Ayo Bantu Mencegah Penularan Wabah Penyakit Babi*

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Banyak sekali anggota GMIT memiliki babi. Jika babi mati akibat penyakit, pasti kita sedih, bukan hanya sebab kita alami kerugian ekonomis besar dan adat diperhambat, tetapi sebab seringkali kita juga mempunyai relasi emosional dengan babi-babi kita.

Wabah yang menular sekarang menjadi beban bagi kita semua. Informasi tidak bisa mengembalikan babi yang telah mati, tetapi bisa membantu kita menyempurnakan persekutuan kita dengan membantu orang lain supaya mereka tidak harus menderita sama seperti kita yang babinya telah pergi.

Waktu dan Jangkauan Wabah ini Bagaimana?

  • Ternyata Demam Babi Afrika (African Swine Fever/ASF), yang berasal dari Afrika, bukan sesuatu yang baru, tetapi baru menjadi wabah pada tahun-tahun terkahir ini. Dari 2016–2019, banyak kasus terdapat di Eropa, tetapi sejak 2017 telah terdapat kasus juga di Cina, Vietnam, dan Timor-Leste.
  • Pada 1 Oktober 2019, Victory News memuat berita berjudul “Waspada Virus African Swine Fever Dari Timor Leste”. Beberapa bulan kemudian lebih banyak berita mulai muncul di media sosial kita setelah babi-babi di Timor Barat dan tempat lain di NTT mulai kena penyakit ini.
  • Pada November 2019, dilaporkan ¼ dari semua babi domestic dalam kandang mati pada tahun 2019 akibat ASF.

Informasi Dasar Demam Babi Afrika?

  • Demam Babi Afrika disebabkan sebuah virus yang bisa kena babi liar/hutan maupun babi dalam kandang. 100% dari babi yang kena penyakit ini mati, dan bisa mati dalam waktu beberapa hari saja.
  • Babi bisa sakit 5–10 hari tanpa tanda penyakit/gejala.
  • Penyakit ini gampang menular di antara babi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh babi yang sakit, seperti pembuangan dari hidung, mulut, air kencing, dan tai (kotoran) atau yang pembawa itu (misalnya lalat atau tikus). Bisa juga ASF ini menular melalui semen kandang atau transportasi babi yang tidak bersih, maupun melalui makanan babi, terutama limbah makanan.
  • Penyakit bisa hidup dalam darah, daging, dan kotoran babi.
  • Penyakit bisa tetap hidup dalam daging yang disimpan: daging beku (1000 hari) dan daging dingin (110 hari).

Gejalah Penyakit ASF (sebagian atau semuanya)

  • Babi mati mendadak
  • Panas tinggi, terutama bagian belakang telinga dan perut
  • Kehilangan nafsu makan
  • Menolak berdiri atau bergerak
  • Kulit jadi warna biru-ungu atau merah
  • Muntah dan mencret, bisa juga dengan darah keluar
  • Perdarahan di kulit, terutama di telinga dan panggul
  • Mata merah
  • Batuk, batuk berdarah, hidung berlindir, nafas tidak normal
  • Babi hamil keguguran

Pencegahan

  • Ada negara-negara Eropa, Amerika Selatan dan Karibia yang mengambil langkah ekstrim, yaitu mengeluarkan kebijakan penyembelihan babi untuk memberantas ASF.
  • Belum ada obat suntikan yang mampu mencegah penyakit ini atau menyembuhkan babi yang kenanya.
  • Mencegah kontak langsung antara babi hutan dan babi peternakan.
  • Memisahkan babi yang baru datang di kandang.
  • Penjaga dan pengunjung babi harus mandi setelah di wilayah kandang babi (biarpun tidak meraba babi dengan tangan, sebaiknya tetapi mandi setelah dekatnya).
  • Jangan memberi makanan sisa dari hotel, kios, atau pesawat kepada babi.
  • Jangan membiarkan orang atau alat transpor yang pernah ada kontak dengan babi dekat kepada babimu kecuali manda/dibersihkan sebelumnya.
  • Secara berkala, membersihkan kandang, maupun alat transportasi yang membawa babi ataupun makanan babi dengan semprotan obat keras (seperti Bayclin, Edol, dsb.) yang tercampur air.
  • Membersihkan tiap alat yang masuk ke dalam tubuh babi (misalnya, jarum).
  • Sekali sehari, rendam kaki babi dalam bak kaki terisi obat pembersih tercampur air.
  • Mencegah tikus dan lalat yang bisa menjadi pembawa ASF.
  • Menguburkan, BUKAN MENJUAL, babi yang mati dalam lobang, kemudian ditutupi kapur baru ditutupi lagi dengan tanah di atasnya.
  • Babi yang mau dikirim ke manapun butuh dilengkapi suatu surat dari pemerintah: “Sertifikat Kesehatan Hewan”.
  • Melaporkan kasus-kasus kematian babi kepada Pusat Kesehatan Hewan atau kepada dokter hewan.

Jangan putus asa, tapi putus kebiasaan yang berbahaya!

* Informasi dan himbauan dari MSH GMIT, disusun oleh UPP Tanggap Bencana Alam dan Kemanusiaan.

Sumber Informasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *