Pdt. Emr. R.J. Banoet Hidup Dengan Satu Ginjal Memasuki Usia 80 Tahun

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Ginjal adalah organ penting dalam tubuh. Tanpa organ ini, manusia tidak mungkin hidup. Tetapi bagaimana seandainya seseorang hanya punya satu ginjal? Berapa lama ia bisa bertahan hidup?

Sebuah jawaban iman datang dari Pdt. Emeritus Roderick Julianus Banoet, M.Th. Ia sungguh merasakan betapa kemurahan Tuhan nyata disepanjang hidupnya hingga memasuki usia ke-80 dengan mengandalkan satu ginjal saja selama 40 tahun.

Bulan Maret 1979, merupakan moment tidak terlupakan dalam hidup Pdt. Banoet. Sepeda motor yang dikendarainya menabrak dinding tembok di ruas jalan Pemuda, Kuanino-Kupang. Tubuhnya terpelanting dan menggeletak di antara tumpukan drum aspal.

“Saya kira saya sudah mati,” ujarnya dengan suara tertahan mengenang kejadiaan naas 40 tahun lalu itu.

Akibat dari kecelakaan tersebut, ginjal kanannya cedera dan terpaksa dioperasi.

“Kecelakaan itu mengakibatkan ginjal kanan saya diangkat, tapi sampai hari ini saya masih hidup dengan satu ginjal. Itu hanya karena kemurahan Tuhan,” demikian kesaksian iman suami dari dr. Arance Adolfina Markus ini.

Sadar bahwa tubuhnya hanya memiliki satu buah ginjal, ia melatih dirinya agar tetap sehat dengan aktifitas yang bermutu.

“Jangan pernah menonaktifkan fisik, karena orang yang menonaktifkan fisik, ia tak punya kehidupan yang berkualitas,” ujarnya.

R.J Banoet lulus dari STT Jakarta tahun 1973 dan ditahbiskan menjadi pendeta GMIT pada tahun yang sama. Jemaat-jemaat yang pernah dilayani antara lain jemaat Ebenhaeser Oeba, Jemaat Pal Satu (Manutapen), Jemaat Koinonia Kuanino, Jemaat Paulus, dan Jemaat Horeb Perumnas.

Tahun 1985, ayah dari Abi Yeremia Banoet dan Eli Natani Kefi Banoet ini melanjutkan studi dan meraih gelar Magister Teologi di bidang Pastoral dari kampus yang sama. Sepulang dari studi, ia ditempatkan di Jemaat Wilayah Loli, klasis Mollo Timur dan setelah itu dimutasikan ke Jemaat Ebenhaeser Kapan. Dari Kapan, ia dimutasikan kembali ke Kupang dan ditempatkan di Jemaat Sion Oepura sekaligus pensiun (emeritasi) pada tahun 1999.

Bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-80 yang jatuh pada Kamis, 23 Juli 2020 kemarin, mantan Ketua Badan Pekerja Klasis (BPK) Klasis Mollo Timur dan Mollo Utara (1991-1995;1995-1999) ini berkunjung ke Kantor Majelis Sinode GMIT. Di usianya yang senja, ia hendak mendonasikan lebih dari 200 buku teologi dari perpustakaan pribadinya untuk Sinode GMIT.

Ia mengaku sebagian buku-buku teologi ini dibelinya sejak menjalani studi S1 di STT Jakarta. Kala itu ia mencari penghasilan tambahan untuk memenuhi hobinya dengan mengajar pelajaran agama Kristen di beberapa Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah.

“Pendeta yang malas membaca adalah pendeta yang belum bertobat,” kata mantan pengajar Sekolah Theologi Tarus tahun 1973 ini.

Menerima bantuan tersebut, Ketua Majelis Sinode GMIT Pdt. Mery Kolimon menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas teladan iman yang diwariskan melalui sumbangan buku-buku tersebut bagi peningkatan literasi warga gereja.

“Bapak Pendeta Banoet mengajarkan kami tentang bagaimana memelihara warisan-warisan iman dari satu generasi ke generasi berikut. Pelayan Tuhan harus terus bertumbuh dengan belajar dari berbagai sumber,” kata Pdt. Mery.

Acara penyerahan bahan-bahan pustaka tersebut ditutup dengan pemotongan bersama kue ulang tahun Pdt. Banoet ke-80 dan Pdt. Leo Takubessi ke-40.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *