Khotbah Paskah: Ketika Yesus Memanggil Namaku – Pdt. Dr. Ira Mangililo

Pdt. Dr. Ira Mangililo

KUPANG, www.sinodegmit.or.id,Beberapa bulan terakhir ini adalah waktu yang tidak mudah bagi kita sekalian baik yang berada di Indonesia maupun di seluruh dunia. Bagaimana tidak? Sejak akhir Desember 2019 lalu kita mendengar adanya bahaya penularan virus corona di Wuhan-Cina yang terjadi secara massal.

Namun kebanyakan kita masih tenang-tenang saja karena berpikir bahwa virus ini akan datang dan segera pergi dan bangsa kita tidak akan terkena dampaknya. Namun, ketika di awal Maret kita mulai mendengar informasi bahwa sejumlah orang mulai terpapar dengan virus ini terutama di kota Jakarta dan sekitarnya maka hati kita mulai kecut. Perintah untuk tinggal di rumah saja dan melakukan kerja dari rumah membuat kita semakin sadar akan seriusnya situasi yang sedang kita hadapi.

Di saat ini mata semua orang tertuju kepada pemerintah kita dengan harapan dan keyakinan bahwa para pemimpin kita dapat menolong kita untuk melalui situasi yang sulit ini. Namun tidak ada yang mempersiapkan kita sebagai umat beragama terutama umat Kristen untuk menghadapi apa yang seumur hidup tidak pernah kita hadapi yaitu perintah untuk tidak beribadah di gereja melainkan di rumah tangga kita masing-masing. Kita seakan kehilangan arah ketika para pemimpin gereja menyerukan penundaan perayaan Perjamuan Kudus, Jumat Agung dan Paskah.

Air mata kesedihan tertumpah dari mata tua seorang jemaat senior yang berkata, “Mama pendeta, kitong rindu Perjamuan Kudus. Kitong rindu Paskah.” Demikianlah tahun ini kita menjalani masa-masa minggu sengsara yang tidak lazim karena secara nyata kita menelusuri via dolorosa atau jalan penderitaan bersama Yesus. Kita mendengar tentang kepedihan, trauma, perasaan kehilangan dan kekecewaan yang kini berkecamuk di hati kita masing-masing. Pertanyaan tentang mengapa di zaman ini kita mesti mengalami serangan virus corona, sering kita dengar. Pertanyaan tentang apakah Allah sedang menghukum, mencobai, mengajarkan kita sebuah pelajaran berharga, atau bahkan sedang memperbaiki dunia – merupakan sejumlah pertanyaan yang diajukan dan bahkan coba dijawab oleh sejumlah teolog seperti Catherine Keller.

Pertanyaan-pertanyaan yang lahir dari pergumulan global ini turut mewarnai perenungan kita di hari perayaan Paskah ini. Setelah berada dalam perenungan Jumat Agung dan Sabtu sunyi, maka melalui bacaan Yohanes 20:1-18, kita mendengar dan merasakan apa yang menjadi puncak klimaks dari cerita Injil yang disampaikan oleh penulis Injil Yohanes yaitu tentang kebangkitan Yesus. Ketika kita resapi tiap kata yang disampaikan oleh Sang Penginjil maka nampak jelas bahwa peristiwa kebangkitan ini tidak diceritakan sebagai sesuatu yang terjadi secara luar biasa misalnya disertai oleh gempa bumi yang membuat para serdadu ketakutan atau yang lainnya.

Sebaliknya, dalam perikop ini kita membaca tentang bagaimana peristiwa kebangkitan Yesus yang terjadi tepat pada saat orang-orang Yahudi merayakan peristiwa Paskah terjadi dalam kesenyapan yang penuh misteri. Dalam kegelapan kebangkitan itu sendiri, para murid tidak tahu dengan pasti akan apa yang mereka lihat. Mereka yang terdiri atas Simon Petrus, murid yang dikasihi Yesus dan Maria merasa bingung dan takut ketika berhadapan dengan kubur Yesus yang telah terbuka dan kosong tanpa mengetahui bahwa Yesus telah bangkit.

Ketika menghadapi keadaan itu maka sang murid yang dikasihi yang tidak disebutkan namanya mengatakan bahwa ia percaya namun tidak dapat diragukan bahwa ketiganya merasa bahwa ada sesuatu yang mencurigakan yang sedang terjadi di tempat itu. Dan dalam ketidakpastian itu, Petrus dan murid yang lainnya tersebut memutuskan untuk pulang namun Maria Magdalena tidak pulang bersama mereka. Dalam kepedihan hatinya, Ia menangis. Bagi kita semua yang mengenal dekat kematian karena pernah mengalami pengalaman berhadapan dengan kematian – entah itu kematian orang-orang terdekat kita atau yang jauh dari kita – maka tentu kita tahu bahwa kematian menandai awal dari perpisahan yang kekal. Kita tahu bahwa kita tidak akan pernah bertemu dengan orang itu selamanya lagi. Maria menangis karena satu-satunya simbol penanda bahwa orang yang dikasihinya pernah hadir di dunia ini yaitu tubuh Yesus kini telah hilang diambil orang. Maria kehilangan pegangan yang akan membuat Yesus dapat terus hidup di dalam memorinya. Padahal Maria ingin memegang tanda itu selamanya.

Melalui tangisannya Maria mengajak kita untuk mendengar. Untuk itu dengarkanlah bahwa Paskah tidak terjadi di dalam gedung gereja yang indah yang dihiasi berbagai ornament dan simbol-simbol yang indah. Paskah tidak terjadi dalam hiruk pikuk perlombaan atau bahkan pawai kita. Paskah tidak terjadi di meja makan dan kita memiliki keluarga lengkap di sekitar kita dengan tumpukan makanan lezat yang siap disantap.

Dengarkanlah bahwa Paskah malah justru terjadi di ruang-ruang privasi bersama mereka yang ketakutan setelah divonis terpapar virus corona. Paskah hadir di tengah-tengah mereka yang berjuang untuk sembuh dari covid-19 atau yang terbeban oleh stigma akibat sakit yang mereka derita. Paskah menyapa orang-orang yang harus merelakan kepergian anggota keluarga mereka yang meninggal akibat penyakit ini.

Paskah hadir di tengah-tengah tangisan para keluarga yang dikucilkan dan dijauhi bahkan dibully karena anggota keluarganya terpapar virus corona. Paskah hadir di bangsal-bangsal rumah sakit tempat di mana paramedis berjuang tak kenal lelah untuk merawat dan menyembuhkan pasien-pasien yang terpapar covid-19. Paskah terjadi ketika kita semua menyaksikan para dokter dan perawat yang gugur dalam perjuangan itu. Paskah terjadi ketika banyak orang harus kehilangan penghasilan akibat kebijakan tinggal di rumah saja.

Paskah hadir di tengah-tengah bumi yang sakit dan terluka karena ulah manusia yang mengekploitasinya tanpa batas. Paskah hadir bersama-sama berbagai satwa yang kehilangan tempat tinggalnya karena telah direbut manusia untuk berbagai kepentingan mereka. Paskah terjadi ketika hidup kita semua berada di dalam kegelapan hingga pada saat-saat itu kita tidak mempunyai pilihan lain selain ada dan menerima kegelapan itu dengan iklas dan berjalan menyusuri kegelapan itu.

Namun, di saat kita berpikir bahwa Paskah kita akan berakhir dengan ketiadapengharapan seperti itu, Yesus hadir di belakang Maria dan menginterupsi realita kehidupan Maria. Kepadanya Ia bertanya, “Mengapa engkau menangis?” Melalui pertanyaan ini kita berjumpa dengan Yesus yang mendengar suara tangisan Maria dan merespon tangisan itu. Ia tidak meremehkan atau menertawai Maria yang menangis melainkan menunjukkan bahwa hanya melalui tangisan kesengsaraan itulah maka Paskah yang sesungguhnya dapat dimulai dan hal tersebut terjadi di dalam dan melalui peristiwa kegelapan.

Paskah dimulai dengan rasa takut, bingung, sakit dan hilangnya kepastian atau pegangan hidup. Di saat itulah Yesus datang menyapa Maria dengan kasihNya yang radikal melalui pancaran cahaya fajar yang mulai muncul secara sayup-sayup – cahaya yang merupakan simbol atau lambang sebuah kebangkitan yang membawa perubahan, pembaharuan atau proses kelahiran kembali. Sebab sebuah biji, kata Yohanes, hanya dapat bertumbuh menjadi sebuah tanaman, ketika ia membiarkan dirinya mati di dalam kegelapan. Hal ini berarti bahwa meskipun Paskah yang terjadi di minggu pagi berlangsung dalam suasana yang penuh dengan misteri karena tidak ada seorang manusiapun yang hadir untuk menyaksikan itu namun kita dapat merasakan bahwa Allah telah bekerja secara rahasia untuk memberikan kehidupan setelah kematian. Dan Maria hanya dapat bertemu dengan Yesus yang bangkit ketika Ia memilih untuk tidak lari dari kegelapan itu melainkan tinggal dalam kegelapan.

Inilah makna Paskah yang datang pada kita di hari ini. Yaitu teladan dari Yesus yang bersedia menderita dan tinggal dalam dunia kegelapan selama tiga hari lamanya. Paskah juga tentang Maria yang bersedia tinggal dalam kegelapan meski kegelapan itu menakutinya. Baik Yesus maupun Maria tahu bahwa kelegaan, harapan dan penyembuhan hanya datang ketika mereka sanggup untuk tinggal teguh di tempat yang sulit dan menakutkan. Yesus datang dari kegelapan dan terkadang adalah sulit untuk mengenali Dia yang datang itu karena terkadang Ia datang namun bukan dalam wujud yang kita harapkan. Terkadangpun membutuhkan waktu yang lama untuk Yesus datang sehingga jiwa kita menjadi sangat lelah dalam penantian akan datangnya jawaban atas segala persoalan yang kita hadapi. Tetapi hal yang pasti adalah bahwa Yesus pasti akan datang menginterupsi keadaan kita.

Seperti Maria yang dipanggil namanya, maka Yesus akan memanggil nama kita. Dan di saat nama kita dipanggil maka kita yang berserah akan segera mengenal Dia dan juga mengenal diri kita sendiri. Bahwa kita pasti akan mampu melewati apapun yang kita hadapi. Sama seperti Yesus, kita akan tampil mengalahkan segala beban pergumulan kita; dan kita akan bangkit bersama Dia yang telah lebih dahulu bangkit.

Kuasa kebangkitan Kristus hendaknya memampukan kita untuk melakukan bagian-bagian kita guna mengalahkan kegelapan ini dengan cara menyentuh kehidupan orang lain dengan hati kita. Ketahuilah bahwa kita terhubung satu sama lain di saat-saat pandemi covid-19 ini melalui cara yang menakutkan sekaligus indah yaitu bukan lagi dengan sentuhan fisik melainkan dengan sentuhan hati, kata-kata, belaskasihan dan bahkan pengorbanan diri.

Di dalam Kristus kita mesti belajar untuk mendengarkan tangisan suara sesama yang menderita dan mendukung mereka untuk berhasil mengalahkan kegelapan itu. Di dalam Kristus kita juga belajar mendengar suara alam dan semua makluk di dalamnya yang meminta kita untuk berhenti mengeksploitasi dirinya. Karena kita tahu bahwa kelangsungan kehidupan kita tergantung erat pada kelangsungan kehidupan alam semesta beserta segala isinya. Selamat merayakan Paskah. Tuhan Yesus memberkati! ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *