kampung kecil yang bernama Wilsum. Cuaca memang dingin, tetapi syukur setelah beberapa hari hujan dan berkabut, hari itu matahari bersinar cerah. Kami berjalan kaki sekitar 10 kilometer sambil menikmati panorama alam yang sangat indah. Di sepanjang jalan ada rumah para petani; danau dan hutan kecil yang jadi rumah burung-burung berbagai jenis; hamparan luas ladang pertanian tertutup rumput hijau di awal musim dingin; keledai, sapi, kuda, dan domba berkeliaran tanpa diusik. Kadang-kadang kami berjumpa orang-orang yang bersepeda atau berolah raga lari. Namun hari itu hanya kami yang berjalan kaki di lintasan itu.

Di Belanda memang secara sengaja disiapkan rute-rute untuk berjalan kaki dan bersepeda. Rute itu terpisah dengan rute mobil dan kereta api yang ramai. Saya melihat itu salah satu alasan orang Belanda bisa tetap sehat sampai usia lanjut. Mereka jarang memakai kendaraan bermotor jika tidak benar-benar diperlukan, lebih banyak bersepeda dan berjalan kaki. Kita bisa menentukan sendiri berapa kilometer hendak ditempuh. Biasanya orang berjalan kaki dalam rombongan kecil, sambil menikmati pemandangan alam yang indah dan belajar mengenai alam sekitar. Di sepanjang perjalanan biasanya ada papan kecil untuk menjelaskan mengenai ciri tempat tersebut dan keanekaragaman hayati yang perlu dilindungi di sana.

Hari terakhir saya pakai untuk mengunjungi Ibu Middelkoop dan menginap di rumah mereka. Oma Middelkoop, demikian biasa saya memanggilnya, sudah berusia 92 tahun. Menantu dari Pdt. Piter Middelkoop ini masih tinggal sendiri di rumahnya, menyetir, dan membantu kawan-kawannya sesama lansia. Isteri dari dokter Herman Middelkoop, yang pernah melayani di SoE dan di Kupang ini, mengorganisir acara diskusi buku untuk para lansia yang berminat. Sebulan sekali mereka menonton film yang dia pilih. Kadang-kadang setelah menonton mereka mendiskusikan film itu. Sekali dalam dua minggu dia memasak untuk makan bersama kawan-kawan lansia. Oma masih bisa berjalan kaki ke toko untuk berbelanja, namun tak bisa lagi bersepeda.

Dengannya saya bicara tentang Timor, Afrika, dan Belanda; tentang kenangan masa lalu, hari ini dan masa depan. Kami bicara tentang buku dan film, teologi dan antroplogi, anak-anak dan suami, menantu dan cucu-cucunya, tentang kemandirian perempuan, dan hak para lansia. “Perempuan tak boleh berhenti belajar”, demikian ujarnya. “Hanya dengan belajar kita terus menerus membangun pikiran kritis untuk membentuk siapa diri kita, mewariskan kebajikan, dan memberi sumbangan bagi peradaban”. Entah dia seorang ibu rumah tangga, pendeta, dosen, aktifis, politisi, pengusaha, atau apapun, perempuan tak boleh berhenti belajar. Nenek 92 tahun ini sungguh menjadi inspirasi. Saya berkata kepadanya, kalau saya tua saya mau seperti Oma: selalu aktif, tetap belajar, bisa terus sehat, tetap jernih berpikir, membaca dan menulis, melek politik dan punya sikap yang jelas.

Pulang Rumah

Saya dapat penerbangan malam, hampir jam setengah 10 dari Belanda. Dengan taksi, di bawah hujan, saya menuju bandara. Dalam perjalanan, saksi nikah kami, sahabat baikku, seorang teolog perempuan muda Belanda mengirim pesan untukku: “We are blessed to have you in our life. And ibu ketua, don’t let them bully you into all sorts of negative images of yourself”. Dan saya menjawabnya: “Thank you, my friend. Don’t worry, I will not let them do it to me. I am a strong woman”.

Di bandara Schiphol Amsterdam, setelah selesai cek in dan serahkan bagasi, saya mampir di ruang meditasi di bandara. Di ruang itu ada seorang laki-laki Yahudi sedang berdoa. Tak lama datang seorang pria Muslim petugas bandara dengan alas untuk bersujud. Lalu ada diriku perempuan Kristen Timor. Masing-masing di sudut ruangan itu, kami berdoa pada Sang Khalik untuk syukur pada rahmat tak terhingga, untuk memohon kasih dan penyertaanNya.

Di ruang teduh di mana banyak orang dari berbagai bangsa pernah singgah untuk berdoa, airmataku jatuh karena haru dan bahagia. Hanya karena Dia, karena Sang Tritunggal Yang Maha Agung, semua yang indah, yang manis, yang sedap dipandang dan dikecap dapat ku nikmati. DariNya ku belajar mengenal keterbatasan dan kegagalan; padaNya terbuka semua capaian dan kejatuhan; dariNya aku mendapat kekuatan untuk terus melangkah dalam tugas pelayanan.

Sembilan hari itu telah lewat. Saya pulang Timor dengan pelajaran kehidupan yang berharga. Ku syukuri persahabatan lintas bangsa dan persaudaraan ekumenes global. Spirit Dom Helder Camara tetap penting: peka pada yang tertindas, berjuang dalam belas kasih Kristus untuk keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan. Cerita Ruth, Naomi, Orpa, dan Boaz mengajak merenungi iman dalam keberhasilan dan kejatuhan, dalam kelimpahan dan kemelaratan, dalam cinta kasih dan kebencian, dalam keramahtamahan dan penolakan. Perjalanan sembilan hari mengajarku untuk menghargai dan merayakan hal-hal positif, seberapapun kecilnya.

Dan kini, 10 menit lagi pesawat akan mendarat di Bandara El Tari. Selalu nikmat untuk pulang ke rumah, kembali ke pelukan orang-orang terkasih, yang mengasihi dan menerimamu dengan tulus. Perjalanan ini melelahkan, hampir 20 jam terbang untuk mencapai rumah. Namun jiwa dan mentalku menjadi segar oleh pengalaman berharga untuk tugas-tugas yang terbentang di depan. Di pesawat saya membaca kembali produk HKUP GMIT: akan ada 34 program strategis yang dikerjakan di lingkup jemaat, klasis, dan sinode. Kiranya Tuhan memberiku dan kawan-kawan sekerja visi yang tajam, kepekaan memahami kehendakNya, dan kerinduan untuk melayani dan memuliakan Dia melalui pelayanan yang dipercayakan. TDM, 4 Desember 2019.

*(Catatan Perjalanan di Belanda November 2019)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *