Tuhan Tak Berdagang

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, “Agen datang di tempat saya, tanya kenapa mau lari. Saya bilang, saya ini empat tahun lebih e, gaji saya tidak pernah terima 700 (ringgit). Setiap bulan cuma 200, 300; itu pun cuma uang makan. Mau kirim ke kampung juga. Orang tua susah. …Habis agen bilang, kamu tidak boleh lari, kamu pu paspor su ada di tangan saya. …”

Penggalan di atas merupakan salah satu kisah pilu dari 12 narasi dan refleksi teologis yang ditulis dalam buku, “Tuhan tak Berdagang”.

Buku terbitan BPK Gunung Mulia tahun 2020 ini, berisi beragam kisah penderitaan pekerja migran asal NTT, antara lain; Mama Lali yang gajinya dihabiskan suami di kampung, Maria yang ditipu oleh perekrut lapangan yang merupakan saudara ayahnya sendiri; Lot yang ditipu perusahaan PMI dan mengalami gangguan kejiwaan, Eta, Dina dan Ema yang diperbudak di perusahaan sarang burung walet hingga dua rekan mereka tewas; Rani yang diperkosa oleh adik majikan hingga hamil; Nona yang dipulangkan dalam peti mati dnegan kondisi mencurigakan; Ria yang diperlakukan tidak manusiawi di Balai Latihan Kerja; Maria yang diamputasi tangannya akibat tersengat listrik di rumah majikan; Nori yang dijual kakak angkatnya menjadi pekerja seks; dan sejumlah kisah tragis lainnya.

Sangat miris, membaca kisah-kisah pengalaman tragis dan traumatis para mantan pekerja migran yang dimuat dalam buku ini.

Buku setebal 245 halaman yang diberi pengantar oleh Ketua MS GMIT, Pdt. Dr. Mery Kolimon ini ditulis oleh sejumlah pendeta, dosen, aktivis anti perdangangan manusia yang concern dengan isu-isu kemanusiaan di NTT.

Kamis, (20/8), Majelis Sinode GMIT melalui Unit Tanggap Bencana Alam dan Kemanusiaan, menyelenggarakan webinar bedah buku “Tuhan tak Berdagang” ini dengan melibatkan tiga pembicara antara lain, Pdt. Dr. Ira Mangililo (pengajar dari Pasca Sarjana UKAW-Kupang), Emi Nomleni (Ketua DPRD NTT) dan Herman Seran (aktivis kemanusiaan).

Membaca kompleksitas masalah buruh migran dan perdagangan manusia di NTT yang dinarasikan dalam buku ini, Pdt. Ira mengemukakan beberapa point kesimpulan;

Pertama, perdagangan orang dipicu oleh dua faktor utama; Pendorong dan Penarik.  Faktor pendorong berupa, kemiskinan yang ekstrim, pengangguran, tidak ada pekerjaan, pendidikan yang rendah, terbatasnya informasi, kurangnya program pemerintah yang peka terhadap kebutuhan masyarakat di wilayah pedalaman dan adanya ketidakadilan gender akibat kuatnya ideologi partriarki.

Sementara faktor penarik berupa, globalisasi, ekonomi pasar bebas yang meningkatkan permintaan tenaga kerja murah, neokolonialisme, ketersediaan barang dan jasa di negara/daerah tujuan.

Kedua, berdasarkan suara para korban dalam buku ini, paling kurang ada dua wajah kemiskinan yang tampak: kemiskinan yang bersifat nyata/rill dan kemiskinan yang bersifat relatif. Kemiskinan nyata ditandai dengan tidak adanya akses terhadap kebutuhan sandang, pangan dan pendidikan bagi para korban. Sedangkan kemiskinan relatif dicirikan dengan perasaan ketidaksetaraan yang muncul dalam diri korban yang terjadi akibat adanya perbandingan kondisi ekonomi. Hal ini merupakan sesuatu yang tidak terhindarkan akibat adanya pengaruh globalisasi pada saat ini.

“Sebagai pembaca saya merasa bahwa banyak di antara kita yang berkontribusi dalam menghadirkan kemiskinan relatif ini dimana kenyamanan hidup, rumah, sepeda motor, mobil, bahkan gadget yang kita miliki telah berkontribusi pada pembentukan diri dan anggapan masyarakat terutama mereka yang berada di desa,” jelas Pdt. Ira.

Ketiga, rumah dan keluarga merupakan tempat aman bagi para perempuan korban perdagangan orang, namun sejumlah pengalaman yang dikisahkan dalam buku ini memperlihatkan realitas yang lain. Bahwa ancaman eksploitasi, kekerasan fisik, psikis dan seksual justru terjadi di dalam keluarga dan rumah sebagai lokus. Di sini anggota keluarga adalah pelaku kekerasan yang paling umum terhadap perempuan sehingga menjadikan rumah sebagai salah satu ruang yang paling berbahaya bagi perempuan.  Ini terjadi pada Nori, dan Mama Lali, dimana tubuh keduanya dianggap sebagai sumber uang dan materi lainnya.

Keempat, spiritualitas resiko. Yaitu, kesediaan atau keberanian mengungkapkan pengalaman teror. Tekad untuk menerima diri sendiri, mengampuni sesama dan berjuang untuk sembuh semata-mata lahir dari keberanian para korban untuk mengambil resiko guna mengklaim hak mereka untuk hidup sebagai manusia yang diciptakan sebagi citra Allah. Para korban kebanyakan mengakui pertolongan Tuhan yang terus bekerja di sepanjang kehidupan mereka. Dari proses penerimaan diri ini, para korban maupun para penulis mengokohkan identitas mereka sebagai familia dei/keluarga Allah.

“Buku ini saya rekomendasikan untuk dibaca oleh semua pihak. Suara para korban yang kuat yang dituturkan dan direfleksikan secara kuat pula oleh para penulis menjadi dasar berteologi yang sangat penting dari dunia Indonesia Timur khususnya NTT,” tutup Pdt. Ira.

Selaku Ketua DPRD NTT, Ir. Emelia Nomleni, melihat bahwa buku ini patut dibaca oleh sebanyak mungkin orang terutama pengambil kebijakan sebab membuka mata pemerintah tentang tanggungjawab negara dalam memenuhi kebutuhan dasar dan perlindungan kepada warga negara yang sejauh ini diakuinya belum maksimal dilakukan. Ia mengajukan empat rekomendasi yang perlu diperhatikan antara lain; pemberdayaan ekonomi, pemenuhan fasilitas dasar di desa, perbaikan regulasi, kepastian dokumen warga negara, edukasi migrasi aman, penegakan hukum dan ketersediaan krisis center.

“Saya berharap buku ini sampai kepada banyak orang. Tidak boleh terbatas pada orang tertentu,” kata Emi.

Sedangkan Herman Seran, juga menyoroti faktor ekonomi dan kemiskinan struktural sebagai biang kerok dari masalah perdagangan orang di NTT. Sebagai provinsi dengan pemeluk agama mayoritas Kristen, ia mengajak masyarakat dan pemangku kepentingan untuk tidak berhenti pada perilaku ritual melainkan berjuang untuk mengubah yang ritual menjadi spiritual.

“Mari kita berjuang bersama untuk mengubah tindakan ritual menjadi spiritual sehingga aktor-aktor baik mereka yang saat ini menjadi korban maupun regulator, terutama mereka yang ‘berdagang’ itu juga memiliki spiritualitas Kristen…. Kita perlu memperkuat ketangguhan/resilient masyarakat agar tidak menyerah pada keadaan.”

Majelis Sinode GMIT menyampaikan terima kasih kepada Mission 21 (badan misi Gereja Protestan Swiss), Jaringan Perempuan Indonesia Timur (JPIT), Penerbit BPK Gunung Mulia, Dr. Karen Campbell-Nelson (editor), dan semua penulis yang telah menghadirkan buku ini. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *