Hadapi Covid 19, Dewan Gereja-Gereja Dunia Ajak Berdoa dan Taati Protokol Pemerintah

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Menghadapi pandemi virus Corona World Council of Churches (WCC)/Dewan Gereja-gereja Dunia, mengajak umat kristen untuk saling mendoakan dan menaati protokol pemerintah di masing-masing negara.

“…sebagai gereja, kita bersama-sama berdiri teguh di pihak kehidupan, bersama dengan Tuhan dan Gembala kita, Yesus Kristus, yang melakukan segalanya untuk melindungi kehidupan dan yang memberikan hidup-Nya bagi kita. … kita harus memberikan prioritas tertinggi untuk melakukan apa pun yang dapat kita lakukan untuk melindungi kehidupan. Berdoa dan bekerja untuk keadilan dan perdamaian, termasuk juga kesehatan. Semua ini sangatlah konkret hari-hari ini. Kita dapat, dan kita harus, memutus garis penularan virus ini. Itu berarti untuk hari ini kita harus mematuhi secara ketat langkah-langkah, pembatasan, dan saran yang diberikan oleh otoritas kesehatan yang dipandu oleh seluruh pengetahuan ilmiah yang tersedia dan dapat diandalkan yang diberikan melalui Organisasi Kesehatan Dunia  (WHO),” demikian kutipan Surat Pastoral tertanggal 18 Maret 2020 yang ditandatangani oleh pimpinan WCC, Dr. Agnes Abuom, Moderator Komite Sentral dan Pendeta Dr. Olav Fykse Tveit, Sekretaris Jenderal.

WCC juga meminta gereja-gereja menyatakan solidaritas, akuntabilitas, kebijaksanaan dan kepedulian kepada kelompok rentan seperti lansia dan orang-orang yang mengidap penyakit kronis, mereka yang tidak memiliki air untuk minum apalagi untuk mencuci tangan, komunitas pengungsi karena perang, kelaparan, krisis ekonomi dan ekologi dan bagi mereka yang kehilangan penghasilan harian akibat isolasi diri dan sosial/physical distancing.

Untuk menghindari risiko penularan yang bersifat massal, WCC menghimbau gereja-gereja menahan diri melaksanakan ibadah dan pertemuan-pertemuan yang melibatkan banyak orang. Demikian halnya juga dengan budaya sentuhan fisik. Sebagai solusi, WCC menawarkan pilihan melalui teknologi komunikasi digital.

“Kami menghargai kebersamaan dalam ibadah dan persekutuan Kristen. Tetapi dalam masa krisis ini, dan karena cinta satu terhadap yang lain dan sesama, kita tidak boleh berkumpul dalam jumlah besar bersama, sama sekali tidak, atau menyentuh atau memeluk satu sama lain. Ini adalah waktu untuk saling menyentuh hati, dengan apa yang kita katakan, apa yang kita bagikan, apa yang kita lakukan—dan apa yang tidak kita lakukan—untuk melindungi kehidupan yang sangat dicintai Allah. Melalui kasih itu, kita harus menyesuaikan cara ibadah dan persekutuan kita dengan kebutuhan di saat pandemi ini, untuk menghindari risiko menjadi sumber penularan dan bukan sarana rahmat.

Ini adalah waktu untuk mengorganisasi diri dengan baik dan kreatif—mulai dari mengubah praktik liturgi menjadi digital, untuk tetap berhubungan dengan mereka yang terkena dampak atau berisiko, melalui panggilan telepon dan cara-cara jarak-jauh lainnya, dan sebaliknya menyesuaikan diri dengan kenyataan baru ini.”

Mengakhiri Surat Pastoral tersebut, WCC berharap di tengah pandemi global ini, seluruh gereja di dunia bersatu dalam iman, pengharapan dan kasih sebagaimana dinasehatkan oleh Rasul Paulus dalam I Korintus 13:13. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *