Nafas Hidup, Roh Jahat, Roh Kudus – Pdt. Semuel Victor Nitti

Suasana Persidangan MS-GMIT ke-45 di Jemaat GMIT Benyamin Oebufu Minggu, (16-20/2-2020)

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Saya bersyukur bisa menghadiri kebaktian pembukaan sidang Majelis Sinode GMIT ke 45 tahun 2020 pada minggu, 16 Februari 2020 di Jemaat GMIT Ebenhaezer Tarus Barat. Tema utama yang mendapat perhatian pembahasan dalam khotbah dan dalam panel diskusi subtema adalah ROH TUHAN BERKUASA ATAS GEREJA, MASYARAKAT DAN SEMESTA. Pendeta pengkhotbah dan para panelis telah amat memperkaya semua yang hadir dalam kedua acara tersebut dengan membuka berbagai perspektif makna dari tema tsb. Dan menurut Ketua Majelis Sinode, tema ini dapat dipandang sebagai sebuah pernyataan, pengakuan iman dan komitmen dari GMIT.

Saya mencatat refleksi berikut berdasarkan keyakinan bahwa Roh Kudus hanya bisa berkuasa atas gereja, dhi. GMIT, jika Roh Kudus itu berkuasa pertama-tama dari diri, hati, pikiran dan hidup setiap warga GMIT, termasuk (atau: terutama?), warga GMIT yang pendeta dan presbiter. Tanpa itu maka Roh itu hanya bisa melayang-layang di atas kehidupan khaos, (keadaan kacau-balau), tanpa bentuk, tanpa maksud dan tanpa arah, yang juga berarti tanpa pengharapan.

Menurut kesaksian Alkitab manusia menjadi makluk hidup karena Tuhan Allah “meniupkan nafas hidup ke dalam hidungnya, lalu manusia mati itu menjadi makluk yang hidup” (Kejadian 2:7). Apakah nafas ini dapat diartikan juga sebagai roh atau Roh hidup? Para penafsir Perjanjian Lama bisa menjelaskan. Namun yang jelas nafas hidup itu adalah milik Allah, bagian dari Allah yang dibagikan atau diberikan kepada segumpal tanah sehingga gumpalan tanah itu menjadi makluk hidup. Nyatanya, makluk hidup itu mengarahkan hidupnya kepada kecenderungan untuk MENJADI SAMA SEPERTI Allah (Kejadian 3:5,6), dan dengan demikian MENIADAKAN Allah, pemberi nafas hidup, dari dalam diri, hati, hidup dan tindakan makluk hidup yang bernama manusia itu. Peniadaan Allah itu berlangsung baik secara pribadi tiap-tiap orang mau pun secara bersama sebagai sebuah komunitas. (Kejadian 3, 11).

Pdt. Semuel Victor Nitti

Alkitab juga memberi penjelasan tentang adanya Roh jahat yang tidak hanya mendorong manusia meniadakan Allah dari dalam hati, diri, hidup manusia, tetapi juga mendorong manusia dengan daya rusak untuk merusakkan manusia secara pribadi dan sebagai komunitas. Sama seperti nafas hidup yang ditiupkan melalui hidung manusia untuk membuat manusia menjadi makluk hidup, maka Roh jahat itu pun masuk ke dalam diri, hati, pikiran dan hidup manusia untuk merusak manusia dan menjadikan manusia rusak itu menjadi kekuatan perusak atas kehidupan bersama. Kita tahu dari sejarah dan dari pengalaman bahwa satu atau dua orang dengan daya rusak yang kuat bisa merangsang dan mempengaruhi sebuah komunitas besar menjadii komunitas dengan daya rusak yang luar biasa atas kemanusiaan dan atas alam semesta. Tuhan Allah, Pemilik dan Pemberi (Peniup) nafas hidup, bertindak untuk melawan dan meniadakan daya rusak (=Roh jahat) dari dalam hidup manusia melalui dan di dalam diri, hidup dan pelayanan Putera-NYA, Yesus Kristus. Teks Suci, baik dalam Alkitab mau pun dalam hidup beriman warga GMIT, memuat banyak tuturan tentang pengusiran roh-roh jahat dari manusia.

Teks yang dibahas dalam panel diskusi subtema adalah Lukas 4:18-19: “Roh Tuhan ada pada-Ku, sebab Ia telah mengurapi Aku untuk …” Seorang pemateri panel menekankan teks ini sebagai proklamasi Yesus tentang tibanya tahun Yobel, tahun pembebasan manusia dari rupa-rupa kuasa perusak yang merusak hidup manusia, pribadi dan komunitas, suatu tindakan pembebasan berbasis belarasa yang kuat dalam diri Yesus. GMIT bisa mengaktualisasikan pembebasan berbasis belarasa dalam hidup dan pelayanannya bila GMIT sendiri hidup dari pengalaman dibebaskan oleh Yesus dari kuasa perusak dan terus membuka diri agar kuasa pembebasan karena belarasa itu menjadi aktual dalam diri warga GMIT, khusus para pendeta dan para presbiter.

Tetapi untuk menjadi gereja (pendeta dan presbiter) yang disemangati oleh semangat belarasa untuk tidakan pembebasan, maka gereja (pendeta dan presbiter dan seluruh warga) tidak dapat hanya mengandalkan nafas hidup yang telah Allah tiupkan ke dalam hidung. Maka Yesus bertindak melengkapi gereja-Nya dengan memberi Roh Kudus sebagai Roh kuasa (=semangat, dinamika, daya kreatifitas, keberanian) untuk mengusir roh-roh jahat dari kehidupan manusia (Baca Matius 10:1; Kisah Rasul 1:8). Menurut tuturan Yohanes Yesus memberi Roh Kudus kepada murid-murid dengan menghembusi (=meniupkan nafas hidup) mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus.” (Yohanes 20: 21-22). Hanya Roh Kudus yang berkuasa untuk terus membaharui hati, diri, dan hidup makluk hidup yang bernama manusia itu untuk menjadi pelayan pembebasan berbasis belarasa. Maka subtema ini bisa dibaca: ROH KUDUS BERKUASA DALAM HATI DAN HIDUP WARGA GMIT DALAM HIDUP MENGEREJA DAN MELAYANI SEBAGAI GMIT.

Selamat bersidang gereja Tuhan dan gerejaku. Salam dari Oebufu!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *