Ibadah Paskah Bagi Komunitas Tuli di GMIT

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Karya keselamatan Allah melalui Kematian dan Kebangkitan Yesus Kristus patut diberitakan kepada seluruh umat manusia di sepanjang zaman. Tidak terkecuali para penyandang disabilitas.

Di lingkup Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), pelayanan untuk dan bersama para penyandang disabilitas terus diupayakan kendati harus diakui masih terbatas. Salah satu upaya yang dilakukan baru-baru ini adalah menyediakan juru bahasa isyarat bagi para penyadang disabilitas tuli dalam mengikuti kebaktian online sepanjang Minggu Sengsara hingga Paskah.

Ritasari Boling (22), yang didaulat menjadi juru bahasa isyarat untuk pelayanan dimaksud, menyambut gembira terobosan ini. Menurutnya moment tersebut telah lama dinantikan oleh komunitas tuli terutama di Kota Kupang.

“Penyandang disabilitas tuli khususnya di Kupang sangat rajin beribadah, walaupun selama ini mereka jarang mendapat pelayanan melalui juru bahasa isyarat dalam ibadah-ibadah di gereja. Jadi, upaya GMIT hari ini bagi saya sesuatu yang luar biasa,” ujar Anna usai kebaktian Paskah II yang disiarkan dari Jemaat GMIT Kaisarea Kolhua, Senin, (13/4).

Dalam kebaktian tersebut, mahasiswi yang telah 2 tahun menekuni bahasa isyarat ini menerjemahkan doa dan khotbah.

“Biasanya saya hanya menerjemahkan khotbah namun sekali waktu teman-teman tuli merasa penasaran mengapa doa syafaat lama. Jadi mereka meminta saya untuk menerjemahkan doa-doa,” ujarnya.

Dalam pengalamannya lanjut Anna sapaan akrab Ritasari, salah satu tantangan dalam menerjemahkan bahasa isyarat adalah kata-kata asing. Oleh sebab itu ia berharap para pendeta sebisa mungkin menyederhanakan bahasa khotbah sehingga bisa dimengerti oleh kaum tuli.

Ritasari Boling, Juru Bahasa Isyarat dari Komunitas Tuli Kupang (KTK).

Fransky Nitanel Loa, salah satu anggota Komunitas Tuli Kupang (KTK) yang dihubungi Anna usai kebaktian mengaku senang oleh karena dapat mengikuti kebaktian online Paskah dengan bantuan juru bahasa isyarat.

“Paskah tahun ini lebih menyenangkan karena ada juru bahasa isyarat sehingga saya bisa memahami khotbah yang disampaikan pendeta,” tulis Nitanel melalui pesan Whatsapp.

Menurut Anna hingga saat ini anggota KTK kurang lebih 70 orang pemuda.  Jumlah ini belum termasuk usia anak dan orang tua.

Bagi yang beragama Kristen, kerinduan dan harapan mereka adalah gereja menyediakan liturgi dan menampilkan pokok-pokok khotbah serta doa pada layar LCD sehingga dapat dibaca dan dimengerti saat mereka mengikuti kebaktian minggu. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *