Peran-Fungsi Pemimpin Agama dan Kebijakan Gerejawi tentang Covid 19 (Pengalaman GMIT) – Pdt. Mery Kolimon

www.sinodegmit.or.id, Saya berterima kasih mendapat kesempatan untuk menyiapkan presentasi ini. Olehnya saya dapat kesempatan untuk berefleksi lebih serius mengenai peran dan fungsi kepemimpinan serta kebijakan GMIT dalam menanggapi Covid-19.

Pdt. Mery Kolimon, Ketua MS GMIT

Di kesempatan ini saya bagikan beberapa catatan refleksi saya:

  1. Pentingnya kepemimpinan yang solid dan didasari visi teologi yang jelas dalam masa krisis

Kepemimpinan di GMIT bukanlah kepemimpinan tunggal, melainkan kepemimpinan kolektif-kolegial. Kepemimpinan gereja itu haruslah digerakkan oleh visi teologis yang jernih, sehingga tidak sekedar bereaksi terhadap keadaan. Pandemi Covid-19 datang begitu tiba-tiba dan tak satupun dari kita siap menghadapinya. Namun saya bersyukur bahwa kerja sama yang baik sebagai satu tim dalam kepemimpinan di GMIT menolong kami untuk saling percaya ketika harus mengambil keputusan yang sulit.

Ketika kami mengumumkan bahwa kami akan mulai beribadah dari rumah, pemerintah NTT belum mengumumkan untuk meliburkan kantor-kantor. Kami tahu bahwa kami harus melindungi kehidupan dan gereja harus berperan untuk memberikan pesan kepada semua anggota jemaat dan pemimpin gereja di berbagai lingkup bahwa kita sedang menghadapi hal yang sangat serius dan butuh kerja sama untuk memutus rantai penularan Covid-19. Saya ingat di rapat-rapat kami, tidak pernah ada keraguan sedikitpun bahwa gereja harus berada di depan untuk melindungi kehidupan.

Menurut saya, ketika pemimpin-pemimpin gereja memiliki visi teologis yang jelas dan sekaligus memiliki kerendahan hati untuk saling mendengar, serta keberanian bertindak maka mereka dapat menjadi tim yang solid untuk memimpin persekutuan mereka dalam masa-masa yang sulit. Sebaliknya ketika para pemimpin memanfaatkan situasi sulit untuk mencari popularitas pribadi, atau ketika mereka bersikap ragu-ragu, mereka bisa terjebak dalam konflik dan membawa persekutuan ke dalam perpecahan atau dalam kekacauan bersikap.

Sikap pro-kontra pasti ada. Pandemi global Covid-19 membawa banyak ketidakpastian. Karena itu keputusan apapun akan menyebabkan banyak pertanyaan, bahkan gugatan. Yang paling penting pemimpin memiliki nilai yang dipegang dan tetap berdiri pada nilai tersebut. Dalam konteks pandemi ini, nilai itu adalah komitmen untuk menjaga dan membela kehidupan milik Allah.

  1. Berani Berkorban dengan semua Resiko

Ketika mengumumkan kebaktian di rumah, yang tidak tahu kapan akan berakhir, kita menghadapi tantangan mengenai akan berkurangnya jumlah persembahan. Dalam situasi seperti itu, gereja bisa saja tergoda untuk berpikir untung rugi. Namun saya ingat dalam percakapan kami, tak sekalipun hal itu dirisaukan. Kami semua bersepakat bahwa gereja tak boleh berpikir untuk dirinya sebagai lembaga. Keputusan untuk sementara waktu berbakti di rumah juga tidak serta merta disetujui semua pihak. Kami menerima banyak tanggapan positif. Namun tak kalah banyak juga pernyataan tidak setuju, bahkan kecaman.

Saya ingat seorang ibu anggota persekutuan doa dari SoE menelpon dan mengatakan dia mendapat penglihatan bahwa Tuhan setuju dengan apa yang kami Majelis Sinode Harian (MSH) lakukan sebab kita harus menjaga agar virus tidak mengambil korban warga jemaat. Dia menyebut ayat Alkitab yang Tuhan suruh untuk disampaikan pada saya. Namun ada juga sepasang suami isteri anggota persekutuan doa yang minggu lalu datang ke pastori kami hanya untuk menyampaikan ayat Alkitab dan nyanyi sebuah lagu yang isinya kemarahan Tuhan kepada kami. Juga di media sosial ada banyak yang mendukung sikap MS, namun ada banyak juga yang mengecam. Kami belajar bahwa dunia dalam masa krisis seperti ini memerlukan pemimpin yang berani mengambil sikap tegas dan jelas dengan segala resikonya.

Kami juga belajar tentang sikap berani berkorban dari kawan-kawan kami di lapangan. Mereka juga tak kalah sengitnya menghadapi resistensi terhadap kebijakan bergereja di rumah. Namun mereka teguh untuk terus berkomunikasi dengan jemaat. Selain itu dalam berbagai keterbatasan, mereka aktif mengupayakan bantuan masker dan sembako untuk kelompok-kelompok rentan dalam jemaat dan masyarakat.

Kita juga saling mengingatkan  bahwa kalau ada bantuan sembako, ingatlah yang paling rentan di antara jemaat. Tetapi juga perhatikan yang rentan di sekitar kita, yang bukan anggota jemaat kita, mereka yang beragama lain. Gereja bukan koperasi: dari, oleh, dan untuk anggota. Krisis bisa menyebabkan manusia makin egois, hanya berpikir tentang diri sendiri. Kita belajar dari gereja mula-mula, mereka tidak hanya berpikir tentang diri mereka sendiri: mereka tidak kumpul makanan utk diri mereka sendiri tetapi mengumpulkan apa yang mereka miliki untuk berbagi dengan masyarakat di sekitar mereka.

Kami juga mengingatkan jemaat-jemaat untuk pada masa panen sekarang, gereja perlu mengaktifkan lumbung-lumbung jemaat agar nanti dapat dimanfaatkan saat-saat sulit ketika jemaat dan masyarakat sekitar kekurangan makanan. Nilai paling mendasar dari Kekristenan adalah pengorbanan dan pemberian diri. Gereja tak boleh berpikir tentang diri sendiri dan memperjuangkan kepentingan sendiri. Bukankah itu yang kita pelajari dari Allah yang dalam Kristus memberi puteraNya mati untuk kita?

  1. Mintalah Nasihat dari Para Ahli, Belajar dari Perkembangan Ilmu Pengetahuan: Mengatasi Ketegangan Ilmu dan Iman

Salah satu isu yang muncul di kalangan gereja-gereja di Indonesia adalah ketegangan antara iman dan ilmu pengetahuan. Ada yang mengatakan mengapa harus takut kepada virus. Yang dibutuhkan dalam situasi seperti ini adalah beriman. Akibatnya orang Kristen dan pemimpin-pempimpin mereka bisa saja terlalu berlebihan dalam memberi tanggapan atau terlalu menganggap remeh keadaan.

Saya mengingat sejak awal ketika kami menganjurkan untuk orang sementara jangan dulu jabat tangan, jangan dulu cium hidung, ada kawan yang bilang, oh kalau saya cium saja tidak apa-apa. Namun ketika MS GMIT memutuskan mengundang kawan-kawan dari Dinas Kesehatan Propinsi NTT dan dari Fakultas Kedokteran Undana untuk mendengar penjelasan mereka mengenai apa sebenarnya yang sedang terjadi, semua pihak di kepemimpinan GMIT mulai merasa bahwa ini masalah serius. Jadi pemimpin perlu mendapat masukan dan nasehat dari orang yg benar-benar ahli, atau paling tidak dari orang yang memahami situasi secara lebih baik berdasarkan latar belakang ilmu mereka.  Penting kita mengumpulkan orang-orang yang memahami dan memiliki pengalaman dalam hal pelayanan kesehatan agar mereka memberi kita masukan. Selain itu kita perlu belajar dari kawan-kawan yang terbiasa dengan Tanggap Bencana agar kita tidak terlalu gagap dengan keadaan ini. Kita tidak boleh malu untuk belajar dari orang yang lebih pintar dan berpengalaman dari kita. Kadang-kadang pendeta pikir mereka tahu semua hal. Dalam kenyataan tidak demikian. Kita butuh kawan yang lebih berhikmat, lebih pandai, berpengalaman untuk melengkapi kita. Kita perlu merangkul sumber daya gereja yang lebih luas daripada yang ada di staf atau kemajelisan kita. Kita perlu melakukannya karena dalam situasi tanggap bencana seperti sekarang, hal itu dibutuhkan. Kita butuh tim yang bersedia memberi kita informasi akurat agar kita membuat keputusan yang tepat. Kita bisa saja berkoordinasi dengan pihak pemerintah dan dinas-dinas terkait. Namun kita harus tetap kritis terhadap berbagai pendapat yang kita terima agar kita tidak terpengaruh oleh pendapat-pendapat ekstrem yang memanfaatkan keadaan ini untuk kepentingan politik mereka.

Mendapatkan dukungan dari orang-orang yang bijaksana dan berpengalaman akan membantu kita sebagai pemimpin untuk menjadi lebih fokus dan memiliki pemikiran dan nurani yang jernih. Dalam situasi krisis seperti ini ilmu dan iman tidak perlu dan tidak boleh dipertentangkan. Keduanya perlu saling melengkapi.

  1. Berkomunikasi Secara Jelas

Dalam keadaan krisis, komunikasi yang jelas, berkala, dan konsisten dari pemimpin dibutuhkan. Seringkali terjadi pemimpin berbicara terlalu banyak atau berbicara terlalu sedikit. Dalam situasi krisis, anggota komunitas ingin mendengar apa yang dipikirkan pemimpin mereka. Mereka ingin tahu apa yang dipikirkan pemimpin mereka dalam situasi sulit seperti ini. Komunitas kita perlu tahu apa yang kita putuskan. Dan perlu dijelaskan mengapa kita memutuskan demikian. Misalnya mungkin bagi kita sudah jelas mengapa perjamuan kudus ditunda. Namun tidak demikian bagi jemaat di akar rumput. Sebuah penjelasan (teologis) dibutuhkan.

Hal lain terkait komunikasi adalah harus diingat bahwa apa yang seorang katakan, apa yang kita tulis di media sosial, apa yang kita sampaikan ketika wartawan mewawancarai dan menulis di media, akan mempengaruhi pandangan dan sikap anggota komunitas kita. Ketika kita membuat lelucon tentang keadaan yang serius ini atau mengirim berita hoax, hal itu mengurangi kepercayaan anggota komunitas kepada kita.

Bagian yang paling penting dari komunikasi para pemimpin adalah mengenai harapan. Kita harus tetap menyuarakan bahwa pandemic ini bukan kata akhir. Selalu ada solusi dari setiap masalah. Kita beriman pada Allah yang turut bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan. Dan Allah tidak akan meninggalkan dunia yang dikasihiNya terus tenggelam dalam bencana dan derita. Para pemimpin harus terus mengomunikasikan tentang harapan dan membangun semangat komunitas untuk tidak putus asa.

  1. Jangan Manfaatkan Bencana untuk Kepentingan Pribadi atau Lembaga

Dalam masa-masa krisis ini integritas kita diuji.  Kita tidak boleh memanfaatkan krisis ini untuk mencari keuntungan sebagai pribadi pemimpin gereja atau bagi gereja sebagai lembaga. Tak satupun kita yang tahu kapan bencana ini akan berakhir dan apa dampak yang akan ditimbulkannya. Di GMIT kami sedang bicara mengenai, what would happen to GMIT after Covid-19? Tak satupun kita yang dapat memastikan perubahan yang terjadi.  Namun hal sederhana yang harus kita ingat adalah bahwa pilihan-pilihan sikap kita sekarang akan berpengaruh pada kehidupan gereja di masa yang akan datang.

Gereja dan pemimpin gereja yang hanya berpikir untuk dirinya, apalagi memanipulasi jemaat/masyarakat untuk dirinya sendiri akan ditinggalkan. Sebaliknya gereja yang peduli dan mau menanggung beban bersama seluruh jemaat dan masyarakat akan tetap dipercaya ketika krisis telah lewat. Anugerah/belas kasih dan kebenaran akan memimpin kita sampai di ujung jalan. Kita harus tetap berusaha menunjukkan ketulusan kita untuk bahu membahu memutuskan rantai penularan Covid dan untuk menanggulangi bersama dampaknya dalam berbagai bidang kehidupan dengan berbagi sumber daya yang ada pada kita.

  1. Lihatlah Peluang di Tengah Berbagai Tantangan

Seorang pemimpin akan melihat peluang, ketika yang lain hanya melihat masalah. Memang bencana pandemic ini membawa banyak masalah dan kesulitan tapi juga menjadi kesempatan bagi kita untuk belajar hal-hal baru.

Salah satunya adalah kita meningkatkan kemampuan dan pengalaman digital kita. Komunikasi dunia sejak Covid-19 ini akan berubah drastis, dan entah dari generasi mana kita berasal, kita sudah harus belajar untuk masuk dalam komunikasi online ini. Kita harus belajar tentang live-streaming, bagaimana berapat dan mengikuti pelatihan sevara online, bagaimana teknik berkhotbah, mengajar katekisasi dan sekolah minggu, secara menarik dan berdampak melalui layar kaca. Itu tidak mudah tapi harus kita pelajari. Kita sedang diutus Kristus masuk ke dalam situasi ini.

Covid-19 ini juga menciptakan kesempatan bagi kita untuk mengembangkan kreatifitas guna menguatkan koinonia/persekutuan kita di lingkup jemaat/ klasis/sinode dengan memanfaatkan media-media virtual. Ini sebuah tantangan yang sungguh berat, namun dapat kita lakukan. Kunjungan kita ke rumah jemaat mungkin tak dapat kita lakukan secara fisik, tetapi dapat kita lakukan secara berkala melalui media komunikasi virtual. Mereka yang kesepian dan menderita perlu merasa perhatian dan dukungan kita. Kita juga dapat mendorong jemaat-jemaat dalam lingkungan yang berbeda dapat berdoa bersama pada jam-jam tertentu dan terus menghidupi makna persekutuan beriman tanpa bertatap muka secara langsung.

Ini juga menjadi kesempatan bagi gereja-gereja untuk melayani jemaat masyarakat melalui aksi kasih. Ini kesempatan untuk memperkuat diakonia kita. Kami sudah meminta jemaat-jemaat GMIT untuk merealokasi dan memfokuskan program dan anggaran 2020 kepada pelayanan tanggap Covid-19. Kita perlu belajar untuk dalam berbagai kekurangan karena menurunnya jumlah persembahan setiap minggu dan setiap bulan, ada menejemen sumber daya non-uang dalam jemaat untuk saling berbagi kasih, terutama untuk mereka yang paling rentan.

Masa Covid-19 ini juga menjadi kesempatan untuk kita menyegarkan kerohanian jemaat kita. Kita bisa memakai banyak cara: pelayanan online/live-streaming, memakai radio, audio, bahkan memakai toa/pengeras suara. Kita pakai waktu ketika jemaat sedang bergumul dengan ketakutan dan kecemasan ini untuk sungguh-sungguh memproklamasikan Injil Yesus Kristus. Kita menyaksikan bahwa ada harapan di dalam kasih Allah bagi dunia. Kita juga menyerukan pertobatan agar manusia kembali menata hidup secara pribadi maupun dalam sistem dan struktur yang tidak adil.

Sebagai pemimpin ini menjadi kesempatan untuk kita memimpin dengan rendah hati dan penuh kepekaan meminta Tuhan menuntun kita. Saya yakin bahwa kalau kita saling berpegang tangan melewati krisis ini, kita akan mampu menghadapi tantangan yang lebih besar di masa depan. ***

Kupang, awal Mei 2020.

[1] Materi yang disampaikan pada Webinar “Pelatihan Psikososial bagi Pemimpin GMIT” dalam kerja sama antara GMIT, WVI, dan PGI, 5-6 Mei 2020.
[2] Ketua MS GMIT Periode 2020-2023.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *