Mengenang Mendiang Penatua Yusuf Kuahaty: Kiprah Putra Maluku di Tanah Timor

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Yusuf Kuahaty, putra asal Maluku Tengah yang mendedikasikan hidupnya kurang lebih 40 tahun di Timor telah berpulang ke Sang Pencipta pada usia 65 tahun. Ia meningggal dunia pada Senin, (9/3-2020), dalam jabatan sebagai dosen ilmu politik sekaligus sebagai penatua di Jemaat GMIT Ebenhaezer Tarus Barat, dan dimakamkan pada Rabu, (11/3-2020).

Bagi separuh warga GMIT yang dekat dengannya, Pak Yusuf dikenal sebagai sosok yang rendah hati. Santun. Tutur bahasanya tidak meledak-ledak seperti orang Maluku kebanyakan. Bisa jadi karakter itu tumbuh dan melekat dari dalam jiwanya sebagai seorang pendidik sekaligus sebagai penatua sepanjang hidupnya di lingkungan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT).

Suami dari mendiang Yakolin Kuahaty-Lebang ini tercatat pernah melayani di tiga Jemaat GMIT antara lain, Jemaat Paulus Kupang, Betel Oesapa dan terakhir di Jemaat Ebenhaezer Tarus Barat. Di tiga jemaat ini ia memberi diri menjadi presbiter. Belakangan ia juga mendapat tugas dari Majelis Sinode GMIT sebagai Ketua Tim Pastoral Politik Sinode GMIT. Tugas ini diembannya dengan setia dan penuh tanggung jawab.

Pdt. Emile Hauteas, Ketua Unit Pembantu Pelayanan (UPP) Kemitraan MS-GMIT yang memimpin khotbah pada kebaktian pemakaman kemarin, mengisahkan salah satu moment kebersamaan bersama mendiang dalam tugas pastoral politik jelang Pemilihan Umum Serentak tahun 2019 yang lalu.

“Jelang Pemilu serentak kami mendapat tugas pastoral politik kepada para calon legislatif di kabupaten Belu. Di atas mobil dalam perjalanan ke sana saya bilang kepada Pak Yusuf bahwa di Belu umat Protestan minoritas. Saya ragu apakah calon-calon legislatif kita mendapat dukungan yang memadai. Lantas apa jawab beliau, kita ke sana bukan untuk mencari siapa mayoritas dan siapa monoritas, tapi kita ingin mendukung orang-orang terbaik untuk menjadi pemimpin bangsa ini,” demikian tutur Pdt. Emil mengenang teladan dan visi yang ditinggalkan mendiang berkenaan dengan komitmen pada pluralitas dan nilai-nilai demokrasi.

Belajar dari nas bacaan Yesaya 42 dengan perikop Hamba Tuhan, di mana nas ini berbicara mengenai pengharapan yang dibawa oleh sang hamba kepada umat Israel di pembuangan di Babel, Pdt. Emil mengibaratkan ayah dari Ria dan Inong ini sebagai petarung sejati di tanah perantauan.

“Mestinya setelah tamat dari Makasar beliau pulang dan berkarya di kampung halamannya di Seram, Maluku, bukan datang ke tanah Timor yang tidak ia kenal sama sekali. Tetapi ia memilih pilihan yang sulit itu. Ia mempersembahkan hidup dan talentanya di negeri asing, khususnya di dunia pendidikan kampus di Kupang-NTT dan GMIT. Dan banyak orang telah merasakan pelayanannya.”

Mendiang meraih gelar sarjana dari Universitas Hasanudin Makasar tahun 1980 dan pasca sarjana dari Universitas Gajah Mada dengan gelar Sarjana Utama (SU) tahun 1988. Semasa hidupnya ia bekerja sebagai dosen pada Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Undana-Kupang dan pernah menjabat sebagai Sekretaris Dewan pendidikan NTT, Wakil Ketua KORPRI NTT, anggota Badan Akreditasi Nasional tingkat SMA/SMK-NTT, Ketua Ikatan Warga NTT Asal Maluku (IWASMA), dan lain-lain.

Wakil Sekretaris MS-GMIT Pdt. Elisa Maplani dalam suara gembala menyampaikan turut berduka cita dan terima kasih yang tulus kepada keluarga yang telah mendukung dan mempersembahkan mendiang semasa hidupnya untuk mengemban tugas-tugas pelayanan di GMIT. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *