Iman Kristen itu Tidak Statis dan Picik – Pdt. Dr. Andreas Yewangoe

www.sinodegmit.or.id,Di dalam kita menghadapi Covid-19 dewasa ini saya mau mengutip pendapat Prof. H.M.Kuitert (almarhum). Beliau dulunya adalah Guru Besar Teologi Sistimatika pada Vrije Universiteit di Amsterdam. Pendapat ini terdapat dalam buku Wolfhart Pannenberg, De Geloofsbelijdenis (1976). Saya kutip dulu dalam bahasa Belanda, kemudian saya akan terjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Pdt. Dr. Andreas Yewangoe

Beliau mengatakan begini: “Het Christendom kan met de tijd mee, zoals het heet; het zit niet vastgebakken aan zijn agrarische oorsprong, hoeft niet alles te houden zoals het altijd was, en heeft daarom ook een woord voor een technische en verstedelijke cultuur, en voor mensen die geleerd hebben tot in hun godsdienst toe kritisch te blijven doorvragen. Het heeft ook en vooral een woord voor de handelende zijn wereld bouwende mens. Dat de geschiedenis onaf is, betekent immers dat het vervolg mede afhankelijk is van wat wij ervan maken. Het Christelijk geloof is dan ook een geloof dat zich waar maakt door zich in te zetten voor een betere wereld, daarom ook een geloof dan lijden en strijd kent, twijfel en soms wanhoop. Wie het heil van alle mensen ter harte gaat, lijdt en vecht zolang er nog onnodig tranen worden geschreid.”

Saya terjemahkan sebagai berikut.: “Kekristenan berjalan bersama waktu (artinya tidak kuno), sebagaimana dikatakan begitu. Ia tidak terpaku pada asal-muasal agrarisnya. Tidak perlu semuanya dipegang sebagaimana begitu dahulu. Karena itu kekristenan juga mempunyai kata untuk suatu budaya teknologi atau yang bersifat kota. Juga untuk orang-orang yang telah belajar untuk terus mempertanyakan secara kritis agama mereka. Kekristenan juga mempunyai kata bagi manusia yang bekerja membangun dunia mereka. Bahwa sejarah belum selesai memang berarti bahwa lanjutan (dari sejarah itu) juga tergantung pada apa yang kita ciptakan. Maka iman Kristen adalah iman yang terwujud dalam upayanya untuk mewujudkan dunia yang lebih baik. Karena itu (iman Kristen ini) mengenal penderitaan dan perjuangan, keragu-raguan dan kadang-kadang keputusasaan. Barangsiapa yang sungguh-sungguh memprihatinkan keselamatan manusia, akan terus menderita dan berjuang selama tidak ada air mata yang tidak perlu dicurahkan”.

Demikian terjemahan saya. Covid-19 ini kata Prof. Nuval Harari dari Hebrew University tidak pernah lagi menempatkan manusia dan lingkungan yang di dalamnya ia hidup seperti sebelumnya. Akan terjadi perubahan-perubahan yang signifikan. Bagaimana kita menjalin relasi sudah sangat ditentukan oleh virus ini. Cara kita beribadah, dan seterusnya. Kita memasuki sekarang fase neo-normal. Kita pernah juga berbicara tentang “digital dictatorship” (kediktatoran digital). Sekarang kita mengalaminya persis di ujung hidung kita setiap saat. Tetapi kita merasa beruntung karena iman Kristen adalah iman yang dinamis. Iman Kristen bukanlah iman seperti katak dalam tempurung. Iman Kristen bukanlah iman yang picik. Iman Kristen adalah iman yang terbuka kepada perubahan. Allah adalah Allah perubahan. Salam dan jaga kesehatan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *