Suara Gembala Sidang Online MS GMIT XLVI – Pdt. Mery Kolimon

Pdt. Dr. Mery Kolimon. Ketua Majelis Sinode GMIT

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Saudara-saudaraku, seluruh peserta sidang. Selamat berjumpa di persidangan virtual ini. Kita sedang dalam masa yang sama sekali tidak normal. Seluruh dunia sedang berjalan di dalam badai besar, dalam bencana kemanusiaan. Seluruh sendi kehidupan umat manusia di seluruh belahan dunia sedang tergoncang.

Kita tidak saja sedang ditimpa bencana kesehatan. Seluruh dunia juga sedang mengalami turbulensi sosial ekonomi, politik, bahkan agama. Banyak bangsa besar mengakui mereka sekarang sedang dihantam resesi yang besar. Goncangan politik mulai terasa di banyak negara. Di gereja, kita bergumul dengan pengasuhan rohani jemaat-jemaat kita dan penatalayanan gereja, termasuk terkait pembiayaan pelayanan. Kita bertanya bagaimana panca pelayanan dapat dilaksanakan dalam masa ini? Entah apapun keadaannya, misi gereja, melalui panca pelayanan harus dilaksanakan. Pertanyaannya adalah bagaimana itu dilaksanakan.

Di masa pandemi ini, kita mendengar erangan seluruh umat manusia, kita juga mendengar erangan kesakitan bumi. Seperti George Floyd, orang kulit hitam Amerika yang mengerang sebelum napas terakhirnya, “Saya tak dapat bernapas”, “I can’t breathe”, demikian banyak orang yang terpapar Covid-19, tidak bisa bernapas, I can’t breathe, saya susah bernapas. Bukan hanya manusia yang kesulitan bernapas, oleh digerogoti virus di paru-parunya. Banyak orang lain yang terdampak Covid-19 mengalami tekanan psikis, budaya, ekonomi, finansial. Bumi kita pun berkata, “I can’t breathe”.

Napas dalam teologi Kristen adalah suatu kategori penting. Ketika Allah menciptakan manusia, Ia menghembuskan napasNya ke dalam tanah liat itu. Manusia bergeliat, manusia mendapatkan hidupnya karena napas Allah dihembuskan kepadanya. Ketika murid-murid ketakutan dan mengunci diri mereka dalam ruangan tertutup setelah Tuhan Yesus naik ke Sorga, Yesus datang menemui mereka dan menghembuskan RohNya pada mereka. Napas Allah adalah kunci kehidupan. Napas itu memberi daya hidup, memberi semangat baru, untuk mengklaim kekuatan dan berjalan melintasi ketakutan dan menjadi pewarta-pewarta kebaikan.

Covid-19 menyerang paru-paru manusia, organ yang diciptakan agar manusia bernapas. Kita diingatkan dalam pandemi ini, napas kita datang dari Dia. Pandanglah Sang Pemilik Napas, timbalah daya dari napas ilahiNya. Padukan napas gereja kita dengan napasNya. Padukan napas kita masing-masing dengan RohNya yang sedang berhembus di dalam dan di antara kita.

Aku tak bisa bernapas. I can’t breath. Banyak anggota jemaat kita sedang tertindih banyak beban akibat pandemi ini. Seorang pun tak tahu kapan berakhir. Gereja pun dapat mengalami dampak yang hebat, secara teologis dan finansial.

Di tengah-tengah situasi ini, gereja mesti terus berteologi, mencoba memahami kehendak Tuhan dalam badai, dalam bencana ini. Itulah substansi sidang ini, kita saling memanggil untuk merumuskan penataan diri dan penataan tugas gereja dalam masa sulit yang sedang kita hadapi. Dalam kesulitan bernapas dunia sekarang ini.

Sidang ini bukan sebuah sidang biasa. Ini sebuah momentum khusus. Bukan hanya karena kita bersidang secara online. Tapi karena kita ingin sebagai gereja mencari cara memberikan tanggapan yang memadai pada perubahan besar yang sedang terjadi dalam dunia. Satu hal pasti, dalam situasi apapun, entah susah atau senang, gereja tidak pernah dipanggil untuk mengurus dirinya sendiri. Gereja dipanggil dan diutus untuk menjadi tanda keselamatan Allah. Gereja yang mengalami hidup dalam anugerah Allah, diutus untuk berbagi karunia keselamatan itu kepada seluruh dunia.

Tema kita periode ini berkata: “Roh Kudus berkuasa atas gereja, masyarakat, dan semesta”. Tuhan dengan caraNya menolong GMIT merumuskan tema ini, tema tentang Roh Kudus, justeru ketika dunia sedang sangat membutuhkan Napas Ilahi, yaitu Roh Tuhan supaya dapat bernapas dengan lega. Kita bersaksi di masa sulit ini: Napas Ilahi Allah ada dan berkuasa. Pandemi tak lebih besar dari Napas Ilahi itu. Karena justeru semua ciptaan, segala kehidupan berasal dari Dia, termasuk virus Corona-19 mendapatkan hidup dan dayanya dari Allah. Gereja Masehi Injili di Timor, mari terus bersaksi. Jangan hilang harap, jangan putus asa. Napas Ilahi Allah bersama-Mu. Roh Kudus Tuhan menyertai kita dalam ziarah gereja. Atur langkah kita untuk seirama berjalan bersamaNya. Dalam tugas kesaksian kabar baik, menyentuh yang tersisih, memulihkan yang terluka, merangkul yang menderita, menyatukan yang pecah dan tercerai-berai oleh amarah, kesombongan, dan murka.

Mari bersidang dalam kesadaran pandemi ini belum berakhir. Pandemi adalah medan di mana kita diutus untuk melayani. Saat gedung gereja ditutup kita sedang melangkah ke medan-medan pelayanan milik Allah untuk bernapas denganNya, dengan sesama, terutama mereka yang sedang sulit bernapas: karena sakit, karena amarah, karena beban-beban hidup yg berat; juga dengan segenap ciptaan, di pasar dan di jalan, di rumah sakit dan di kebun-kebun jemaat kita, bersama hutan dan laut, sungai dan padang yang penuh sampah dan api, lubang-lubang tambang yang menganga, alam yang disakiti ulah manusia.

Mari bersidang saudara-saudaraeku. Dasar persidangan ini kuat sekali. Tata gereja memberikan kita mandat untuk boleh bersidang sebagai Majelis Sinode lebih dari sekali setahun. Dalam situasi khusus karena pandemi, kita bersidang di tengah tahun. Ada urusan-urusan keuangan yang harus sungguh-sungguh kita perhatikan. Namun ingat gereja tidak boleh hanya sibuk dengan urusan uang. Dua hari ini, 1 dan 2 Juli 2020, mari kumpul hikmat bersama agar kita tetap menjadi gereja yang setia melaksanakan amanat kerasulan di tengah dunia yang sedang berubah ini: memberitakan tentang kasih Allah dalam Kristus PuteraNya dan tentang daya RohNya yang berkuasa atas semua manusia, atas gereja, dan segenap ciptaan.

Terima kasih untuk kawan-kawan BPP/UPP yang bekerja keras bersama Majelis Sinode Harian (MSH) menyiapkan bahan-bahan sidang. Pak Widodo dan kawan-kawan di tim bekerja sungguh-sungguh dengan persiapan. Kami telah mengirimkan bahan-bahan secara online lebih dari seminggu sebelum sidang dengan harapan teman-teman Ketua Majeis Klasis (KMK) sudah membaca bahan-bahan ini, bahkan jika dapat mendiskusikannya di teritori dan klasis untuk mendapat masukan bagi persidangan ini.

Ini pengalaman pertama kita bersidang secara online. Dua hari penuh kawan-kawan Tim Media sudah bekerja sebelum persidangan ini. Pak Ivan Rondo, dan kawan-kawan luar biasa membantu kita. Kita bersyukur ada gladi kemarin pagi dan tadi malam sehingga beberapa tantangan sudah dilihat dan diantisipasi untuk jalannya persidangan ini. Segala upaya terbaik dilakukan oleh Tim dan kita semua sebagai MSH, BPP, UPP utk mempersiapkan sidang ini. Kalau ada kekurangan, kita perlu memiliki kelenturan, untuk beradaptasi, dan tidak menghukum diri kita dan orang lain terlalu keras. Kita semua perlu saling mengingatkan untuk bersabar, dengan iman bahwa kita terus hidup dalam anugerah Allah, dan kita dipanggil untuk berbagi anugerah Allah juga dalam perjalanan bersinode kita. Ini kali pertama, dan kita semua belajar. Kali berikut pasti dan harus lebih baik. Selamat bersidang kawan-kawan, selamat berjalan dalam kenormalan baru, dalam tatanan baru, dengan iman: menjaga produktifitas gereja, tetap tekun merawat dan memelihara kehidupan. Napas Ilahi Allah, Roh Tuhan berkuasa atas gereja kita, berkuasa atas persidangan ini. Tuhan adalah Imanuel.  Dia tetap bersama kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *