Green Churches (Gereja Hijau) dan Blue Communities (Komunitas Biru) -Pdt. Astrid Bonik Lusi

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Eco-School 2019 adalah momentum perdana dan terpenting diawal pelayanan saya sebagai pendeta. Saya diberi kesempatan untuk belajar di Thailand dan Taiwan dari tanggal 4-27 November 2019 mewakili GMIT dan PERUATI (Persekutuan Perempuan Berpendidikan Teologi).

Eco-School 2019diselenggarakan oleh Dewan Gereja-gereja Se-Dunia (WCC) dan Konferensi Kristen Asia (CCA) di Universitas Payap, Chiang Mai, 4-17 November 2019. 27 orang pemuda dari 11 negara terpilih menjadi peserta dari kegiatan ini. Eco-School 2019 adalah program belajar yang intensif tentang berbagai isu ekologi. Isu ekologi yang dibahas dipetakan dalam tiga persoalan yang saling berkelindan, yakni persoalan air, pangan dan perubahan iklim. Perspektif yang digunakan adalah perspektif keadilan dengan berbagai pendekatan keilmuan.

Eco-School 2019 menegaskan bahwa setiap orang berhak mendapatkan makanan yang bergizi tinggi. Setiap orang berhak mendapatkan air yang baik dan sehat. Makanan dan air adalah hak asasi manusia. Namun saat ini, keserakahan manusia sebagai individu maupun keserakahan dari perusahaan-perusahaan multinasional memimpin pada krisis air, pangan dan iklim. Air yang kotor dan terpolusi bahkan kekeringan adalah bukti yang tak terelakkan. Penyakit diare karena sanitasi yang buruk, tingginya kematian ibu dan balita, stunting, dan human trafficking adalah sebagian kecil dari dampak yang terjadi akibat krisis air, pangan dan iklim.

Gereja hijau dan komunitas biru merupakan respons Eco-School 2019 terhadap berbagai isu ekologi. Gereja yang hijau adalah gereja yang terlibat aktif dalam konservasi energi, konservasi air, pengelolaan sampah, gerakan bebas plastik, penanaman pohon yang menghasilkan buah, menggunakan kontruksi hijau dalam pembangunan, dan mendorong pertanian lokal dengan penggunaan pupuk organik.

Komunitas biru adalah komunitas yang menghargai hak asasi manusia atas air, mempromosikan air sebagai public good (barang publik yang tidak diprivatisasi) dan komunitas yang berkata tidak kepada botol air minum kemasan. Kampanye gereja hijau dan komunitas biru adalah bentuk kontribusi dari Eco-School2019 demi tercapainya tujuan ke-6 dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Energi Hijau

Global Energy Parliament(GEP) adalah kegiatan kedua yang saya ikuti. Pendiri dari GEP adalah His Holiness Jagadguru Swami Isa. GEP bukanlah badan politik. Ia adalah pertemuan internasional dari para sukarelawan yang berasal dari berbagai kalangan. Para ilmuwan, peneliti, filsuf, mahasiswa, pengajar, spesialis dari berbagai bidang, dan warga negara yang berdedikasi, berperan dalam pertemuan ini.

Pada tanggal 5 November 2019, GEP mengadakan pertemuan tahunan kesembilan di Chiang Mai, Thailand. Kegiatan ini diselenggarakan dengan tema “hidup dalam harmoni dengan alam.” Isu perubahan iklim dan bencana alam adalah tantangan bersama karena kita berbagi masa depan yang sama. Alam dan kita adalah satu. Tidak ada dikotomi. Kita saling bergantung dan terkait. Namun keserakahan manusia dalam budaya konsumerisme yang dipropagandakan oleh dunia modern menjadi penyebab dari berbagai kerusakan dan krisis saat ini.

Dalam pertemuan ini, isu perubahan iklim dan bencana alam didiskusikan dari berbagai aspek dengan menggunakan perspektif energi. Energi yang dimaksud adalah energi positif dari dalam diri, karena segala sesuatu yang terlihat di luar adalah cerminan dari dalam diri. Energi yang dihadirkan untuk menopang masa depan ciptaan ini disebut sebagai energi hijau.

Pertemuan ini menghasilkan resolusi yang diserahkan kepada pemerintah di seluruh dunia, PBB, dan organisasi-organisasi internasional. Resolusi-resolusi yang ditetapkan pun diimplementasikan dalam berbagai proyek konkrit.

Menjadi Komunitas yang Inklusif

Kegiatan ketiga saya adalah lokakarya Asian Ecumenical Womendalam merespons dan menguatkan advokasi HIV & AIDS. Kegiatan ini dilaksanakan di Hsinchu, Taiwan, 19-21 November 2019. Peserta kegiatan ini adalah 40 orang perempuan yang mewakili gereja, dewan ekumenis aras nasional dan regional, serta organisasi yang terkait.

Lokarkarya ini memberi kesempatan bagi peserta untuk memahami secara benar isu HIV & AIDS, mendengarkan suara dari orang dengan HIV (ODHIV) dan berinteraksi dengan mereka. Isu HIV & AIDS tidak bisa hanya dilekatkan sebagai isu moral dan etika, karena tidak semua penularan HIV melalui perilaku seks. HIV & AIDS bukan juga hanya persoalan kesehatan. Ada dimensi ekonomi, sosial dan spiritual di dalamnya. Kita tidak bisa memberi label kepada ODHIV tanpa memahami konteks mereka. Ibu HIV positif dapat memiliki anak dengan HIV negatif jika rutin berobat sehingga level virus menjadi rendah. Label bahwa ODHIV adalah orang yang berdosa, orang yang dikutuk, tidak bisa diselamatkan, najis dan harus diasingkan dari pergaulan, harus diubah.

Kita sebagai gereja, organisasi, individu harus berperan dalam merespons isu HIV & AIDS secara efektif dengan “ABCD” yakni A – Awareness (kesadaran), B – Breaking Stigma  (Menghentikan Stigma),  C – Community and Care (Komunitas dan Kepedulian), D – Drugs (Pengobatan). Kita harus menjadi komunitas yang inklusif.Komunitas yang terbuka, peka dan merangkul kehadiran ODHIV sebagai saudara perempuan dan laki-laki. Stop diskriminasi!

Bangkitlah, dan Bersiaplah untuk Mendamaikan, Memperbarui dan Memulihkan Ciptaan

Kegiatan keempat yang saya ikuti adalah Asian Ecumenical Women’s Assemby (AEWA). Di bawah tema “Bangkitlah, dan Bersiaplah untuk Mendamaikan, Memperbarui dan Memulihkan Ciptaan,” lebih dari 250 orang perempuan berkumpul dalam ibadah, refleksi biblis dan diskusi tentang berbagai isu dalam konteks Asia. Para peserta datang dari berbagai negara, berbagai tradisi iman dan kebudayaan. Pertemuan ini dilaksanakan pada tanggal 22-26 November 2019 di Hsinchu, Taiwan.

Para peserta berefleksi secara kritis terhadap isu marjinalisasi yang berkelanjutan terhadap kaum miskin, hubungan antara kapitalisme pasar dengan menipisnya sumber daya alam yang berkelanjutan, eklusi, eksploitasi dan kriminalitas terhadap kaum perempuan dan masyarakat adat. Tanpa adanya pertobatan terhadap dosa keserakahan, perdamaian serta keadilan bagi ciptaan Allah, komunitas dunia, perempuan dan komunitas marginal maka tidak akan ada damai dan keadilan di bumi.

Setiap orang menerima panggilan sebagai rekan sekerja Allah. Panggilan ini adalah misi dari Allah untuk berpatisipasi secara penuh dalam perdamaian, pembaharuan dan pemulihan ciptaan. Panggilan ini tidak bisa dikerjakan sendiri, karena itu bangkitlah dan baharuilah diri dalam kuasa Roh Kudus.

Keberagaman harus dirayakan, diskriminasi harus dicegah. Berdirilah dalam solidaritas dengan sesama, belajarlah dari hikmat dan spiritualitas masyarakat adat. Bangunlah kerjasama untuk mendukung para buruh migran. Perkuatlah kepemimpinan perempuan yang ekumenis dalam gereja untuk merespons secara efektif dan mengambil tindakan advokasi yang strategis terhadap isu-isu ketidakadilan.

Membangun Persahabatan, Menjalin Networking

Senioritas dan sikap primordialisme membuat banyak orang terkhususnya orang muda susah mengembangkan diri. Umur, suku,  pengalaman menjadi label yang membatasi pengembangan diri. Apalagi jika label itu ditambah dengan sikap yang sulit menerima atau membuka kesempatan bagi keberhasilan orang lain. Dalam ziarah iman ini saya merasakan bahwa setiap orang bahkan kaum muda justru diapresiasi dan didorong untuk mengembangkan diri. Tidak ada relasi yang mengintimidasi dan merendahkan.

Ester Damaris, seorang teolog muda dari Gereja Kristen Sumba (GKS) adalah sahabat yang memberi informasi dan membantu saya untuk mengikuti ziarah iman di bulan November 2019. Mimpi kami untuk mengikuti dan berkontribusi dalam kegiatan berskala internasional benar-benar terwujud di bulan ini berkat bantuan dari GKS, GMIT dan PERUATI. Relasi persahabatan ini membuka bangunan persahabatan dan jalinan networking saya dengan begitu banyak orang dari berbagai latarbelakang. Relasi yang saya rasakan ini sungguh memberdayakan dan memberi energi positif untuk terus berkarya. Stop labelisasi! Stop diskriminasi! Mari bergandengan tangan untuk belajar dan berkarya! ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *