Perjuangan Untuk Menjadi Doktor Teologi – Pdt. Dr. Andreas Yewangoe (3)

Pdt. Dr. Andreas Yewangoe dan istri Petronella Yewangoe-Lejloh

www.sinodegmit.or.id, Setelah melalui masa-masa yg sulit ini proses pembacaan dan percakapan buku menjadi lebih lancar. Prof. Veenhof, Pembimbing saya memberi tahu setelah kurang-lebih dua tahun bergumul untuk memilih topik skripsi. Andaikata ini selesai dan dilakukan ujian, saya akan mencapai gelar Drs. Teologi.

Saya mulai berpikir keras. Pada waktu itu memang sangat populer terutama di Asia yang dìsebut teologi kontekstual. Kendati ini hanya skripsi saya dapat memperkembangkannya kemudian sebagai disertasi apabila kesempatan untuk itu ada. Saya tertarik dengan perkembangan teologi di India di mana proses kontekstualisasi dan inkulturasi sangat menonjol sejak abad-abad yang lalu. Mereka sdh terbiasa berteologi di tengah-tengah konteks Hinduisme di mana terjadi interaksi intens antara Injil dan Hinduisme. Mereka punya banyak tokoh. Salah satunya adalah Vengal Chakarai yang menulis Jesus The Avatara. Ia teolog dari akhir abad ke-19. Pandangannya mengenai Yesus dalam konteks Hinduisme di India dapat menjadi model bagi teologi inkarnasi bukan saja di India tetapi juga di Asia pada umumnya. Prof. saya agak “surprised” dengan pilihan saya ini yang keluar dari pakem. Namun beliau menyetujuinya juga.

Singkat ceritera skripsi itu jadi dalam tempo 3-4 bulan. Ujiannya berlangsung sederhana saja. Dihadiri oleh 3 Guru Besar sebagai penguji antara lain Prof. Mr. Dr. D.C. Mulder. Dia dulu pernah menjadi dosen saya di STT Jakarta dalam mata kuliah Pengantar Filsafat. Ujiannya lancar dgn hasil baik. Ijazahnya langsung ditandatangani di situ dan diserahkan kepada saya. Tidak ada upacara wisuda dgn pakai toga seperti lazimnya di Indonesia. Sederhana saja.

Kawan-kawan dan kenalan sudah menunggu di luar membawa bunga sebagai tanda ucapan selamat. Antara lain yang hadir menanti di luar ruangan Prof. Dr. J. Verkuyl. Dia juga Guru Besar di VU dalam mata kuliah Misiologi. Di Indonesia dulu dia menulis banyak sekali buku termasuk seri Etika Kristen. Di Belanda juga dia tetap menulis banyak buku. Salah satunya yang terkenal adalah, Inleiding in de nieuwere Zendingswetenschap (Pengantar Ilmu PI yang lebih baru). Mengapa “lebih baru”? Karena pendahulunya dulu, Prof. J.H.Bavinck (beda dgn H. Bavinck yg dogmatikus) telah menulis Inleiding In de Zendingswetenschap. J.H.Bavinck juga pernah di Indonesia.

Biasanya wisuda macam itu dirayakan sendiri-sendiri saja. Teman-teman saya mantan misionaris di Sumba mengajak saya dan istri ke restoran Indonesia merayakan peristiwa penting ini.

Pembimbing saya menganjurkan agar saya melanjutkan saja studi utk menulis disertasi. Jadi tidak perlu dulu pulang ke Indonesia. Namun pihak Zending yang mensponsori saya berpendapat lain. Mereka berpendapat belum ada perjanjian sebelumnya untuk terus menulis disertasi. Jadi pulang dulu untuk mengajar di Kupang. Nanti baru kembali lagi ke Belanda sesudah beberapa tahun. Pembimbing saya kelihatannya sedikit kecewa. Di hadapan Sekretaris Zending dia meminta agar tidak lebih dari 3 tahun sudah harus kembali ke Belanda menulis disertasi. Istilahnya dalam bahasa Belanda, Promotie Onderzoek. Dengan janji itu saya kembali ke Indonesia.

Namun Zending masih meminta saya bertahan lagi di Belanda selama 5-6 bulan untuk bekerja di jemaat Belanda. Ini dibuat dalam rangka kerjasama dengan GKS dalam program yang disebut, “wederzjidze assistentie” (saling membantu). Dalam kerangka ini saya masih tinggal selama 5-6 bulan untuk bekerja di jemaat Belanda.

Sesuai dengan kesepakatan antara Zending dan GKS saya masih tinggal di Belanda selama 6 bulan. Saya bekerja di jemaat Zwolle: berkhotbah, memimpin katekisasi, perkunjungan rumah tangga dan lain-lainnya. Setelah 6 bulan saya dan keluarga kembali ke Kupang pada 1976. Saya kembali ngajar. Sementara itu ATh Kupang sudah menjadi Sekolah Tinggi Teologi. Saya diangkat lagi menjadi Rektor.

Surat dari pembimbing saya di Belanda tiba menanyakan kapan saya melanjutkan lagi sesuai dengan perjanjian. Di Indonesia sendiri a.l. Pak SAE Nababan juga mendesak. Malah ia mengambil prakarsa bertanya ke Zending. Namun karena saya rektor tidak mungkinlah saya melepaskannya begitu saja. Tidak mungkin sesuai dengan perjanjian untuk tidak lebih dari 3 tahun. Saya mesti menyelesaikan tugas rektor saya. Maka baru pada 1984 saya dan keluarga kembali ke Belanda. Kali ini kami 4 orang karena putri saya lahir ketika kami di Kupang. Namun Zending memikul semua biaya perjalanan dan tinggal kami di Belanda. Kami tinggal di Hospitsium di Buitenveldert, dekat dengan VU. (bersambung).

*Artikel ini dikutip dan diedit seperlunya dari akun facebook Andreas Anangguru Yewangoe, atas ijin penulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *