Perjamuan Kudus Triwulan Pertama 2020 Ditunda – Pdt. Dr. Mery Kolimon

Pdt. Dr. Mery Kolimon

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Dalam rapat Majelis Sinode Harian (MSH) GMIT, setelah mempertimbangkan berbagai aspek, kami MSH berlima tiba pada kesimpulan Perjamuan Kudus Triwulan Pertama pada masa raya sengsara dan Paskah tahun 2020 ditunda. Kami mengambil keputusan ini setelah melakukan banyak percakapan, berdebat menguji semua pendapat, dan berdiam dalam doa dan keheningan. Kami membaca tiga tawaran yang disampaikan MPH PGI: perjamuan kasih di masing-masing rumah, perjamuan kudus ditunda hingga krisis lewat, atau perjamuan kudus dilakukan secara online.

Kami juga membaca sejumlah refleksi teologis dan usulan dari beberapa kawan pendeta di GMIT melalui media sosial. Namun pada akhirnya sebagai yang dipilih untuk menggembalakan kawanan domba Allah di GMIT, kami tiba pada kesimpulan yang kami terima bersama: perjamuan triwulan ini ditunda hingga krisis akibat pandemi virus Corona lewat.

Keputusan ini tidak mudah. Kami mendengar banyak anggota jemaat resah kalau Perjamuan Kudus tidak dilakukan di masa raya Paskah. Perjamuan Kudus adalah salah satu ritus inti dari ibadah Kristen. Biasanya dua atau tiga hari sebelum Perjamuan Kudus, anggota sidi akan mengikuti kebaktian persiapan untuk datang ke meja Tuhan. Pakaian khusus disiapkan, persembahan hidup dan kolekte terbaik diberikan. Umat dengan penuh hormat dan sukacita masuk dalam perjamuan Tuhan.

Tapi kami harus menimbang kondisi GMIT yang beragam. Ada jemaat di kota yang punya akses internat yang kuat sehingga pelayanan online sangat mungkin dilakukan. Namun lebih banyak jemaat-jemaat GMIT berada di pedesaan, dengan akses pada internet yang terbatas, bahkan sangat mahal karena hanya bisa mengakses internet dari Timor Leste (misalnya bagi jemaat di perbatasan negara). Ada jemaat yang dapat membaca liturgi dengan lancar kalau perjamuan dilakukan di setiap rumah, namun ada yang hampir tak dapat membaca dan menulis sama sekali. Ada jemaat yang sedang berkelimpahan makanan karena musim panen di desa-desa, namun ada juga yang nyaris tak ada makanan karena kebijakan pemerintah tentang social dan physical distancing mengakibatkan mereka sulit bekerja dan mendapat penghasilan sebagai pekerja harian.

Bagi gereja Protestan, seperti GMIT, Perjamuan Kudus, sebagaimana juga baptisan kudus, adalah sakramen yang menunjuk pada anugerah Tuhan. Ia menjadi tanda bahwa anugerah Allah terus mengalir dalam hidup kita. Dalam perjamuan kudus, kita merayakan dengan syukur dan haru pengorbanan Kristus yang memberi hidup-Nya. TubuhNya dihancurkan dan darahNya ditumpahkan untuk keselamatan kita. Berbeda dengan pemahaman tentang ekaristi dalam tradisi Katolik di mana pada saat perjamuan roti dan anggur menyatu secara mistik dengan tubuh dan darah Kristus, dalam pemahaman iman Protestan, roti dan anggur menjadi lambang atau tanda dari karya keselamatan dan anugerah Allah yang tak bertepi.

Kalau sekarang kita menunda perayaan perjamuan kudus, itu karena kita percaya bahwa walaupun perayaan itu kita tunda, namun anugerah keselamatan Allah melalui pengorbanan Yesus Kristus di salib tidak berhenti mengalir dalam kehidupan kita. Perayaan berjemaat kita tunda, namun ungkapan syukur tiap keluarga tetap naik kepada Tuhan. Perayaan perjamuan kudus dalam persekutuan baru akan kita rayakan kembali setelah pandemi berlalu, namun anugerah Allah bagi hidup kita terus berlangsung. Kita mengalaminya saat kita terbangun dari tidur lelap menyambut matahari pagi; kala kita menaruh nasi, sayur, dan ikan di piring kita masing-masing; saat kita dapat tidur lelap; ketika kita berdoa bersama sebagai keluarga; saat kita menikmati berjemur matahari pagi; ketika kita menghirup wangi kembang di halaman; saat kita melihat para dokter dan perawat bekerja sungguh-sungguh untuk menyelamatkan hidup bahkan dengan resiko besar yang mereka hadapi.

Di masa-masa pandemi ini, perayaan perjamuan kudus kita dan juga Jumat Agung serta Paskah, tidak kita rayakan dalam persekutuan berjemaat yang besar. Bersama seluruh masyarakat dunia kita sedang berikhtiar melawan kuasa kematian yang hendak menghancurkan kehidupan. Ancaman itu datang ketika kita bersentuhan dan berhimpun dalam kerumunan. Karena itu juga tidak bijak untuk melayani perjamuan kudus dari rumah ke rumah oleh diaken/penatua. Sekarang ini mereka yang terpapar virus bisa saja tidak menunjukkan gejala selama masa inkubasi. Namun orang itu sudah berpotensi menjadi penyebar (carrier).

Kita bersyukur di NTT, keadaan kita belum separah di daerah dan negara lain. Sejauh ini belum ada laporan resmi tentang warga masyarakat/jemaat yang terpapar dan dinyatakan positif Covid-19. Itulah sebabnya kita mesti terus menahan diri dari perkumpulan-perkumpulan besar dan berkunjung dari rumah ke rumah sampai masa krisis ini lewat, agar kita terluput dari ancaman terhadap kehidupan milik Allah. Dengan cara itu kita memuliakan pengorbanan putera Allah yang mati agar manusia selamat. Dengan menjaga kehidupan dan menghindari serta menolak kuasa kematian kita merayakan anugerah Allah melalui pengorbanan putera-Nya. Ini bukan soal siapa yang beriman dan siapa yang tidak beriman. Kita yakin bahwa Tuhan tidak menghendaki gerejaNya membahayakan orang yang rentan demi sebuah ibadah. Tuhan yang berkorban demi keselamatan kita tidak menuntut pengorbanan yang sama dari kita, apalagi kalau kita mengorbankan orang lain hanya demi sebuah keberanian iman yang gegabah.

Kami mengundang kita semua, marilah kita tapaki masa raya minggu kudus (holy week) sekarang ini dalam laku keheningan. Di rumah masing-masing, selama 6-13 April 2020, mari pakai waktu untuk berhening, tanpa banyak kata, tanpa banyak simbol dan ritus. Kita tapaki kecemasan, kemarahan, kesedihan, dan air mata seluruh peradaban dunia sekarang ini dalam keheningan dan kontemplasi. Usahakanlah berjumpa Tuhan dalam keheningan, sungguh-sungguh pasrah dan berserah padaNya. Mari berdoa dari kedalaman batin kita masing-masing, memohon ampun pada Tuhan. Mari dalam kebisuan kita memohon: “Tuhan selamatkanlah dunia yang terancam binasa. Tuhan ampunilah kami manusia yang telah jatuh dalam celaka”. Dalam hening kita doakan para ilmuwan yang sedang mencari cara agar Corona bisa dilumpuhkan, kita doakan para dokter dan tenaga medis yang berjuang menolong saudara-saudara kita yang terpapar.

Tuhan dalam kasih-Nya yang agung kiranya akan tetap menerima kita datang bersama di meja-Nya yang kudus. Roti dan anggur akan kembali kita edarkan untuk merayakan kasihNya. Dia berkuasa atas sejarah. Musik dan tarian akan kembali bergema untuk Dia. Meja penuh sayur dan daging berbumbu akan kembali kita nikmati. Untuk waktu ini, kita merayakan pemeliharaanNya dalam keheningan tiap keluarga. Kita makan dan minum dalam keteduhan hati dan batin. Kita meratap bersama dunia sambil memandang Tuhan yang berjalan ke salib untuk keselamatan kita. Mari rasakan karya Roh-Nya yang sedang membasuh dan membalut luka-luka dunia. Kiranya kitapun merasakan karya penyembuhan Ilahi Roh Kudus, Tuhan. Mari kita pegang teguh iman dan harapan kita bahwa badai akan berlalu, sebab Allah Kehidupan telah menang atas maut dan celaka. Sekarang ini, berheninglah!!! Pastori TDM, 5 April 2020. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *