Membangun Budaya Damai Sejahtera (Yohanes 20:19-31) – Pdt. Jahja A. Millu

www.sinodegmit.or.id, Ini minggu kita pung tema khotbah tentang damai sejahtra. Tema ini pas sekali dengan kita pung keadaan sekarang. Kenapa pas? Karena paling kurang ada dua alasan. Pertama, orang su tidak rasa damai sejahtra gara-gara covid. Dia bikin banyak orang mati. Dia juga buat pintu gereja terkunci. Pintu rumah terkunci. Pintu kantor terkunci. Akibatnya orang tidak kerja. Cari makan susah. Cari uang lebih susah lagi. Pokoknya, covid bikin banyak orang sengsara. Pemerintah dorang juga pusing urus ini barang.

Alasan kedua, ini tema mau ajak kita ko jadi pembawa damai sejahtra kasih dunia yang susah. Kalo covid bikin dunia susah, orang percaya tidak boleh kunci diri saja dalam rumah, nanti dunia tambah hancur. Yo, memang ini penyakit suruh kita ko jang baku dekat. Tapi dia tidak boleh halangi kita ko baku tolong.

Untuk omong dua hal diatas, bacaan kita hari ini bisa menolong. Ini Firman pung latar belakang hampir sama dengan kita pung keadaan. Yesus pung murid dorang ada kumpul di satu rumah yang terkunci karena takut. Dorang takut dengan orang Yahudi (ay. 19). Tiba-tiba Yesus datang dan berdiri di dorang pung tengah-tengah.

Istilah “Yesus datang” mungkin kita anggap biasa. Tapi itu adalah kata kunci dari semua cerita penampakan Yesus. Tiap Injil omong kebangkitan dengan cara masing-masing. Tapi ada satu yang sama. Bukan murid dorang yang datang cari Yesus. Tapi Yesus yang datang cari dorang.

Kalau saya Yesus, barangkali saja waktu bangkit sa tidak pusing itu murid-murid lagi. Dorang semua bangun lari waktu saya mau disalibkan. Dorang menyangkal bilang tidak kenal saya. Tapi Yesus tidak begitu. Dia memang sahabat sejati, gembala yang baik. Yesus tidak membiarkan dorang sendiri dalam ketakutan. Dia cari Dia pung sobat sampai di lubang batu ju cari, ada kunci pintu rapat-rapat ju cari. Tidak ada apapun yang bisa halangi Yesus untuk datang cari murid-murid. Orang Yahudi yang buat dorang takut tidak bisa. Pintu yang terkunci juga tidak bisa. Kristus yang bangkit bisa menembus batas-batas ruang dan waktu, bahkan kematian.

Covid sudah tutup banyak pintu, baik itu pintu kesehatan, pintu ekonomi, pintu sosial budaya dll. Banyak orang pintar bilang itu pintu yang terkunci dorang lama baru bisa terbuka kembali. Bahkan ada pintu tertentu yang tidak bisa terbuka lagi. Tapi kita tetap percaya bahwa Yesus pasti datang tolong kita. Dan kalo Dia datang, semua pintu yang terkunci tidak bisa menghambat kehadiranNya. Tapi ada yang menarik. Ini cerita tidak bilang Yesus buka itu pintu. Yohanes bilang pintu masih tetap terkunci, tapi sekarang Yesus ada sama-sama dengan dorang. Seringkali kita mau ko semua pintu harus terbuka dulu baru kita bilang Tuhan ada tolong. Tapi sekarang kita belajar bahwa biarpun pintu masih terkunci, asal Yesus ada sama-sama dengan kita, itu su cukup.

Firman Tuhan bilang bahwa Yesus tidak hanya bisa mengatasi pintu yang terkunci. Pertolongan berikutnya ialah kasih murid-murid dorang damai sejahtra. Tiga kali memang Yesus omong shalom (damai sejahtra). Orang Israel biasa baku tegur na bilang shalom, sama ke orang Alor juga. Tapi Yesus pung shalom ini kali laen. Ini datang dari Yesus yang bisa buka pintu terkunci yang paling susah ditembus, yakni maut. Dia sudah kasih kalah kematian, hal yang paling bikin takut manusia di seluruh dunia, dulu dan sekarang. Dan sekarang Yesus mau kasih dorang damai sejahtra saat dorang hilang kompas tak berpengharapan, dan takut orang Yahudi bunuh bikin mati dorang.

Jadi kalo di masa susah ini kita dengar lagi Yesus bilang shalom, maka itu kata harus bikin kita mengalami damai sejahtra. Kematian covid memang mengancam, tapi Yesus yang sudah kasih kalah maut mau ajak kita ko tidak gelisah dan takut. Hanya damai sejahtra dari Tuhan yang sudah kasih kalah maut yang bisa buat orang mengalami damai sejahtra di tengah ancaman maut.

Tapi Yesus tidak ingin orang percaya saja yang alami damai sejahtra. Tuhan terlalu sayang ini dunia dan dia mau semua orang alami damai sejahtra. Karena itu Ia utus para murid untuk jadi pembawa damai sejahtra ke dalam dunia. Ayat 21 bilang: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.”

Covid buat ojek sepi, sopir angkot ju sepi, papalele ju sepi. Itu sama deng rejeki jauh. Apalagi balu, janda, yatim piatu, anak-anak terlantar dorang Jadi mari buka pintu, buka hati, buka tangan, berilah mereka makan. Yesus pernah omong “Ketika Aku lapar kamu memberi Aku makan, ketika Aku haus kamu memberi Aku minum, ketika Aku telanjang kamu memberi Aku pakaian.” Kasih harus menembus batas yang covid bikin, karena roh yang Tuhan Yesus kasih adalah roh kasih.

Berkat ketiga yang Yesus kasih buat para murid dorang ialah kasih Dia pung Roh. Ini bukan main-main. Ini Yesus pung roh yang kasih dorang. Yesus kasih RohNya karena waktu utus dorang, keadaan masih kacau. Yesus baru disalibkan satu minggu lalu. Dorang juga masih takut dengan orang Yahudi, jang sampe tangkap dorang juga. Tapi Tuhan kasih Roh bukan supaya para murid dorang tetap takut dan terus kunci diri dalam rumah. Anugerah Roh diberikan untuk menggerakan dorang masuk ke dalam dunia, bahkan jika dorang tahu bahwa ada resiko besar yang akan dihadapi.

Kenapa Yesus utus dorang dalam kondisi bahaya begini? Yesus mau ko dorang bawa damai sejahtra kasih dunia, termasuk kasih musuh. Juga bawa damai sejahtra kasih dunia yang baru saja salibkan Yesus. Perintah Yesus jelas bahwa Injil itu berita damai sejahtra. Dan berita itu mau buat musuh jadi kawan, jadi sahabat, jadi keluarga. Dia pung nama bukan Injil, kalo tidak bisa buat dunia jadi seperti itu. Dan pengalaman murid-murid, dulu dan sekarang, menunjukkan bahwa dunia bisa berubah karena Injil telah memenuhi fungsinya itu dengan baik.

Model pengutusan seperti begini tentu terlalu berbahaya. Padahal kita tahu bahwa para murid dorang bukan orang bae. Dorang semua takut mati, terutama waktu Yesus mau disalibkan. Tapi Yesus datang cari dorang dan kasih kepercayaan yang besar. Yesus dengan sabar atasi dorang pung kelemahan. Sebagai pencipta Dia tahu bahwa manusia bisa berubah karena dorang makhluk mulia. Hanya setan yang tidak bisa berubah. Makanya Yesus berani kasih dorang tanggungjawab untuk melanjutkan apa yang Dia sudah buat selama pelayananNya: untuk bawa damai sejahtra kasih dunia.

Aplikasi
Bagaimana pengalaman kita melaksanakan tugas membawa damai sejahtra selama covid? Tentu tiap orang punya cerita masing-masing. Juga tiap gereja sebagai lembaga. Tapi ada beberapa hal yang mungkin perlu kita renungkan bersama. Banyak orang anggap bencana, termasuk covid adalah hukuman Tuhan atas dosa manusia. Dorang anggap itu hukuman memang pantas kena di itu manusia berdosa dorang. Makanya biar bencana bikin banyak manusia mati juga dorang tidak peduli.

Ada juga tipe manusia lain yang kasih salah Tuhan waktu ada bencana. Kalo Tuhan adalah Pencipta alam semesta dan berkuasa atasnya, kenapa Tuhan kasih biar ko bencana bikin banyak orang mati? Tuhan tidak sayang manusia ko? Atau jangan-jangan Tuhan tidak ada. Atau Tuhan ada tapi tidak berkuasa.

Pandangan begini menurut seorang teolog namanya Sobrino, menggambarkan dialektika antara teodise dan antropodise dalam penderitaan manusia. Terkadang Tuhan disalahkan ‘untuk memaafkan manusia dari tanggung jawab mereka atas penderitaan’ (2004:27). Kita anggap bencana tu hukuman Tuhan supaya kita bisa cuci tangan. Atau kita marah Tuhan karena kasih biar bencana terjadi, padahal itu untuk tutup kita pung kelemahan karena tidak sungguh-sungguh tolong orang susah.

Selanjutnya Sobrino bilang bahwa banyak bencana bersifat alami (seperti covid). Tapi dia pung dampak yang tidak merata kepada manusia, terutama bagi orang miskin, bukan alam yang bikin. Ini lebih banyak gara-gara manusia. Kita bangun ini planet dengan ketidakadilan yang besar, kejam dan abadi (2004:3-4). Trus setelah banyak orang menderita, kita tidak mau tolong. Atau tolong tapi setengah hati.

Kita juga sering tanya, kapan ee ini covid brenti. Tapi bisa saja ini pertanyaan muncul karena kita su cape bantu orang susah. Atau mungkin kita su rugi karna harus tolong orang lain. Atau karna su tidak mau kasih sumbangan lagi. Daripada berpikir begitu, lebih baik kita belajar bertumbuh dari peristiwa covid ini. Kita bisa belajar membangun iman kita sendiri untuk hadapi krisis. Kita juga bisa belajar membantu orang lain, berbelas kasihan terhadap orang lain, atau belajar untuk membantu lebih baik lagi dari sebelumnya.

Biarlah Yesus yang mempertahankan luka salib, menjadi acuan kita. Injil Yohanes bilang bahwa tubuh Yesus yang bangkit adalah tubuh mulia. Tapi yang tidak mulia ialah bekas luka salib di tangan dan lambungnya. Song (2006:367) bilang, bekas luka itu adalah bukti bahwa Yesus akan menjadikan manusia pung krisis menjadi krisis Allah. Sebab kalo Allah tidak merasakan krisis saat manusia alami krisis, itu adalah Allah yang sia-sia. Allah yang tak berpengharapan. Tapi jika Allah menjadikan manusia pung krisis sebagai krisis Allah sendiri, itu adalah Allah yang penuh pengharapan, Allah dengan pengharapan.

Jadi bapak, mama, kakak, adik dorang, mari ko kita jadi pembawa bawa damai sejahtra, biar supaya dunia yang susah bisa jadi baik. Tuhan Yesus memberkati kita. ***

*Bahan Khotbah Bulan Budaya GMIT dalam dialek Alor, Minggu, 10 Mei 2020.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *