Relasi Universitas Dan Fakultas Teologi – Pdt. Dr. Andreas Yewangoe

www.sinodegmit.or.id, sinodeBagaimanakah relasi Universitas dan Fakultas Teologi? Apakah relasi itu sama saja dengan relasi fakultas-fakultas lainnya? Ataukah ada perbedaannya? Kalau beda di manakah perbedaannya?

Mari kita dengarkan yang dikatakan Prof. H. Jonker, Guru Besar Teologi di Universitas Utrecht, Belanda di tahun-tahun 1960-an -1970-an di dalam bukunya, Leve de Kerk, Nijkerk, 1969.

Universitas adalah suatu lembaga yang muncul dari budaya dan masyarakat, yang menyibukkan diri dengan penelitian (onderzoek) terhadap kebenaran, pengajaran (onderwijs) tentang kebenaran, dan pendidikan (opleiding) utk melayani masyarakat. Universitas adalah persekutuan kerja dari para dosen dan mahasiswa, di mana strukturnya ditentukan oleh tuntutan-tuntutan yang ditetapkan oleh penelitian pengajaran dan pendidikan serta relasi saling percaya-mempercayai, di mana hanya dengan melakukan itu pekerjaan tersebut dapat berhasil baik.

Ada banyak cara untuk mencapai kebenaran. Makanya didirikanlah berbagai fakultas dengan cara tertentu guna mencapai kebenaran di dalam kesatuan universitas.

Fakultas Teologi mempunyai beban untuk menyingkapkan kebenaran yang didasarkan atas Penyataan Allah. Sebagai demikian, fakultas Teologi mentransedensikan semua pencarian kebenaran oleh fakultas-fakultas lainnya. Atas alasan ini, fakultas Teologi menduduki tempat tersendiri yang independen di dalam universitas. Fakultas Teologi mempunyai metode dan kategori sendiri.

Watak transedental yang disingkapkan (openbaringswaarheid) itu dan kena-mengenanya dengan kehidupan pribadi dan perkembangan masyarakat mengharuskan Fakultas Teologi menjalin relasi dengan fakultas-fakultas lainnya (fakultas jurusan Alpha, Beta, Gamma) yang sendiri juga dengan cara mereka sendiri melakukan penelitian terhadap kebenaran.

Pada saat yang sama Fakultas Teologi menjalin relasi dengan gereja karena kepada gerejalah perbendaharaan dari kebenaran yang disingkapkan itu dipercayakan. Tanpa relasi itu, fakultas Teologi diancam bahaya tergelincir ke dalam suatu filsafat tertentu atau ideologi dari suatu periode budaya yang menguasai dan mendominasi atau suatu struktur masyarakat.

Fakultas Teologi meneliti Kebenaran (K huruf besar) dengan cara ilmiah-kritis demi kepentingan gereja, universitas, dan masyarakat. Pekerjaan itu dilakukannya secara independen dan bebas dalam berbagai jurusan dan di dalam konfrontasi dengan cara-cara lain dari kebenaran yang berasal dari wilayah budaya kita dan budaya-budaya wilayah lainnya.

Secara isi, fakultas Teologi sibuk dengan penelitian terhadap struktur penyataan (teologi sistimatika), terhadap bagaimana kebenaran itu diungkapkan dan dipeliharakan selama berabad-abad (teologi historis), terhadap interpretasi keterangan-keterangan Alkitab (teologi eksegetis), terhadap konfrontasi dengan agama-agama lain (sejarah agama-agama), dan bentuk-bentuk lain dari ilmu pengetahuan rohani ( filsafat-teologi), dan bagaimana kebenaran itu ada di dalam kenyataan, ekklesia, dan masyarakat (teologi praktika).

Teologi yang hidup dari kepenuhan kebenaran penyingkapan, mencari kesatuan dari aspek-aspek Kebenaran yang berbeda-beda dalam perlawanannya terhadap pemutlakan yang bersifat berat-sebelah, mencari kesatuan dari kontinyuitas Kebenaran selama berabad-abad dan bagaimana membahasakannya dalam periode budaya di situasi yang menantang pada masa lampau mau pun masa kini, mencari kesatuan dari dimensi-dimensi kebenaran yang vertikal dan horizontal, mencari kesatuan dari Kebenaran ( K huruf besar) dan kebenaran empiris dan kenyataan empiris.

Pandangan Prof. Jonker ini telah ditulis lebih dari 40 tahun lalu. Selama itu telah terjadi pergeseran-pergeseran di dalam dunia teologi di dalam dia memandang dirinya dan relasinya dengan universitas. Namun kebenaran-kebenaran hakiki bagaimana mestinya relasi itu dijalin dan terjalin tidak berubah.

Tulisan ini juga saya buat sebagai ucapan selamat kepada Universitas Kristen “Artha Wacana” Kupang yang pada 4 September 2020 lalu merayakan Lustrum VII nya. Sekaligus sebagai penghargaan terhadap Fakultas Teologi (dahulu AThK, STThK) yang telah merelakan dirinya sebagai “pintu masuk” bagi berdirinya UKAW. Tanpa kerelaan itu kita tidak dapat membayangkan adanya Universitas Kristen “Artha Wacana” yang megah sekarang ini.

Dirgahayu UKAW Kupang!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *