Sekolah GMIT Tidak Boleh Mati di Rumah Sendiri

Pertemuan Kadis P & K-NTT bersama MS GMIT, Rabu, (19/8-2020).

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Linus Lusi Making, S.Pd, M.Pd., menegaskan keberadaan sekolah-sekolah GMIT di NTT tidak boleh mati di rumahnya sendiri.

Untuk itu pihaknya akan memperjuangkan kebutuhan pendidikan bukan hanya di sekolah-sekolah negeri tetapi juga sekolah-sekolah swasta yang dikelola yayasan-yayasan milik lembaga agama termasuk Yayasan Pendidikan Kristen (Yapenkris) GMIT.

“Kami siap memberi dukungan full bagi Yapenkris GMIT. Ini komitmen pemerintah provinsi NTT. Kalau ada hambatan regulasi, kita akan tata kembali. Sekolah Kristen tidak boleh mati di rumah sendiri. Tidak boleh mati. Ini komitmen kita bersama,” tegas Linus pada pertemuan bersama Majelis Sinode GMIT yang juga dihadiri sejumlah pengurus Yapenkris serta kepala sekolah SMA-SMK Kristen di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang, Rabu, (19/8) di kantor MS GMIT.

Pada pertemuan ini juga pengurus Yapenkris meminta penjelasan dan dukungan pemerintah terkait kebutuhan guru di SMA-SMK Kristen-Kupang, pengelolaan dana BOS di masa Covid-19, kewenangan penempatan kepala sekolah, pembangunan sekolah negeri yang berdekatan lokasi dengan sekolah-sekolah GMIT, khususnya rencana pembangunan SMA Negeri di Kecamatan Kota Raja yang berdekatan dengan sejumlah sekolah GMIT di zona tersebut.

Drs. Maxwell Halundaka, Pengurus Yapenkris Priscila meminta pemerintah mempertimbangkan rencana pembangunan SMA Negeri di Kecamatan Kota Raja karena dikhawatirkan akan mengurangi jumlah murid di sekolah GMIT. Ia mengusulkan sebaiknya pemerintah memperkuat dan atau melengkapi kebutuhan sekolah-sekolah GMIT ketimbang membangun yang baru.

Menanggapi usulan tersebut, Kadis P & K memuji kemajuan yang pernah dicapai SMA Kristen pada tahun 80-an. Sebab itu ia juga tidak menghendaki rencana pembangunan SMA Negeri yang baru itu kelak mengancam sekolah-sekolah di sekitarnya. Sebab itu ia meminta dukungan MS GMIT untuk membicarakannya dengan gubernur NTT, Ketua DPRD NTT dan Walikota Kupang.

“Pada tahun 80-an, (siswa-siswa, red.) SMA Kristen pada jam 5 dan 6 sore, di sepanjang Polda NTT sampai Bumi Putra itu seperti semut. Rencana pembangunan SMA Negeri di Kota Raja tidak boleh mematikan SMA Kristen. Kami akan komunikasi dengan Pak Gubernur dan wakil, Ibu Emi Nomleni (ketua DPRD NTT, red.) juga Pak Walikota untuk kita bergerak bersama. Ini penting sekali,” ujar Linus.

Kadis P & K juga memberi apreasiasi dukungan 2% pendidikan GMIT kepada sekolah-sekolahnya namun ia juga meminta Majelis Sinode GMIT meyakinkan para orang tua siswa untuk menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah-sekolah yang didirikan gereja.

“Basis sekolah-sekolah GMIT adalah Gereja, sehingga kalau sekolah Kristen ‘mati’ maka yang gagal adalah umat (jemaat, red.). Kita harus arahkan anak-anak kita sekolah di sekolah Kristen bukan ke sekolah negeri karena di situ ada pendidikan Kristen.”

Ketua MS GMIT, Pdt. Mery Kolimon pada kesempatan ini menyampaikan terima kasih atas dukungan pemerintah di bidang pendidikan GMIT sekaligus menyerahkan dokumen daftar nama 30 SMA-SMK Kristen yang dikelola Yapenkris kepada Kadis P & K. Dokumen ini diharapkan menjadi alat analisis dalam rangka mendukung sekolah-sekolah itu.

Ia juga meminta Dinas P & K Provinsi untuk membangun komunikasi dengan Dinas P & K di kabupaten-kabupaten agar memberi perhatian kepada sekolah-sekolah GMIT khususnya dalam urusan perijinan, penempatan guru dan kepala sekolah dan juga kesiapan penerapan adaptasi kebiasaan baru di masa pandemi Covid-19.

Di akhir pertemuan yang berlangsung sekitar 2 jam tersebut, Kadis P & K menawarkan kerja sama dengan MS GMIT untuk mendukung salah satu SMK sebagai pilot projek pengembangan pendidikan yang bermutu.

“Teman-teman Yapenkris, Ibu Ketua Sinode, kami tantang, bisa tidak, beri kami satu SMK Kristen yang kita sampelkan selama 4 tahun. Teknisnya nanti kita bicarakan.” ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *